Hotel Besar, Cerita Tumbuhnya Purwokerto

0
993
Hotel Besar, Purwokerto
Hotel Besar di Jl. Jenderal Sudirman 732, Purwokerto. (Foto: Silvia Galikano)

Ide rebranding pada 2006 mengubah banyak hal dari Hotel Besar, hotel tertua yang masih berdiri di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, hingga wujudnya seperti yang kita jumpai sekarang. Bangunan utama bergaya Indis yang bersambung dengan kamar-kamar melingkari taman, serta satu deret kamar terpisah di belakang.

Hotel ini tak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kota Purwokerto yang sebelumnya hanyalah ibukota distrik di bawah Kabupaten Ajibarang. Sedangkan ibukota Kabupaten Banyumas saat itu adalah Kota Banyumas yang berada di tepi Sungai Serayu. Jarak Kota Purwokerto dan Kota Banyumas kira-kira 20 kilometer.

Baca juga Untuk Lasem, Roemah Oei Buka Gerbangnya

Dikeluarkannya UU Agraria 1870 tentang kepemilikan tanah dan UU Gula 1870 yang menghapus kewajiban budidaya tebu oleh petani menandai berakhirnya eksploitasi tanah jajahan oleh negara digantikan pengusaha swasta. Menyusul kemudian berakhirnya sistem Tanam Paksa.

Hotel Besar, Purwokerto
Lobi hotel. (Foto Silvia Galikano)

Dalam Modernisasi Banyumas 1890-1942: Kajian Perkembangan Sosial Ekonomi (2017) yang ditulis Esa Meiana Palupi, setelah di tangan swasta, luas perkebunan bertambah, dari  500 bau pada 1885, menjadi 1100 bau pada 1890. Bau atau bahu berasal dari “bouw”, bahasa Belanda, berarti “garapan” (1 bau = 7000-7400 meter persegi).

Sektor industri, seperti batik, tenun, anyaman, peralatan pertanian, emas, perak, perkakas, tembikar, produsen kapal, serta produsen kertas juga pada 1890 mulai berkembang.

Baca juga Bakoel Koffie, Ikhtiar Melanjutkan Garis Kopi

Terlebih ketika jalur kereta api dibangun untuk memudahkan distribusi tebu. Dari yang rencana awal melewati Kota Banyumas sebagai Ibukota Karesidenan terpaksa diubah karena Kota Banyumas dikelilingi pegunungan yang bakal berimbas pada mahalnya biaya. Akhirnya jalur kereta api dan stasiun dibangun di Kota Purwokerto pada 1895.

Hotel Besar, Purwokerto
Kamar dengan selasar melingkari taman. (Foto: Silvia Galikano)

Pembangunan jalur kereta mendorong kantor-kantor dagang yang dahulu berada di Kota Banyumas, ramai-ramai pindah ke Kota Purwokerto. Hingga akhirnya pada 1937, pemerintah kolonial Belanda memindahkan kantor pusat pemerintahan kabupaten sekaligus karesidenan Banyumas ke Kota Purwokerto.

Pada masa peralihan ibukota inilah, pada 1930, sebuah hotel dibangun di pusat kota, Jalan Jenderal Sudirman (dahulu Pasar Wagestraat) nomor 732, beberapa langkah dari Pasar Wage, pasar utama di Purwokerto, dan tak jauh dari Stasiun Purwokerto.

Bangunannya berlanggam Indis, langgam yang sedang tren saat itu. Jumlah kamar ada 19, masing-masing berukuran 6×5 meter, tersebar di bangunan utama dan bersambung ke bangunan yang mengelilingi taman. Nama “Hotel Besar” pun dipilih dengan harapan kelak akan menjadi maju dan besar.

Hotel Besar, Purwokerto
Nyonya The Shia (1870 – 1952). (Foto: Silvia Galikano)

Penggagasnya Nyonya The Shia (1870 – 1952), yang bersama suaminya, Tuan The Shia, berprofesi sebagai pedagang jamu di Purwokerto. Pasangan ini mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, ditambah dari hasil menjual rumah tinggal dan tempat usaha mereka pada 1925, akhirnya membeli lahan seluas 5000 meter persegi di seberang jalan.

Baca juga Jalan Leluhur Rumah Kopi Semarang

Jika sekarang kita lihat ada toko mas Sembada di seberang hotel, itulah dahulu rumah tinggal dan toko jamu milik The Shia.

Hotel ini berjalan lancar, walau belum dapat dikatakan sukses. Cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. The Shia memiliki anak tunggal The Ting Hok (1888 – 1942) yang memilih berdagang hasil bumi dan tak berminat mengelola hotel.

Perubahan signifikan mulai dirasakan  setelah lahir putera The Ting Hok, The Han Key (1909 – 1971). Hotel mengalami masa kejayaan, perekonomian keluarga membaik, sehingga sang cucu bisa mendapat pendidikan formal yang baik.

