Deng Guoyuan, "Noah's Garden II", uk 1160x650x320 cm, media aluminium alloy steel frame, mirros glass, kecil LED lighting, real and artifical plant and rocks, 2016. (Foto: Angelina Chairil)

 

Upaya menjelajahi eksplorasi yang dijalani budaya-budaya di Asia dalam upaya pencarian identitas, menuliskan kembali sejarah, maupun refleksi diri.

 

Mari perhatikan angka-angka ini: 58 karya seni, 19 negara asal partisipan, enam lokasi karya seni dipajang, dan 9 personel dalam tim kuratorial.

Angka-angka tersebut menggambarkan satu-satunya identifikasi yang konkret dari penyelenggaraan “Singapore Biennale 2016: An Atlas of Mirrors” (SB 2016). Selebihnya, pergelaran seni rupa yang berlangsung pada 27 Oktober 2016 – 26 Februari 2017 ini  dibangun dari tema, konsep, dan definisi bentuk yang  fluid, setiap aspek menyatu seperti gumpalan benang kusut. Mencoba memahami relasi setiap karya dalam SB  2016 seperti mengurai benang kusut ini: tidak mustahil tapi memerlukan waktu dan usaha yang panjang.

Namun demikian, daya tarik SB 2016 bisa dinikmati dengan pendekatan yang berbeda. Tidak harus mengikuti denah karya tersedia yang cukup rumit dari “atlas” rekayasa ini, mungkin pengunjung bisa memilih mengikuti insting panca indra mana yang lebih dulu terpikat oleh keadaan sekitar.

 

David Chan,
David Chan, “The Great East Indiaman”, 2400x500x1800 cm, media wood, welded steel and concrete, 2016. (Foto: Angelina Chairil)

Seraya memasuki gedung utama Singapore Art Museum contohnya, panca indra kita sudah dikonfrontasi oleh berbagai hal. Mulai dari kilau ratusan cermin bulat dari instalasi seniman Harumi Yukutake yang memenuhi salah satu dinding gedung, aroma intens ratusan batang dupa yang tergantung pada karya seniman Hemali Bhuta, bunyi getaran dan dengung dari instalasi multimedia Zulkifle Mahmod di galeri berikutnya, dan sebagainya.

 

Ulasan lengkap Wajah Sejarah Asia Pasifik di Singapore Biennale 2016 dapat dibaca di majalah SARASVATI edisi Desember 2016