Refreshment karya Ugy Sugiarto, akrilik di atas kanvas 160 x 110 cm, 2011-2013
Refreshment karya Ugy Sugiarto, akrilik di atas kanvas 160 x 110 cm, 2011-2013 (Foto: Dok.Pribadi)

Berlatarbelakang kehidupan agrarisnya, Ugy sering mengamati petani berkubang dalam lumpur yang aktivitasnya terganggu karena keberadaan plastik.

Beberapa bulan lalu, kawan redaksi Sarasvati menanyakan nama seorang perupa pada saya. Dalam percakapan daring itu tertera Ugy Sugiarto. Saya bilang, hanya tahu nama karena sempat melihat karyanya ambil bagian dalam pameran Biennale Jateng 2016. Tak ada kesempatan bertemu, sampai akhirnya ia menanyakan lagi apakah bersedia jika mengulas profil Ugy Sugiarto.

Singkat cerita, saya mengiyakan. Banyak informasi menarik yang saya temukan tentang Ugy di dunia maya. Mulai dari kemampuan teknis realis Ugy yang mengagumkan sampai karyanya yang melesat dengan harga tinggi di balai lelang. Malam itu, saya berjanji bertemu Ugy di sebuah warung kopi di selatan Yogyakarta.

Baca juga Mempertanyakan Ingatan Lewat “Iconic” Yuswantoro Adi

Saya mendengar nama Ugy masuk sebagai seniman partisipan dalam Beijing Biennale 2017. Ia terlibat dalam sebuah site specific project yang dikuratori Kuss Indarto. Perupa asal Wonosobo ini tidak pernah menyangka bahwa karier kesenimanannya dapat berjalan sejauh ini. Dengan jujur ia menceritakan bahwa kondisi keluarganya jauh dari berkecukupan, pun masa kecilnya diwarnai praktik kekerasan.

Hal ini kemudian meninggalkan trauma tersendiri bagi Ugy, yang kemudian ia salurkan dengan berkesenian. Jauh sebelum ia diidentifikasi publik melalui ciri lukisan tentang plastik-plastik yang membungkus tubuh dan lumpur, seniman otodidak ini telah melukis beragam subjek benda sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.

Ugy Sugiarto
Ugy Sugiarto (Foto: Dok.Pribadi)

Awal 1990-an ia pindah ke Yogyakarta untuk nyantrik di sanggar lukis milik seniman Wahyu Utama. Dari sana, ia mengenal nama-nama seperti Nyoman Gunarsa, Jeihan Sukmantoro, dan Basuki Abdullah. Dapat dikatakan proses dan pergelutan kreatif Ugy berlangsung di sini. Namun, berbeda dari banyak rekannya yang memutuskan pindah ke Yogyakarta, ia tetap memilih tinggal di Wonosobo.Tubuh, plastik dan lumpur adalah tiga kata yang menjadi penanda karya Ugy.

Ia berpijak pada “realisme plastik” sebagai capaian estetis tertingginya. Ugy menganggap bahwa ketika ia mampu menggambar plastik seidentik mungkin, maka pada titik itulah ia memang bisa menggambar. Seorang tokoh intelektual Islam Timur Tengah Muhammad Iqbal mengungkapkan bahwa manusia kerap mencari bentuk-bentuk ideal spiritual di lingkungan material agaknya berlaku dalam praktik Ugy. Pada metafor plastik pula, Ugy menemukan titik transendentalnya dengan Tuhan.

Selain itu, Ugy juga melihat plastik sebagai temuan mutakhir dalam peradaban manusia modern. Ia memiliki sifat transparan sekaligus menunjukan dualisme realitas, di satu sisi bermanfaat namun merugikan secara ekologis. Tubuhnya sendiri ia analogikan sebagai media karena bisa mewakili idealisasi estetik yang diharapkan. Sementara lumpur, ia senang menyebutnya sebagai negasi plastik.

Baca juga Isu Ekologi dalam Praktik Seni Rupa di Bali

Antara plastik dan lumpur secara ekologis terdapat pertentangan yang bersifat sintetis (organik vs anorganik). Berlatarbelakang kehidupan agrarisnya, Ugy sering mengamati petani berkubang dalam lumpur yang aktivitasnya terganggu karena keberadaan plastik. Sekali lagi, plastik menjadi belenggu dari lumpur yang merupakan simbol kerja keras manusia.

Bagi saya teknik realis Ugy hampir menyamai kamera. Sekilas bila tidak memperhatikan, kita bisa saja terkecoh bahwa karya Ugy adalah karya fotografi. Ugy sangat baik dalam melenturkan kuas membentuk butiran air, genangan lumpur, keriput pipi, dan kerutan pada plastik transparan. Dalam lukisannya, ia acapkali menggambarkan sosok-sosok yang ingin membebaskan diri dari belenggu plastik yang menyelubunginya, seperti dalam lukisan bertajuk Could be You, Could be Ne, Free Will,  dan I want to Break Free.

Mystery karya Ugy Sugiarto, 200 x 150 cm oil on canvas, 2007
Mystery karya Ugy Sugiarto, 200 x 150 cm oil on canvas, 2007 (Foto: Dok. Pribadi)

Dalam seri karya lumpur, Ugy banyak mengambil perempuan berwajah oriental sebagai modelnya. Dari sini, saya usil menyelidiki apakah ini obsesi atau ketertarikan visual semata. Rupanya Ugy memang tertarik pada paras dan perawakan perempuan Jepang yang menurutnya unik, seperti terlihat dalam karya Refreshment, Jewel in The Mud sampai yang teranyar ia sertakan dalam Beijing Biennale 2017 bertajuk The Meaning of Friend.

Angin baik dalam karier kesenimanan Ugy hadir pada medio 2007 saat ia mengikuti kompetisi lukis Mystery of Borobudur yang mengantarkannya sebagai finalis. Dari sanalah karya Ugy mulai direspon oleh kolektor. Salah satu karyanya yang bertajuk Mystery terjual sebesar $11,661 di ajang AAG: Arts & Antiques Group oleh Larasati Auction tahun 2008, terhitung sangat tinggi bagi seniman muda kala itu. Selang dua tahun kemudian, Ugy menggelar pameran tunggalnya di Mon Decor Jakarta dengan tajuk Bodyscape yang juga mendapat atensi besar dari pasar seni rupa nasional. Setelah itu, hampir ia tak pernah absen dalam berbagai kesempatan pameran kelompok hingga kini.

Baca juga Tentang Mega-Event Seni yang Kurang Dikenal

Pengalaman menarik dialami Ugy saat berpartisipasi dalam Beijing Biennale 2017 ini. Pihak penyelenggara memintanya menghapus latar belakang karyanya yang dianggap mengapropriasi Forbidden City di Cina. Padahal, ia tak bermaksud apa-apa dan justru menganggap itu merupakan obyek yang adiluhung. Sebagai bentuk negosiasi, ia pun menggantinya dengan kapal Laksamana Cengho.

Dengan jujur, pria kelahiran 49 tahun silam ini tidak mengetahui bagaimana proses sehingga karyanya bisa dikoleksi oleh banyak kalangan dan masuk ke bursa lelang. Ia menyebutkan nama-nama kolektor yang pernah membeli karyanya, namun selebihnya ia memilih tidak tahu atau tidak mau tahu. “Prinsipnya mengalir saja, asal di sana ada niat yang kuat pasti pintu terbuka lebar,” terang Ugy mengutip pepatah yang diamininya.

Artikel Menyingkap Realisme Ugy Sugiarto dimuat di majalah SARASVATI edisi November 2017.