"You" oleh Hauritsa (90x90 cm, acrylic on canvas, 2007)
“You” oleh Hauritsa (acrylic on canvas, 2007)

Berbagi dalam seni rupa agak jarang dilakukan. Kehadiran media sosial saat ini bisa jadi memudahkan namun dengan banyak resiko termasuk plagiarisme. Tidak banyak seniman yang mempublikasikan karya-karyanya di media sosial. Namun, perlu diakui bahwa media tersebut merupakan sebuah media baru untuk memamerkan karya-karya seni.

Hal ini yang dilakukan oleh Hauritsa, seorang seniman kelahiran tahun 1977 di Jakarta. Seniman yang tergabung dalam komunitas seni alternatif Ruang Rupa dan Jakarta Wasted Artists ini aktif mengunggah karya-karyanya ke media sosial Facebook, Twitter, Instagram dan blogging platform Tumblr, Blogspot; tanpa watermark.

Menurutnya, dengan mengunggah gambar-gambarnya, mereka jadi tahu dan semakin mengenal gaya desainnya. “Bisa dibantu lewat teman-teman yang tahu ini karya saya. Kalau misalnya ada yang plagiat atau apa. Sejauh ini teman-teman tidak menjadikan hukum di dunia maya jadi patokan. Kalau mau copy ya silakan, toh kita tahu siapa yang buat.”

Hauritsa mengunggah karya-karyanya dengan tujuan untuk berbagi dan memamerkan. “Memang kalau niatnya untuk dibeli, pasti saya tidak bakal posting di Instagram.” Namun, beberapa kali ada yang menawarkan untuk beli karya yang diunggah di Instagram. Biasanya saat itu barulah Hauritsa mencetaknya berupa poster.

Karya-karyanya berupa lukisan di atas kanvas sempat muncul dalam Sidharta Auctioneer beberapa kali pada 2010, 2012 dan 2013, termasuk dalam kategori Artfordable. Beberapa kali, Hauritsa melakukan residensi ke luar kota dan luar negeri mewakili Artlab Ruang Rupa.

“Nanar” oleh Hauritsa (digital print, 2014)

Karakter karyanya bisa dibilang dipenuhi pandangannya secara pribadi tentang banyak hal. Komposisinya merupakan simbol yang simpel tapi bermakna dalam. Karya-karya yang dibuatnya beberapa tahun terakhir ini lebih banyak dari komputer, tapi tidak jauh berbeda dengan karakter sebelumnya. Saat ini Hauritsa banyak memasukkan komponen semacam asap yang bermakna sebagai harapan.

Belakangan, Hauritsa banyak terinspirasi dari lagu-lagu seperti Pure Saturday, The Beetles, dan sebagainya. Terakhir, dia berpartisipasi dengan seniman lain dalam sebuah artwork project diadakan oleh Ruru Shop bekerjasama dengan Naif. Pameran yang berjudul “Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada Di Seluruh Dunia” ini menampilkan karya-karya yang terinspirasi dari berbagai judul lagu Naif. Hauritsa mewakili lagu “Nanar”.

Dengan sejumlah karya tak terhitung yang sudah diunggah ke media sosial, Hauritsa sebenarnya sudah bisa membuat pameran tunggal. Namun, dia masih ragu dengan konsepnya. “Masih bingung antara ingin berhubungan sama publik atau personal. Mungkin karyanya banyak, tapi content-nya belum ada. Visualnya udah kebayang tapi content-nya belum.” Menurutnya, saat ini lebih baik jika visualnya belum ada tapi content-nya sudah ada, sehingga bisa ditentukan mau bikin apa.

Walau begitu, media sosial bisa menjadi sebuah ruang pamer baru bagi Hauritsa. Dengan segala pertimbangannya, hal itu juga bisa dilakukan oleh para lulusan sekolah seni yang masih mencari arah dalam karya-karyanya atau bahkan untuk sekadar berbagi karya. Karena seni untuk semua.

Silakan cek “ruang pamer” Hauritsa dalam Instagram dan Tumblr.