"S. Sudjojono: Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya" dan "Kisah Mawar Pandanwangi", autobiografi S. Sudjojono dan biografi sang istri, Rose Pandanwangi. (Foto: Silvia Galikano)

Sudjojono Center (SSC) meluncurkan buku S. Sudjojono: Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya dan Kisah Mawar Pandanwangi di Bentara Budaya Jakarta, 6 Juni 2017. Peluncuran dua buku ini dibarengi pameran sketsa dan memorabilia Sudjojono bertajuk “Hidup Mengalun Dendang” yang berlangsung 7-13 Juni 2017 di tempat yang sama.

Jika buku pertama adalah autobiografi Sudjojono (1938-1986), buku kedua adalah biografi Rose Pandanwangi (lahir 1929), penyanyi seriosa Indonesia bersuara mezzo sopran, pemenang 12 kali Bintang Radio pada 1950-an dan 1960-an, istri Sudjojono, dan model bagi banyak lukisan Sudjojono.

Selain melukis, Sudjdojono senang menulis, termasuk membuat catatan tentang banyak hal. Dia juga merekam suaranya untuk pembuatan catatan. Sudjojono baru berhenti menulis pada 1983, dua sebelum wafat.

Sudjojono adalah orang pertama yang menggunakan istilah “sanggar” yang sekarang lazim dipakai untuk menandakan kelompok atau tempat berkesenian. “Sanggar” dalam bahasa Jawa Kuno adalah tempat orang bersemedi.

Bagi Sudjojono, sanggarnya adalah tempat melukis dan berpikir. Dalam seni lukis, bagaimanapun kasarnya orang itu, joroknya orang itu, dia memikirkan keindahan, memikirkan kebatinannya, dan berkontemplasi, maka sedikit banyak dia melakukan semedi. Oleh karena itu Sudjojono memakai istilah “sanggar” untuk studionya yang juga rumahnya.

Ketika Sudjojono menikah dengan Rose Pandanwangi, rumah mereka di Pasarminggu, Jakarta Selatan, juga digunakan sebagai studio lukis yang diberi nama “Sanggar Pandanwangi”. Sanggar itu menjadi pusat kegiatan berkesenian keduanya.

Sudjojono mengajar melukis untuk anak-anak, remaja, dan orang dewasa, baik orang Indonesia maupun orang asing. Para seniman muda juga banyak berkunjung untuk berdiskusi dan menggali ilmu dari sang maestro.

Aktivitas seni di “Sanggar Pandanwangi” semakin lengkap dengan kegiatan vokal Rose bersama grup operanya, yang diberi nama “Opera Hidup Mengalun Dendang” oleh Sudjojono. Dalam grup ini Sudjojono ikut memberi masukan artistik, antara lain konsep tata panggung.

Selain mempersiapkan pertunjukan, Rose juga mengajar piano dan vokal sekadar untuk menambah pemasukan keluarga. Di sanggar ini juga lahir banyak lukisan fenomenal S. Sudjojono, seperti The Battle of Sultan Agung and JP. Coen, Give Us Our Daily Bread, Siiip Dalam Segala Cuaca, Kepala Gombal, dan Gerak Baru.

SSC yang diresmikan pada 2006 adalah yayasan yang menjaga, mengelola, dan melestarikan tidak hanya lukisan S. Sudjojono, tapi juga peninggalan lainnya berupa sketsa dan memorabilia.