Jenis-jenis pisau produksi Ashadi. (Foto: Silvia Galikano)

Parakan memiliki seorang artisan pisau bernama Ashadi, 64 tahun, berumah di Jalan K.H. Subkhi, Kauman, Parakan.

Kekhasan karyanya adalah rapi dengan pertemuan tiap bagian kayu presisi, rapat, nyaris tampak seperti satu bagian. Kayu jati londo, kayu mangga, hingga tigerwood dia potong dengan rancangan yang muncul begitu melihat rupa kayu dan alur seratnya.

Berangkatnya dari hobi, juga diinspirasi komik favoritnya dari tahun 1950-an, Wiro Anak Rimba Indonesia yang ditulis Kwik Ing Hoo (1931-2010) dengan karakter utama Wiro yang selalu menyelipkan pisau di pinggang. “Pisau Wiro itu kan bagus. Saya suka,” ujar Ashadi saat dijumpai di rumah sekaligus bengkel kerjanya, awal Maret 2017.

Ashadi pertama membuat pisau saat di bangku SD bersamaan dengan pecah peristiwa G30S. Hal yang umum ketika itu laki-laki bergantian jaga malam, dan tiap yang berjaga perlu mempersenjatai diri. Ashadi pun mengikir ulang sebilah pisau kecil berkarat, lalu dia beri gagang dan sarung. Pisau ini sekarang sudah hilang.

Baru pada 1970 Ashadi membuat pisau ke-2, sepanjang 20 cm. Sejak itu dia terus memproduksi pisau hingga pada 1990-an, mulai banyak orang tahu pisau buatan Ashadi dan memesan.

Ashadi di bengkel kerjanya. (Foto: Silvia Galikano)
Ashadi di bengkel kerjanya. (Foto: Silvia Galikano)

Tidak seluruh bagian pisau dia buat sendiri. Ashadi memesan mata pisau ke pandai besi dengan desain yang dia tentukan. Dia punya beberapa langganan pandai besi di Magelang dengan spesialisasi masing-masing, yakni dalam hal membentuk besi dan membuat sepuhan.

Umumnya bilah pisau dibuat dari per mobil, lakher, pernah juga dari bom peninggalan Jepang. Ashadi menggambar sendiri di bilah besi, tanpa pola. Baru kemudian dia membuat gagang dan sarung pisau yang sesuai dari tumpukan kayu yang ada di bengkel kerjanya.

Kemampuannya bertukang diasah saat muda bekerja di perusahaan pengolahan kayu di Kalimantan. Sekembalinya ke Parakan, dia mengerjakan pesanan mebel, seperti lemari, tempat tidur, dan yang paling sering adalah pintu. Namun sekarang dia sudah tidak lagi mengerjakan mebel, hanya membuat pisau.

“Sudah tidak kuat ‘masrah (mengetam, menyerut). Walau ada mesin, tapi kan bagian yang kecil tetap di-pasrah,” ujar Ashadi.

Dia membuat pisau besar hingga kecil. Dari pedang untuk memotong sapi atau kambing hingga pisau taji ayam jantan aduan sepanjang 3 cm. Lama pengerjaan tiga hari untuk pisau besar, dan satu hari untuk pisau kecil. Semua dikerjakan tanpa perlu laku khusus.