Pameran "Siklus Abu" oleh Tisna Sanjaya di Eramus Huis, Jakarta. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Sekali lagi, Tisna Sanjaya menggunakan teknik cetak tubuh. Ia menggulirkan wacana tanding terhadap keajegan kapitalisme, modernisasi, perusakan alam, hingga krisis sumber daya.

 

Selembar kelambu dibentangkan jadi saringan dan diikat pada empat pancang halu. Di sisi-sisinya, terdapat lisung dan dulang berisi beras, bubuk arang, merica, kayu manis, dan rempah-rempah lain. Sementara di bagian atas, gagang pancing dijadikan sangkutan plastik-plastik yang sudah dicoret-coret doa.

Beberapa orang menari ronggeng dan mengelilingi instalasi tersebut sambil melempari tubuh-tubuh yang terlentang di atas kanvas putih di bawah kelambu dengan beras dan bubuk-bubuk rempah yang ada. Kanvas putih pun penuh dengan warna oranye, hitam, cokelat, sedangkan bidang yang tertutup tubuh tetap putih apa adanya.

Lama-lama, orang-orang di kanvas itu berdiri dan ikut menari. Tak hanya itu, penonton pun lantas diajak ikut ngibing. Beberapa dari mereka, yang sejak awal hanya bersin-bersin karena menahan sengatan aroma rempah, masuk lingkaran, larut dalam suasana pembukaan pameran yang intens.

 

Pameran
Pameran “Siklus Abu” oleh Tisna Sanjaya di Eramus Huis, Jakarta. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Pertunjukan berjudul Seni Karuhun ini adalah hasil kolaborasi Tisna dengan seniman-seniman Komunitas Jeprut, Buligir, dan ronggeng dari Ciamis. Teknik cetak tubuh, yang dipakai di pertunjukan ini, merupakan salah satu teknik kesukaan Tisna Sanjaya.

Dulu, ia pernah melakukan hal serupa dengan abu sisa pembakaran buku-buku di Pasar Palasari. Waktu itu, Tisna mencurigai pembakaran pasar tersebut adalah kesengajaan beberapa pihak.

Kini, di ruang pamer Erasmus Huis Jakarta, dalam pameran tunggal berjudul “Siklus Abu” yang berlangsung 11 September – 30 Oktober 2016, Tisna memakai teknik tersebut untuk isu yang berbeda.

 

*Ulasan lengkap Dialog Kritis di Tengah Aroma Rempah dapat dibaca di majalah Sarasvati edisi Oktober 2016