Lugas Syllabus. (Foto: Istimewa)

Di tangan Lugas, parodi adalah cara menyampaikan kritik, tidak sekadar blank parody.

Nama Lugas Syllabus sedang moncer di beberapa perhelatan seni rupa, pasar maupun bukan, dua tahun belakangan. Seniman kelahiran Pagar Alam, Sumatera Selatan ini termasuk salah satu seniman Indonesia yang karyanya sedang laris di bursa seni saat ini. Tapi ini bukan soal penjualan semata.

Di bulan kedua 2017 ini, Lugas menggelar pameran tunggalnya di Filipina. Di sana ia akan menyuguhkan tujuh lukisan, satu patung, satu karya instalasi, dan satu proyek mural di bawah tema “Natural Born Worker”. Pameran yang digelar di Finale Art, Makati ini dikuratori Patrick Flores.

 

“Banana is the Key”, 150X200 cm, acrylic on linen, 2016 -2017. (Foto: Istimewa)

 

Kita masih bisa menemukan satire jenaka pada karya-karya Lugas, dikemas dalam perpaduan simbol yang dipinjam dari budaya pop, mitologi, dan fabel. Di lukisan berjudul Golden Prayer, misalnya, Lugas menggambarkan sekelompok kera yang sedang berdoa di depan tumpukan kulit pisang, teronggok di tanah tandus berbatu. Di belakangnya, berdiri kuil bergaya Yunani. Lugas seakan mengajak kita menertawakan orang-orang yang hanya mengandalkan doa tanpa usaha demi mendapatkan sesuatu.

Pada 2015, untuk pameran tunggal Lugas bertajuk “The Prophets” yang dihelat di Sangkring Art Project, Hendro Wiyanto menyebut karya parodi yang lain. “Di tangan Lugas, parodi tampaknya adalah cara menyampaikan kritik, tidak sekadar ‘blank parody’ (pastiche, kekosongan, kehilangan, meniru gaya-gaya yang sudah lampau atau bahkan mati).”

 

Ulasan lengkap Menawar Makna Parodi dapat dibaca di majalah SARASVATI edisi Februari 2017.