Adegan dalam film "Tiga Dara". Foto: Istimewa.
Adegan dalam film
Adegan dalam film “Tiga Dara”. Foto: Istimewa.

 

Pada masanya Tiga Dara berhasil meraup keuntungan bersih sekitar Rp3 juta, rekor angka tertinggi pada zaman itu. Namun ternyata sang sutradara, Usmar Ismail, tidak terlalu senang pada film garapannya.

 

Film Tiga Dara tak kehilangan daya hiburnya meski dibuat 60 tahun silam. Terbukti, seisi studio satu XXI Taman Ismail Marzuki pada penayangan Jumat, 12 Agustus 2016, pukul 19.15, sering betul dibuat tertawa sepanjang film. Hasil restorasi digital berkualitas 4K pun benar-benar menakjubkan. Gambar hitam putih di layar tersaji mulus tanpa kelihatan kusam sedikit pun.

Film yang disutradarai Usmar Ismail ini merupakan film Indonesia kedua setelah Lewat Djam Malam (1954) yang direstorasi di L’Immagine Ritrovata, Bologna, Italia. Di sana, kondisi fisik serta audio dipermak selama delapan bulan. Vinegar syndrome, patahan, dan jamur ditangani. Setelahnya, baru dibawa pulang untuk dilakukan restorasi digital oleh PT. S.A Film di Jakarta.

Film musikal yang dibintangi Indriati Iskak, Chitra Dewi, Mieke Widjaja, Fifi Young, dan Bambang Irawan ini pun menjadi film Asia pertama yang direstorasi digital hingga taraf 4K, yakni standar generik untuk layar yang memiliki resolusi horizontal sampai 4.000 piksel.

Selanjutnya, adalah film besutan sutradara legendaris Jepang, Akira Kurosawa, yang bertajuk Seven Samurai (1954) yang direncanakan mendapat perlakuan yang sama.

“Tiga Dara” dibintangi Indriati Iskak, Chitra Dewi, dan Mieke Widjaja. Foto: Istimewa

Di masanya, film Tiga Dara yang diproduksi PERFINI berhasil meraup keuntungan bersih sekitar Rp3 juta, rekor angka tertinggi pada zaman itu. Di sisi lain, Usmar Ismail, justru tidak terlalu senang pada film yang menyabet Tata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia 1960 ini.

Alasannya klasik: Usmar Ismail, sutradara yang selalu mengangkat isu nasionalisme dalam film-filmnya, harus membuat satu film komersil yang memang ditujukan untuk menggaet pasar.

Semua bermula ketika perfilman Indonesia sedang bersiap untuk maju sejauh-jauhnya. Taneke A. Pong Masak, dalam bukunya Sinema pada Masa Soekarno (2016), menceritakan bahwa periode 1950-1957 memang waktunya dicanangkan konsep Djakartawood. Diadopsi dari perfilman Hollywood yang jadi pusat perfilman di negeri Paman Sam, kota Jakarta dimaksudkan bisa punya model serupa.

Pintu untuk film-film luar dibuka lebar. Film-film itu masuk dan dikonsumsi oleh mereka yang mencintai seni ini. Salah satu yang imbasnya terasa adalah masuknya pengaruh gaya neorealisme Italia ke dalam film-film sineas kita yang sedang mencari bentuk film paling pas untuk bangsa yang sedang menentukan identitasnya.

Salah satu yang terpengaruh, tak lain, adalah Usmar Ismail. Di film-filmnya seperti Darah dan Doa (1950), Enam Djam di Jogja (1951), Lewat Djam Malam, terasa jelas napas neorealisme a la Vittorio De Sica atau Roberto Rossellini. Cerita yang dibuat menggambarkan kenyataan masyarakat sesungguhnya saat itu. Beberapa tokohnya bahkan benar-benar diambil dari anggota tentara atau masyarakat sungguhan.

Namun dalam iklim yang demikian terbuka, ternyata dunia film Indonesia tidak bisa mengelak dari pesona film-film Hollywood. Yang satu inilah yang akhirnya berbuah pembuatan film Tiga Dara yang musikal, ringan, dan jenaka.

Film yang bercerita tentang konflik percintaan tiga saudara perempuan ini memuat gagasan modernisme tentang posisi perempuan di masyarakat. Melalui tokoh Nunung si sulung yang dianggap buruk citranya oleh sang nenek karena belum menikah saat usianya hampir kepala tiga, serta sikap Nana dan Neni yang bebas mendekati lelaki, penonton disuguhkan masalah perbedaan pola pikir antara generasi tua dan muda.

Yang terjadi kemudian adalah: Tiga Dara meledak di pasaran, namun pembuatnya tidak senang akan filmnya sendiri.

*Ulasan lengkap tentang Di Balik Pahit Manis Cinta Tiga Dara bisa dibaca di majalah Sarasvati edisi September 2016