"Para Penghibur" karya Fandy Hutari. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Lumrah bagi dua kelompok ini saling membajak artis, bahkan melibatkan dukun dalam persaingan mereka.

Judul: Para Penghibur

Penulis: Fandy Hutari

Penerbit: BASABASI

Tebal : 232 halaman

Terbit : 2017

Cover : Softcover

Dunia hiburan di Indonesia punya sejarah panjang selaras dengan perjalanan bangsa. Bersama dengan masuknya penajajah, masuk pula hiburan-hiburan modern. Fandy Hutari melakukan riset untuk menghadirkan 17 tokoh hiburan Indonesia dalam bidang pementasan tonil (sandiwara), film, dan musik yang namanya kesohor saat zaman Hindia Belanda.

Menurut Fandy, embrio tonil Indonesia muncul pada 1891. Ia menyebut, “Saat itu, seorang Indo-Prancis, August Mahieu, menampilkan sebuah pertunjukan opera Barat dengan bahasa Melayu. Ia membentuk rombongan yang diberi nama Komedi Stamboel di Surabaya. Cerita-cerita yang dimainkan mengangkat legenda 1001 Malam.”

Dari sana terlihat bahwa demi memasyarakatkan budaya yang dibawanya, para pembawa hiburan tersebut menyesuaikan dengan konteks lokal. Ketertarikan masyarakat, termasuk yang kelak menjadi pelaku kesenian itu sendiri, berawal dari adaptasi ini.

Artis-artis yang diangkat Fandy di bukunya, antara lain Tan Tjeng Bok, Roekiah, Kartolo, Annie Landouw, Pak Wongso, Fifi Young, Syech Albar, Ratna Asmara, Astaman, Djoemala, Raden Mochtar, Dahlia, Wolly Sutinah, Miss Dja, Miss Riboet, S. Abdullah, dan Andjar Asmara.

Tidak semua nama-nama itu tampil di depan layar. Andjar Asmara, misalnya, adalah penulis cerita Dardanella dan sutradara film. Dan Pak Wongso ialah seorang pebisnis yang cuma pernah main dalam dua judul film yang sukses.

Buku ini memang tidak terlalu dalam mengupas kiprah para pesohor tersebut. Fandy semacam memberi gambaran ringkas kehidupan tokoh-tokoh yang menjadi tulang punggung hiburan Indonesia di masa itu, yang sangat bisa dirujuk oleh penulis-penulis berikutnya jika ingin mengkaji lebih dalam lagi dunia hiburan Indonesia tempo dulu.

“Para Penghibur” karya Fandy Hutari. (Foto: Jacky Rachmansyah)

 

Tapi ada yang sangat menarik di tulisan Fandy, yakni tentang posisi profesi penghibur di masyarakat kala itu, persaingan dua kelompok tonil besar, hingga konsep go international.

Dari nama-nama yang ditulis Fandy ternyata banyak sekali yang memang berasal dari keluarga penghibur, seperti Astaman dan Roekiah. Tapi, justru orangtua mereka tidak berkenan anaknya mengikuti jalan yang sama, yaitu sebagai artis. Bukan hanya mereka yang berasal dari keluarga artis, Tan Tjeng Bok atau Dahlia yang merupakan anak bangsawan juga merasakan bagaimana tidak disetujui keluarga ketika memutuskan menjadi artis. Apakah ini berarti sejak awal profesi artis memiliki stigma negatif?

Padahal, di zaman itu, kesenian tonil, musik, dan film, sedang menjanjikan. Apalagi jika berhasil bergabung dengan dua kelompok besar bernama Miss Riboet Orion dan Dardanella. Lumrah bagi keduanya saling membajak artis. Bahkan Fandy menulis keduanya juga melibatkan dukun dalam persaingan mereka.

“Menurut Dja, Miss Riboet Orion menyewa dukun dari Jawa Tengah untuk bisa mengalahkan Dardanella. Sedangkan Dardanella kabarnya juga menggunakan jasa dukun dari Cirebon.” (hal. 134-135).

Bukan hanya dengan dukun, persaingan keduanya juga kelihatan dari tur-tur yang mereka lakukan. Untuk yang satu ini, Dardanella unggul. Rombongan ini menggelar pertunjukan lintas benua pada 1935. Namanya diganti jadi The Royal Bali Dancers, kemudian diganti lagi menjadi Devi Dja’s Bali-Java Dancers. Pertunjukan Dardanella ke Singapura, India, Burma, Semenanjung Malaya, beberapa negara Eropa, hingga Amerika Serikat, menunjukkan bahwa sejak dulu, konsep go international selalu bergengsi buat pelaku kesenian tanah air.

Fakta ini tentu saja tidak bisa dipisahkan dari peran orang asing yang membawa hiburan tersebut ke Hindia Belanda. Orang-orang tersebut terdorong untuk menunjukkan ke negara lain bahwa di sebuah tempat bernama Hindia Belanda, mereka bisa memproduksi kesenian yang sama dengan orang Barat. Kebanggaan yang sama dirasakan oleh para artis lokal. Mereka senang jika bisa tampil di luar negeri.

Tujuh belas orang yang ditulis Fandy seringkali berhubungan satu sama lain, misalnya pernah terlibat dalam rombongan tonil atau film yang sama. Sehingga, penuturan kisah satu orang bisa melengkapi kisah yang lain.