Hotel Besar, Purwokerto
Ruang tengah hotel dengan mebel kayu bergaya retro. (Foto: Silvia Galikano)

The Han Key ternyata menyukai bisnis hotel, didukung sifatnya yang ulet dan pantang menyerah.  The Han Key resmi menjadi penerus Hotel Besar pada 1939, di usia 27 tahun. Pada tahun yang sama dia  mempersunting Cen Cu Cin. Mereka memiliki tiga anak laki-laki dan satu perempuan, yakni The Dien Tje, The Che Sing, The Sing Tjen, dan The Tjen Hauw.

Baca juga Merawat Marwah Rumah Tjoa

Dari empat anak, The Sin Tjen (lahir 1942) yang punya ketertarikan pada bisnis hotel. Sejak remaja, dia diajarkan ibunya cara mengurus hotel, sehingga sangat paham keseharian berjalannya hotel.

The Sing Tjen menikah dengan Liu Fang Lan pada 1974 dan memiliki lima anak. Setelah ayahnya wafat, The Sing Tjen menggantikan kedudukan ayahnya dan sampai saat ini menjadi Direktur Hotel Besar.

Hotel Besar, Purwokerto
The Boulevard, kafe-resto di timur hotel, bangunan baru berbentuk bangunan sayap yang umum dijumpai di rumah Tionghoa. (Foto: Silvia Galikano)

Pada 2006, The Sing Tjen membuat rebranding dengan memodernkan Hotel Besar berikut renovasi besar-besaran. Jumlah kamar ditambah dengan membagi dua kamar-kamar berukuran luas, juga mengganti ubin dengan keramik. Sederet kamar baru dibangun di halaman belakang, sehingga dari 19 menjadi 35 kamar sampai sekarang.

Tiga kavling toko di barat hotel, salah satunya toko kapuk yang dikelola  Cen Cu Cin, istri The Han Key, dibongkar. Di sini dibangun gedung kantor modern dan sekarang disewa Hana Bank.

Toko-toko di timur hotel dibongkar untuk dibangun baru menjadi kafe-resto The Boulevard yang juga milik Hotel Besar. Bentuknya membujur panjang meniru bangunan sayap yang umumnya ditemui di rumah Tionghoa.

Baca juga Bali Hotel dan Singgahnya Negarawan Dunia

Sepaket dengan rebranding, nama “Hotel Besar” yang dianggap sudah tidak kontekstual, diganti menjadi Hotel Mulia.

Hotel Besar, Purwokerto
Taman di halaman belakang hotel. (Foto: Silvia Galikano)

Namun imbas penggantian nama, di luar perkiraan semula, ternyata jadi demikian merepotkan. Selain urusan administrasi, manajemen hotel menerima tak sedikit keluhan pelanggan lama dan pengemudi becak yang kebingungan mengantar tamu, karena masyarakat tahunya Hotel Besar, bukan Hotel Mulia.

Nama Hotel Mulia akhirnya hanya bertahan sembilan tahun. Hotel bersejarah kebanggaan Purwokerto itu pada 1 Februari 2015, kembali lagi ke nama semula, Hotel Besar.

Baca juga Toko Roti Retro Terus Dirindu

Sejarah singkat hotel ini dapat dibaca tamu di “dinding testimoni” yang berisi tulisan kesan-kesan tamu setelah menginap di Hotel Besar. Foto Nyonya The Shia dan sang cucu, The Han Key diletakkan di lobi, berseberangan dengan meja resepsionis.

Manajer Operasional Hotel Besar Isabella Riyanti yang dijumpai di Purwokerto pada Maret 2018 mengungkapkan rencana manajemen Hotel  Besar menambah convention hall dan kolam renang, menempati lahan kosong di belakang hotel. Dua fasilitas itu diharapkan dapat menarik tamu usia muda dan keluarga.

Hotel Besar, Purwokerto
Manajer Operasional Hotel Besar Isabella Riyanti. (Foto: Silvia Galikano)

“Rencananya, convention hall dan kolam renang akan dibuat dengan tampilan modern . Sedangkan bagian depan Hotel Besar tetap dengan tampilan klasik,” ujarnya. Mengikis kesan bahwa hotel heritage identik dengan tamu-tamu sepuh menjadi pekerjaan rumah terbesar Bella saat ini.

Bella, yang tak lain puteri dari The Sing Tjen, adalah lulusan Hotel and Tourism Management di Swiss German University, Tangerang Selatan tahun 2011, dan baru empat tahun bergabung dengan manajemen Hotel Besar. Sebelumnya dia menjadi staf humas di Hotel JW Marriott Jakarta.

Baca juga Pernah Azan Berkumandang Sayup di Musajik Usang

Di halaman belakang hotel terdapat taman mungil, yang untuk memasukinya, kita digiring melewati pergola yang dirambati tanaman, layaknya gerbang menuju taman rahasia. Di sana ada pohon besar, perdu yang terawat, rumput gajah, rumah tua yang difungsikan sebagai gudang, sumur, dan seluasan tanah berpagar kawat tempat memelihara ayam kampung. Seorang bapak sepuh terlihat merapikan dan menyapu taman, sejenak menghentikan kegiatannya untuk menyapa ramah.

Bukankah pemandangan seperti ini yang dicari mereka yang meliburkan diri dari kota besar? Pemandangan yang tak dijumpai di hotel-hotel lain. Tidak berlebihan kan kalau pergola itu layaknya menuju taman rahasia? penutup_small