Radhinal Indra. Male Female. 35x33 cm, 32.5x33.8 cm, acrylic-on metal, 2016.
Radhinal Indra. Male Female. 35x33 cm, 32.5x33.8 cm, acrylic-on metal, 2016.

Secara visual, karya Indra mampu menimbulkan interaksi dan memancing rasa penasaran pengunjung. Tak sedikit yang ingin melihat lebih dekat tiap detilnya.

Sebagai benda langit yang paling terang ketika malam datang, bulan menyimpan misteri tersendiri di balik pesonanya. Begitu pula yang diamini Radhinal Indra, yang menggunakan bulan sebagai objek pendekatan dalam pameran “Matter’s Matter”, 28 Oktober – 26 November 2017 di Ruci Art Space, Jakarta. Ada sebelas karya Indra yang bernarasi di pameran ini atas kurasi dari Roy Voragen.

Ketertarikan Indra pada benda langit sudah dimulai di usia belia, yang saat itu masih tinggal di Bima, Nusa Tenggara Barat. Baik keadaan alam maupun peran orang tua, sama-sama memberi keleluasaan seniman kelahiran 1989 yang menempuh pendidikan desain grafis di Institut Teknologi Bandung ini dalam mengulik seputar astonomi.

Radhinal Indra_Alignment_uk 150x270 cm_Acrylic on canvas_2017
Alignment. 150×270 cm, acrylic on canvas, 2017.

“Dilhat dari berbagai belahan dunia, selalu ada mitologi atau cerita tentang bulan. Di Indonesia sendiri, yang kita pakai hingga saat ini contohnya yaitu ‘datang bulan’,” ujarnya sambil tertawa. “Sebagai objek yang paling terang di langit saat malam, bulan selalu mengundang interpretasi di manapun. Dan beberapa karya di pameran ini memberi porsi pada bulan.”

Baca juga Suwe Ora Jamu, Amsal Syukur Penyeimbang Hidup

“Matter’s Matter” dinilai Indra menjadi sebuah pameran yang memperlihatkan kedekatan antara benda langit dengan manusia, dibingkai lewat cara pandang unik sang seniman. Manusia yang selama ini menjadi pengamat, ternyata memiliki korelasi—yang disambung-sambungkan atau  tidak—dengan objek-objek yang selama ini sering diamati dari balik lubang teleskop.

Radhinal Indra
Radhinal Indra

On Being Flesh misalnya, menjadi initial works di pameran ini. Plat aluminium berbentuk lingkaran dilukis menyerupai bulan, kemudian bagian kanan atasnya dilipat dan memperlihatkan serat-serat daging segar berwarna merah yang dilukis di baliknya.

“Kalau kita bisa ambil sample yang ada di permukaan bulan, di sana ada silikon, magnesium, zinc, dan zat besi, sama seperti kandungan yang ada di daging yang kita makan. Kedua hal itu nyambung, tetapi melihatnya harus jauh banget tentang hubungan ini.” Dari sini, sudah mulai terasa cara Indra menarik benang merah antara objek yang terpisah 384.400 km dari bumi tersebut dengan hal-hal yang ada di sekitar kita.

Birth Certificate 10 February 1989. 140x180 cm, Acrylic on canvas, 2017.
Birth Certificate 10 February 1989. 140×180 cm, acrylic on canvas, 2017.

Kedekatan dengan bulan juga dieksplor Indra dengan dirinya sendiri. Hal itu tampak pada Birth Certificate 10 February 1989, yang bercerita tentang tanggal lahirnya dengan melukiskan kalender Februari 1989 berdasarkan fase pergerakan bulan. Di titik ini kita bagai diajak membayangkan pattern bulan yang terbentuk berdasarkan tanggal lahir masing-masing.

Baca Juga Ilusi Pandangan Mata Patriot Mukmin

Kita juga bisa mengulik karya lain seperti Alignment, yang mengubungkan solar system dengan tabel periodik kimia. Unsur-unsur yang dipilih merupakan unsur yang ada paling banyak di tubuh manusia, disusun membentuk piramida terbalik yang terdiri dari panel-panel kanvas segi empat. Atau menilik eksplorasi Indra dengan medium video bertajuk One Year Cycle, yakni 12 bentuk bulan yang dideformasi yang menandakan tiap bulan dalam satu tahun kalender.

Ferrum Ferrum Ferrum. 40x300 cm, acrylic on metal, 2017.
Ferrum Ferrum Ferrum. 40×300 cm, acrylic on metal, 2017.

Karya Ferrum Ferrum Ferrum, menyajikan cerita lain. Sesuai namanya yang berasal dari kata ferrum yang merupakan nama lain dari unsur besi, Indra menghadirkan substansi tersebut dalam tiga bentuk, yakni planet mars, darah, dan plat besi yang digunakan sebagai medium karya.

“Mars itu disebutnya sebagai planet merah, darah kita juga merah. Sering dengar kan kalau kekurangan darah itu dibilang kekurangan zat besi? Nah, itu juga yang bikin planet mars jadi merah,” jelasnya.

Telemicroscopic. 116.8x270 cm, acrylic on aluminium, 2017.
Telemicroscopic. 116.8×270 cm, acrylic on aluminium, 2017.

Secara visual, karya Indra mampu menimbulkan interaksi dan memancing rasa penasaran pengunjung. Tak sedikit yang ingin melihat lebih dekat tiap detilnya.

Seperti Telemicroscopic, yang bagi saya begitu menarik lewat plat-plat aluminium berbagai ukuran dan bentuk yang tiap platnya menyandingkan dua objek yang berbeda: benda-benda langit yang dilihat lewat teleskop dan sel-sel tubuh manusia yang diamati lewat mikroskop. Keduanya sama-sama diteliti menggunakan bantuan alat karena keterbatasan mata manusia. Sehingga Telemicroscopic menghadirkan visualisasi yang unik, seperti pertemuan bulan, merkurius, venus, mars, dengan jaringan kulit, keping darah, papilla lidah atau sperma.penutup_small