Gedung Cipta Niaga
Gedung Cipta Niaga saat ini dalam masa restorasi. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Di tengah revitalisasi Kota Tua Jakarta yang terus berlangsung, gedung Cipta Niaga adalah salah satu yang aktif diisi kegiatan seni dan budaya. Salah satunya adalah “Artotel Week” yang digelar Artotel Project Series (APS) pada November lalu di gedung Cipta Niaga, Kota Tua Jakarta. APS adalah bagian dari Artotel Group, jaringan hotel bertema seni kontemporer.

Artotel Week yang berbentuk festival seni rupa dan musik ini mengambil seluasan area lantai dasar Cipta Niaga, lantai dasar gedung Rotterdam Lloyd, hingga area penghubung keduanya menjadi zona pameran dan pertunjukan.

Baca juga Yang Hidup di Tengah Peralihan Kota Tua

Kehadiran Artotel Week di Kota Tua bukan tanpa alasan. Perhelatan seni sepekan ini menjadi perkenalan masuknya Artotel Batavia yang berkonsep boutique hotel, cabang terbaru Artotel Group yang akan diaktivasi di area gedung Cipta Niaga.

Chief Operating Officer Artotel Group Eduard R. Pangkerego menyebut akan mempertahankan bentuk asli bangunan, termasuk façade, lantai, dan jendelanya.

Saat ini, Artotel Group tengah mengurus legalitas pendirian Artotel Batavia agar pengerjaan konstruksi segera rampung dalam satu tahun ke depan.  Pengerjaan konstruksi hotel nantinya akan sejalan dengan pembersihan Kali Besar yang melintang di hadapan gedung Cipta Niaga.

Gedung Cipta Niaga
Artotel Week diadakan di Gedung Cipta Niaga. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Percepatan revitalisasi Cipta Niaga beriring dengan target penyelesaian reaktivasi gedung-gedung warisan budaya lainnya di Kota Tua Jakarta tahun mendatang.

Novriadi Setio Husodo, Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta menyebutkan, revitalisasi gedung cagar budaya di Kota Tua ditargetkan rampung sebelum Asian Games 2018 agar dapat menjadi salah satu atraksi bagi wisatawan mancanegara.

Gedung Cipta Niaga asalnya milik perusahaan perkapalan Internationale Credit en Handelsvereeniging Rotterdam yang biasa disingkat dengan Internatio. Gedung ini dibangun pada 1912 oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers en Hulswit.

Baca juga Kota Tua Jakarta Masuk Nominasi UNESCO World Heritage

Pada akhir 1957, ketika semua perusahaan Belanda dinasionalisasi, Internatio berganti nama menjadi PT Satya Negara Trading Corp. Beberapa tahun kemudian, PT Satya Negara dilebur ke dalam PN Tjipta Niaga yang kemudian menjadi PT Tjipta Niaga.

Selain Cipta Niaga, Kerta Niaga juga tampak mulai diaktivasi akhir tahun ini. Sejak akhir Oktober 2017, para pengunjung diperbolehkan melihat-lihat isi dalam bangunan. Sepanjang dinding gedung ditempeli foto-foto Kerta Niaga dari masa ke masa.

Sama halnya dengan Cipta Niaga, revitalisasi Kerta Niaga dilakukan tanpa mengubah façade bangunan.

Gedung Cipta Niaga
Interior Gedung Cipta Niaga sebelum direstorasi. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Gedung yang didirikan bersamaan dengan Cipta Niaga, juga oleh biro arsitek yang sama, kini mulai diisi tenants kerajinan tangan, batik, dan kuliner, di antaranya Kopi Kota Tua, Soja Indonesia, dan Acaraki. Ke depannya, Kerta Niaga juga akan diisi oleh Urban Kitchen, Locarasa, coworking space, dan youth hostel.

Kehadiran opsi kuliner dan menginap yang kian banyak diharapkan dapat memperpanjang masa berlibur para turis lokal dan mancanegara di Kota Tua Jakarta.

Baca juga Revitalisasi Kota Tua Jakarta: Rencana Pengembangan Kampus IKJ

Dengan arsitektur bergaya dutch closed, seluruh bangunan eks kantor perusahaan Koloniale Zee en Brand Assurantie Maatschappij ini berkesan tertutup, tanpa ruang terbuka. Belakangan, dilakukan penambahan elemen jendela yang berbeda dengan bentuk asalnya.

Pada akhir tahun 1950-an, perusahaan ini dinasionalisasi menjadi Perusahaan Negara (PN) Kerta Niaga, yang bergerak di bidang distribusi barang, utamanya sandang pangan dan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat. penutup_small