Sutradara film Turah, Wicaksono Wisnu Legowo
Sutradara film Turah, Wicaksono Wisnu Legowo (Foto: Dok. Wicaksono Wisnu)

Diskusi mengenai sejauh apa hidup mengimitasi seni atau sebaliknya memang jauh dari kata usai. Namun, hidup terus berjalan dan tak dipungkiri bahwa karya seni acap kali adalah hasil dari catatan kita mengenai kehidupan.

Seperti yang dilakukan oleh sutradara film Turah, Wicaksono Wisnu Legowo. Film-film karya Wisnu merupakan hasil catatannya tentang kehidupan sekitar yang memang ia alami. Turah, film yang bercerita tentang kerasanya persaingan hidup masyarakat di kampung Tirang, Tegal, baru-baru saja terpilih menjadi wakil Indonesia untuk Piala Oscar 2018.

Sebelum Turah, karya Wisnu yang berjudul Tobong pernah mendapat penghargaan spesial dari dewan juri Festival Film Indonesia 2006. Karya lainnya, Ibu dan Anak-anakku masuk nominasi film pendek terbaik di Festival Film Indonesia 2008.

Baca juga Muslihat Yusi Avianto

“Saya suka dengan film-film yang narasinya dekat dengan keseharian, film-film yang membuat saya gelisah. Perkara bagus atau tidak, itu selera”, ujar Wisnu yang mengaku sebagai pengabdi senda gurau.

Kepada Sarasvati, Wisnu bercerita tentang tujuh film Indonesia terbaik sepanjang masa, yang menurutnya berhasil. Selain karena narasinya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, ke-tujuh film ini juga menggambarkan sisi komedi dari sebuah tragedi.

1. Drakula Mantu (Benyamin Kontra Drakula) – Nya Abbas Akup, 1974

http://jateng.tribunnews.com/2017/09/25/wakil-indonesia-pada-ajang-piala-oscar-2018-ini-kata-sutradara-dan-pemain-film-turah
Drakula Mantu Foto: Istimewa

Saya selalu suka menonton film ini. Bayangkan saja, ceritanya tentang Benyamin pengangguran yang bersedia menjadi tukang untuk memperbaiki rumah tua yang rusak, ternyata rumah tuanya penuh hantu.”

2. Cintaku di Rumah Susun – Nya Abbas Akup, 1987

Cintaku di Rumah Susun
Cintaku di Rumah Susun (Foto: Istimewa)

“Tinggal di lantai empat sebuah rumah susun, membuat film ini terasa dekat sekali dengan saya. Tiap lantai memiliki karakter penghuni yang berbeda dengan masalah yang unik-unik. Adegan nenek-nenek  mencuri bir di awal film sungguh memorable. Saya merasa kedekatan dengan film ini karena saya pernah juga tinggal di rumah susun.”

3. Mana Tahan – Nawi Ismail, 1979

Mana Tahan
Mana Tahan (Foto: Istimewa)

“Menjadi perantau mengajarkan banyak hal, salah satunya cara menyiasati diri supaya bisa beradaptasi namun tidak melupakan dari mana saya berasal. Mana Tahan menggambarkan perasaan-perasaan menjadi perantau dengan sangat baik.”

Baca juga “Membedah” Sosok Chairil Anwar Lewat Empat Perempuan Istimewa Dalam Hidupnya

4. Saur Sepuh (Satria Madangkara) – Imam Tantowi, 1988

Saur Sepuh
Saur Sepuh (Foto: Istimewa)

“Brama Kumbara mengendarai Rajawali sakti yang sangat besar, menakjubkan!”

5. Naga Bonar – MT Risyaf, 1986

Naga Bonar
Naga Bonar (Foto: Istimewa)

“Buat saya, karakter Jenderal Naga Bonar tidak ada duanya! Adegan dia mencuri jam menunjukkan bahwa siapa saja bisa jadi pencuri.”

6. Titian Serambut Dibelah Tujuh – Chaerul Umam, 1982

Titian Serambut Dibelah Tujuh
Titian Serambut Dibelah Tujuh (Foto: Istimewa)

“Di awal film, kampung diperlihatkan selalu berkabut namun bersamaan dengan akhir cerita, kampung menjadi cerah dan bersih dari kabut. Ini adalah bahasa film yang menurut saya sangat baik.”

Baca juga Sebuah Refleksi dari Kompleksitas Jiwa David Gheron Tretiakoff

7. Heboh – Nya Abbas Akup, 1954

Nya Abbas Akup, Bapak Film Komedi Indonesia
Nya Abbas Akup, Bapak Film Komedi Indonesia (Foto: Istimewa)

“Film pertama salah satu sutradara Indonesia yang saya suka, jenius!”penutup_small