Sosok ibu Bali konservatif dengan mata bertapis hitam-putih menyoal kasta dan kedudukan menjadi petaka yang mengawali kisah Bila Malam Bertambah Malam yang dibawakan Teater Madania. Diangkat dari naskah karya Putu Wijaya, pertunjukan ini menjadi wujud apresiasi pada sang dramawan di pergelaran “Tribute to Putu Wijaya”. Pementasan yang dibawakan di di Gedung Kesenian Jakarta, 30 Januari 2016 tersebut menggenapkan perayaan 20 tahun berdirinya Sekolah Madania di Parung, Bogor.

Berbeda dari pertunjukan-pertunjukan mereka sebelumnya yang dibawakan para siswa Sekolah Madania, kali ini Teater Madania menantang para guru dan karyawan sekolahnya untuk melakoni karakter-karakter gubahan Putu Wijaya tersebut. Dengan guru teater Madania Abdul Aziz Wahyudi sebagai sutradara, Ninik Nikmaturrahmaniah, guru agama Islam Sekolah Madania pun didapuk sebagai Gusti Biang, M. Wahyuni Nafis, Direktur Sekolah Madania sebagai Ngurah, Ida Rosanna Siahaan, guru agama Kristen sebagai Nyoman Niti, dan Yuli Priyanto, Direktur Operasional PT. Madania Ekselensia sebagai Wayan.

Keempatnya kemudian menggulirkan cerita tentang Gusti Biang, bangsawan Bali berkasta ksatria yang tidak menyukai Nyoman Niti, pelayannya yang sejak kecil tinggal di purinya bersama Wayan, lelaki tua yang menjadi teman seperjuangan suami Gusti Biang saat melawan penjajah. Ketidaksukaannya ditampilkan Gusti Biang dalam bentuk hardikan dan sumpah-serapah yang berujung pengusiran sang pelayan dari puri di tengah malam.

IMG_20160131_000611

 

Masalah selanjutnya datang ketika anak Gusti Biang, Ngurah, kembali dari rantau. Alih-alih membawa oleh-oleh yang menyenangkan ibunya, Ngurah membawa kabar akan niatnya untuk meminang Nyoman yang juga menjadi temannya sejak kecil. Niat Ngurah membuat ibunya semakin gusar dan meledakkan petuahnya perihal menjaga kasta dan wibawa  seperti dirinya. Konflik antara kebiasaan lama dan kebenaran atas persamaan manusia ini usai dengan rahasia yang dikuak Wayan di akhir cerita.

Meski Bila Malam Bertambah Malam berakhir bahagia, rupanya kisah asli yang melatarinya tak bernasib seberuntung naskahnya. Putu Wijaya, yang menuliskannya kala memasuki usia 20-an tahun, ternyata membuat naskah teater ini untuk temannya yang harus menghadapi tantangan serupa saat ingin menikah. “Saya membuat cerita ini berakhir manis, dengan harapan bahwa setelah dipentaskan dan disaksikan oleh keluarganya, akhir kisah teman saya itu bisa semanis ini. Tapi sayangnya tidak,” cerita Putu.

Dengan jalan kisah yang berbelok tajam, nyatanya keempat pemain mampu mengeksekusinya dengan baik dan alami meski hanya memiliki waktu berlatih di sela profesinya sebagai pendidik dan sivitas sekolah sejak akhir November 2015 lalu. Ninik, pemeran Gusti Biang konsisten menampilkan sosok tua cerewet dan kolot, sementara Ida, pemeran Nyoman, berhasil menampilkan karakter kenes namun lengket dengan nyonyanya, meyakinkan penonton bahwa di balik hardikan majikannya, Nyoman adalah anak yang sejak kecil dibesarkan dan menyatu dengan orang-orang yang bertumbuh dengannya.

Adapun lakon Wayan dibawakan dengan baik dan hati-hati oleh Yuli Priyanto, sementara tokoh Ngurah menumpahkan komedi di atas konfik sejak awal kehadirannya dengan muka kering emosi dan tampilan modern khas ’70-an–berponi dan rambut menggapai bahu dan bercelana cutbray–yang kontras dengan tampilan pakaian tradisional yang dikenakan lawan mainnya.¬† Keempatnya menghasilkan pentas apresiasi yang apik dan menghibur di malam perayaan untuk Putu Wijaya dan Sekolah Madania.