Ilustrasi untuk Pesta Boneka #5. (Foto: Renjana Widyakirana)

 

Semua diawali dengan sosok perempuan tengah mempersiapkan secangkir kopi. Dia kemudian menyuguhkan kopi itu kepada kekasihnya. Di tengah gurauan bisu yang dialunkan musik Betawi, terlihat kebahagian penuh cinta.

Diakhiri oleh takdir. Sang lelaki dikirim belajar ke luar negeri. Lima tahun lamanya. Surat menjadi tali penghubung dua benua.

Mereka berjanji untuk sabar menunggu. Tidak tahu menahu akan tragedi yang menunggu.

Dalam rangka fundraising untuk Pesta Boneka #5, Papermoon Puppet Theatre kembali mempersembahkan “Secangkir Kopi dari Playa”, karya yang berdasarkan kisah nyata cinta Pak Wi dan Bu Widari di tengah masa kelam Indonesia.

Adalah kelima kalinya Papermoon menggelar “Secangkir Kopi dari Playa”. Ada beberapa perubahan dari empat pertunjukan di tahun-tahun sebelumnya. Selain ada beberapa scene baru, props yang digunakan juga mengalami perubahan: meja-meja dengan roda dan beberapa props tambahan.

“Setiap tahun karya ini dipentaskan memang akan ada perubahan,” ujar Ria, artistic director “Secangkir Kopi dari Playa”. “Karena cerita yang menjadi latar belakang karya ini juga bertambah dan berkembang.” Contohnya, kehadiran mesin jahit yang dibeli Pak Wi dan Bu Widari yang berjanji untuk siap hidup susah bersama.

Boneka dalam karya Papermoon Puppet Theatre yang lain juga dipamerkan. (Foto: Renjana Widyakirana)
Boneka dalam karya Papermoon Puppet Theatre yang lain juga dipamerkan. (Foto: Renjana Widyakirana)

 

Lokasi pementasan karya ini pun berbeda-beda. Dimulai dari sebuah toko antik, warung kopi, perpustakaan, rumah tua, hingga sekarang adalah sebuah ruangan galeri di Edwin’s Gallery. Dalam ruangan white cube yang lebih luas dari lokasi-lokasi sebelumnya, pergerakan boneka dan para dalangnya pun menjadi lebih dinamis.

Mengapa “Secangkir Kopi Dari Playa”?

“Karena awareness akan Papermoon meningkat setelah film AADC2. Kami jujur saja,” gurau Ria. “Banyak orang yang datang pada kami ingin menonton pertunjukan yang ditonton oleh Cinta dan Rangga.” Papermoon menerima kurang lebih 700 aplikasi setelah seminggu pembukaan aplikasi untuk tiket yang awalnya hanya ada 500 tempat.

Bagi yang tidak berhasil mendapat tiket untuk menonton, mereka dapat mengunjungi Edwin’s Gallery pada hari kerja (Senin-Jumat), pada 3-9 Oktober 2016, untuk melihat pameran dan panggung serta props pertunjukan. Selain itu, ada pula pop-up shop yang menghadirkan beberapa merchandise Papermoon, dari notebook, tote bag, kaus, hingga DVD pertunjukan karya Papermoon, termasuk “Secangkir Kopi Dari Playa”.

Anggota Papermoon Puppet Theatre untuk pementasan Secangkir Kopi Dari Playa. (Foto: Renjana Widyakirana)
Anggota Papermoon Puppet Theatre untuk pementasan “Secangkir Kopi dari Playa”. (Foto: Renjana Widyakirana)

 

Seluruh hasil penjualan tiket ini akan menjadi dana Pesta Boneka #5, yakni rangkaian Festival Teater Boneka Internasional dua tahunan yang digelar dan diinisiasi secara mandiri oleh Papermoon sejak 2008.

Tahun ini, Papermoon memilih tema “HOME”, yang juga adalah isu yang tengah hangat dibicarakan secara global. Bagaimana manusia harus terusir dari “rumah” mereka sendiri, merasa tidak aman di tanah airnya, dan bagaimana manusia harus terpaksa berpindah untuk mencari “rumah” barunya.

Pesta Boneka #5 akan digelar pada 2-4 Desember 2016, di dua lokasi, yakni PPKH UGM dan Desa Keplek. Selain pertunjukan, para pengunjung dapat menikmati berbagai loka karya dan pameran, serta program “When Puppeteers Cook”. Seluruh peserta PESTA BONEKA #5, yakni berbagai seniman manca negara, akan memasak untuk pengunjung.