Produk-produk Threadapeutic. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Untuk menjaga keoriginalan bahan mentahnya, Hana tidak melakukan modifikasi apapun pada kain-kain perca tersebut selain dicuci untuk menjaga kebersihan.

Threadapeutic milik Nagawati Surya adalah salah satu brand yang mewakili metode upcycling.

Semuanya diawali ketika Nagawati Surya diminta oleh sepupunya, Dina Midiani, Direktur Indonesia Fashion Week pada saat itu, untuk membuat souvenir untuk Indonesia Fashion Week 2015. Pada saat itu, wanita yang ramah dipanggil Hana ini sudah mulai belajar mengolah kain bekas. Hana mengumpulkan kain sisa desainer, lalu diolahnya menjadi tas untuk dibagikan kepada wartawan. Dari sana lah brand  Threadapeutic lahir.

Nagawati Surya. (Foto: Jacky Rachmansyah)
Nagawati Surya. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Yang menjadi kekhasan produk Threadapeutic adalah tekstur kainnya yang terlihat seperti kain tenun. Kain-kain perca tersebut disusun, dijahit rapat, digunting, lalu disisir dengan sikat hingga tampak berbulu. Tehnik ini dikenal dengan nama faux chenille. Produk-produk yang dihasilkan oleh Threadapeutic kebanyakan berbentuk aksesoris, seperti tote-bags, sarung laptop, pouch, scarf, hingga hiasan dinding.

Memang, secara visual, mungkin produk Threadapeutic tidak bisa dikategorikan spesial. “Bentuk produk saya simple, teknik ini juga banyak orang yang menggunakan,” ujar Hana. “Yang membuat produk Threadaputic spesial adalah karena saya memakai kain perca. Bahan bekas yang tidak ada nilainya lagi saya olah menjadi sebuah produk dengan nilai yang tinggi.”

 

Ulasan lengkap Dari Perca Menjadi Tas Bernilai Tinggi dapat dibaca di majalah SARASVATI edisi Mei 2017