Kolaborasi Banu dan Muklay, "Long Lost Finger", 45x67 cm, acrylic on canvas, 2017. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Selain menampilkan kekhasannya yang menggunakan warna-warna cerah dengan outline tebal, figur-figur dalam karya Muklay berupa kolase manusia dengan mahluk-mahluk lain.

 

Bersama dengan bulan Ramadhan, Muchlis Fachri menggelar pameran tunggal pertamanya yang bertajuk “See Something Strange” di ARTOTEL Thamrin, Jakarta. Pameran yang berlangsung dari pada 9 Juni – 9 Agustus 2017 ini dikuratori Safrie Effendi yang juga adalah Art Manager ARTOTEL Indonesia.

Untuk pameran “See Something Strange”, seniman yang akrab dipanggil Muklay ini terinspirasi dari lagu People Are Strange oleh Doors. Pada masa sekarang, di mana teknologi semakin maju, kebutuhan manusia akan media sosial pun semakin tinggi. “Saya ada teman yang tidak punya Instagram. Banyak yang bertanya, ‘Emang bisa  hidup apa tanpa Instagram?,’” ungkap Muklay.

 

Muklay,
Muklay, “Strange Vision”, 250×65 cm, acrylic on canvas, 2017. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Sebagai anak muda Jakarta dan juga seorang seniman, Muklay mengaku penggunaan media sosial juga menjadi kebutuhan baginya. Melalui media sosiallah ia dapat menggunggah dan mempromosikan karyanya sebagai seorang seniman maupun ilustrator.

Tetapi, di balik sisi positif sesuatu, pasti ada sisi negatifnya. Melalui sosial media juga banyak orang yang terprovokasi, sehingga terjadi banyak kejadian yang kurang baik. Selain itu, tidak ada yang tau siapa individu yang mengelola sebuah akun media sosial. “Sekarang, anjing saja bisa punya akun Instagram. Padahal yang mengurus akun itu pemiliknya,” gurau Muklay.

 

Ulasan lengkap Kolaborasi Apik Muklay dan The Prodigies dapat dibaca di majalah SARASVATI edisi Juli 2017.