"Sejarah Estetika" karya Martin Suryajaya. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Martin memasuki wacana mengenai estetika dengan pandangan bahwa estetika, secara filsafat, bukan sekadar keindahan.

Martin Suryajaya, bisa jadi, penulis ambisius tahun ini. Ia menerbitkan tiga buku; satu novel, satu sejarah politik klasik, satu sejarah estetika. Yang terakhir disebut, bisa jadi juga, yang paling ambisius dari ketiganya. Tebalnya 900 halaman lebih. Isinya paparan perkembangan filsafat estetika dari zaman pra-sejarah sampai kontemporer.

Martin memasuki wacana mengenai estetika dengan pandangan bahwa estetika, secara filsafat, bukan sekadar keindahan. Oleh Martin, konsep estetika dibawa secara fleksibel dan luas untuk menilik praktik kesenian, sekalipun perkembangan seni sendiri pada satu titik banyak dianggap tidak melulu menyangkut “yang indah”.

 

“Sejarah Estetika” karya Martin Suryajaya. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Martin memulai dari penolakan lukisan di dinding gua sebagai karya seni pertama dalam peradaban. Ia mengamini Richard Bradley yang menganggap pemisahan seni murni dan terapan sebagai salah satu kesesatan yang sering terjadi saat membaca seni prasejarah.

“Semakin suatu artifak kehilangan fungsi akibat diceraikan dari konteks aslinya, semakin artifak itu dilihat oleh orang Modern sebagai ‘karya seni’,” tulisnya di halaman 14-15. Mencoba keluar dari apa yang ia sebut bias modernitas sejak zaman Romantik ini, Martin mengusung kapak batu sebagai karya seni pertama.

Ulasan lengkap Jalan Panjang Sejarah Estetika dapat dibaca di majalah SARASVATI edisi Desember 2016.