Heritage Talk Melindungi Gedung Heritage dari Bahaya Kebakaran
(Kiri-kanan) Special Project Manager JOTRC Saefudin, Ketua LWG-DMO Kota Tua Firman Haris, Ketua Pokja Kemenpar Dodi Riadi, CEO JOTRC Lin Che Wei, Arkeolog Candrian Attahiyat, Kepala DPK dan Penanggulan Bencana DKI Jakarta Subejo. (Foto: Dhamarista Intan)

Gedung-gedung bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta masih memerlukan perbaikan fasilitas untuk menghadapi kebakaran. Bangunan museum banyak pula yang belum dilengkapi dengan alat pendeteksi asap, sprinkler, maupun CCTV untuk merekam jejak dan memantau hal-hal yang memicu kebakaran.

Uraian tersebut terangkum dalam Heritage Talk bertajuk “Melindungi Gedung Heritage dari Bahaya Kebakaran” yang diadakan Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC) pada Selasa pagi,  6 Februari 2018 di Pantjoran Tea House, Glodok, Jakarta Barat. Diskusi ini membahas cara mencegah dan melindungi gedung-gedung dari bahaya kebakaran.

Baca juga Menyambut Aktivasi Gedung Cipta Niaga dan Kerta Niaga

Pembicara yang dihadirkan adalah Ketua LWG-DMO (Local Working Group – Destination Management Organisation) Kota Tua Firman Haris, CEO JOTRC Lin Che Wei, Arkeolog Candrian Attahiyat, Ketua Kelompok Kerja Kementerian Pariwisata Dodi Riadi, serta Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta Subejo.

museum bahari, kebakaran, terbakar
Kondisi Gedung C Museum Bahari setelah kebakaran. Foto diambil pada 31 Januari 2018. (Foto: Silvia Galikano)

Bulan lalu, tepatnya 16 Januari 2018, Museum Bahari yang terletak di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara dilahap si jago merah. Museum yang menyimpan koleksi sejarah maritim Nusantara ini diduga terbakar karena adanya arus pendek listrik.

Sebelum itu, kebakaran juga terjadi di Vihara Jin De Yuan, Petaksembilan, Jakarta Barat pada 2 Maret 2015. Vihara tertua di Jakarta yang dibangun sejak 1650 tersebut hangus karena jatuhnya lilin besar di ruang ibadah.

Baca juga 8 Situs Indonesia yang Diakui Sebagai Warisan Dunia

Struktur kayu setelah kebakaran yang menghanguskan Vihara Dharma Bhakti/ Klenteng Jin De Yuan, Petaksembilan, Jakarta. (Foto: Silvia Galikano)
Struktur kayu setelah kebakaran yang menghanguskan Vihara Dharma Bhakti/ Klenteng Jin De Yuan, Petaksembilan, Jakarta. (Foto: Silvia Galikano)

Begitu api mulai menjilat museum, selain pengunjung, artefak di dalamnya tentu menjadi prioritas yang harus diselamatkan. Dalam sejumlah kasus, pemadaman api diatasi dengan karbon dioksida (Co2), bukan air, mengingat banyaknya artefak yang menggunakan material yang bisa rusak apabila terkena air.

Adanya Standard Operating Procedure (SOP) juga diperlukan para pengelola gedung. Tidak hanya untuk menanggulangi kebakaran, namun juga bencana lain, seperti banjir, gempa, maupun ambruknya gedung. Terlebih di musim hujan akhir-akhir ini, bangunan-bangunan tua begitu berisiko digenangi banjir atau ambruk.

Baca juga 5 Hal yang Bisa Kamu Temui di Gedung OLVEH

Dibentuknya jalur dan titik evakuasi bagi pengunjung juga menjadi catatan penting, diikuti dengan pelatihan memadamkan kebakaran dan evakuasi penyelamatan saat bencana.

Heritage Talk Melindungi Gedung Heritage dari Bahaya Kebakaran
Suasana diskusi tentang melindungi gedung bersejarah dari bahaya kebakaran di Pantjoran Tea House, Jakarta. Selasa 6 Februari 2018. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Lin Che Wei mengingatkan adanya risiko penurunan tanah yang menyebabkan bangunan tua bersejarah rentan terendam banjir. “Risiko yang paling dominan adalah ketika orang-orang lalai dan menganggap gedungnya sudah tua,” ujarnya.

Selain para pembicara, diskusi ini dihadiri beberapa perwakilan museum di Jakarta, Dinas Pariwisata, dan Dinas Kebudayaan yang saling bertukar informasi dan mengusulkan beberapa cara yang dapat diupayakan demi menjaga keberlangsungan gedung-gedung bersejarah. penutup_small