Deni Ramdani Pemenang
Deni Ramdani dan karyanya "0 Derajat" (Foto: Ester Pandiangan)

Deni Ramdani mengaku tidak terlalu nyaman dengan galeri besar. Malah dia lebih memilih berkesenian di ruang terbuka sehingga lebih bebas mengekspresikan jiwanya. Diskusi-diskusi dengan teman-teman aktivis, sedikit banyak telah menjadi sumber inspirasi yang besar. Apalagi masa-masa kuliahnya dulu, ketika iklim 1998 masih sangat kental, mau tak mau euforia tersebut terbawa dalam karya-karyanya.

“Teman-teman sering ngobrol tentang Nietzsche, Karl Marx, mengenai isu-isu pergerakan dan ini sering menjadi bahan obrolan kami bertukar pikiran,” cerita Deni kepada Sarasvati (21/10). Tidak hanya lingkungan pergaulan yang membuat Deni berpikiran kritis mengenai lingkungan dan persoalan sosial, pengalaman hidupnya tinggal di Kampung Ciharalang yang sering bersisian dengan konflik tanah membuat Deni memiliki pandangan yang kritis terhadap isu-isu terkait.

Baca juga Masa Depan Ingatan

Kemenangannya di Bandung Art and Contemporary Award #5 lewat temanya “00” tak lain juga mengangkat persoalan yang dihadapi tempatnya tinggal. Lahan-lahan yang dibeli oleh pihak-pihak luar untuk dibangun sebagai kawasan real estate sehingga penduduk setempat kehabisan lahan yang tertinggal hanya kesedihan, mengingat masa-masa lalu ketika materialisme belum menjadi “agama”.

Isu ini tergambar lewat karyanya yang menampilkan kantungan air bening menggantung, lengkap dengan ikan-ikannya. Namun, kantungan tersebut bocor dan air menitik setitik demi setitik ke tanah yang ada di bawahnya. Bagaimana kalau air tersebut habis? Tentu saja ikan-ikan yang menjadi perlambang keluarga Deni dan penduduk tempat tinggalnya bakal mati juga.

Ide sederhana namun mengandung makna yang dalam ini membuat para juri menjatuhkan pilihan pemenang kepada seniman yang juga berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah internasional di Bandung ini.

Bila melihat material-material yang diangkat oleh finalis lainnya yang sarat teknologi dengan pengemasan yang apik nyentrik, Deni sendiri tidak pernah membayangkan kalau dia menjadi unggulan pertama.

0 Derajat karya Deni Ramdani (Foto: Ester Pandiangan)
0 Derajat karya Deni Ramdani (Foto: Ester Pandiangan)

“Saya tercenung melihat karya Etza yang menggunakan material sendok kemudian ada audionya, lalu karya Cynthia yang menampilkan hitungan nafas yang ditahan, sesuatu yang dekat tapi tidak terpikirkan oleh saya menjadi sebuah karya,” tambah Deni.

Selain dua karya yang menjadi unggulan ketiga dan kedua tersebut, Deni juga memberikan apresiasi terhadap karya Ricky Janita yang berjudul “World Wide Web Waste” yang menampilkan tujuh layar kanal vertikal yang disusun berkeliling yang menunjukkan fenomena masyarakat sebagai korban sampah teknologi.

World Wide Web Waste karya Ricky Janitra (Ester Pandiangan)
World Wide Web Waste karya Ricky Janitra (Ester Pandiangan)

Ada banyak karya yang diakui Deni menggunakan teknologi canggih, sesuatu yang belum tersentuhnya dan itu menjadi catatan tersendiri dan pengalaman berarti buatnya. Deni sendiri menganggap ruang berkesenian sebagai ajang mengekspresikan diri dari kegelisahan-kegelisahan dan bentuk protes terhadap sebuah isu lewat cara yang santun.

Baca juga Dua Abad Politik Seni di Indonesia

Ketika dia melihat sebuah masalah dan belum ada solusi untuk itu, setidaknya dengan menunjukkan sebuah karya dan menampilkannya di ruang umum, ada pertanyaan mengenai isu tersebut. Ada dialog mengenai  bagaimana dan mengapa.

Pertanyaan dan diskusi mengenai problem tersebut akan memberikan kesadaran kepada orang-orang kalau situasi tersebut sedang terjadi lho. “Tentang apakah ada tindakan atau tidaknya, tinggal menunggu waktu saja. Mungkin tidak hari ini tapi bisa besok, lusa, semuanya adalah proses,” tutupnya.