Sketsa Masjid Istiqlal.
Sketsa Masjid Istiqlal oleh F. Silaban. (Dok. arsitekturindonesia.org)

Tak banyak arsitek di dunia yang berkesempatan membentuk wajah sebuah bangsa. Friedrich Silaban adalah seorang di antara mereka.

Pusat Dokumentasi Arsitektur bekerja sama dengan arsitekturindonesia.org mengadakan pameran bertajuk “Friedrich Silaban, Arsitek 1912 – 1984” di Gedung D Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 8-24 November 2017.

Baca juga AFAIR UI 2016 Pamerkan Model Arsitektur Kontekstual

Pameran yang dikurasi Setiadi Sopandi dan Avianti Armand ini menampilkan 243 objek yang terdiri dari gambar-gambar asli dari belasan karya arsitektur, foto-foto asli, berbagai dokumen dan objek asli dari arsip F.Silaban di rumahnya di Bogor.

Pameran ini merupakan puncak rangkaian kegiatan dalam mempelajari, melestarikan, dan menyiarkan pengetahuan yang terkandung dalam catatan kehidupan dan karier arsitek F. Silaban.

Pameran Friedrich Silaban
Pameran Friedrich Silaban, Arsitek 1912-1984 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. (Dok. Pusat Dokumentasi Arsitektur)

Upaya ini telah dirintis sejak 7 November 2007, digagas jejaring modern Asian Architecture Network (mAAN), di mana Eko Alvares Z, Ahmad Djuhara, Setiadi Sopandi, dan Johannes Adiyanto menjadi Anggota Dewan Eksekutif.

Melalui inisiatif tersebut, Setiadi Sopandi mempelajari sekaligus melestarikan arsip peninggalan Friedrich Silaban dengan mencatat dan menuliskannya ke dalam berbagai bentuk publikasi, menyusun katalog, hingga mengalihmediakan gambar-gambar dan dokumen F. Silaban ke dalam format digital.

Baca juga Tukang Mebel, Sang Klien, dan Mahakarya De Stijl

“Setelah lima tahun menggali arsip, kami menemukan didapat 1500 gambar yang dihasilkan Silaban, catatan, memoar, foto, dokumentasi, catatan perjalanan, hingga catatan dari Sukarno, karenanya ini harus dilestarikan dan dibagikan kepada masyarkat.”

Puncaknya pada 2017 ketika secara berturutan diluncurkan serngkaian produk dari kerja pengarsipan, penelitian, dan publikasi.

Friedrich Silaban, Setiadi Sopandi, dan Febriyanti Suryaningsih
Kurator pameran Friedrich Silaban, Arsitek 1912-1984 Setiadi Sopandi dan Febriyanti Suryaningsih dari Pusat Dokumentasi Arsitektur. (Foto Silvia Galikano)

Pada April 2017, koleksi arsip digital F. Silaban diluncurkan situs arsitekturindonesia.org, sebuah inisiatif nirlaba yang bertujuan membuka akses informasi bersejarah Indonesia – khususnya arsitektur –  kepada khalayak secara cuma-cuma.

Produk penting kedua adalah diluncurkannya buku riwayat hidup sang arsitek berjudul Friedrich Silaban (Gramedia Pustaka Utama, 2017) karya Setiadi Sopandi. Buku ini merangkai kisah hidup dan rentang karya arsitek F. Silaban dan menempatkannya dalam konteks sejarah dan wacana arsitektur di Indonesia.

Baca juga Paradoks Kebebasan di Venice Architecture Biennale 2018

Friedrich Silaban (1912 – 1984) adalah generasi awal arsitek Indonesia yang aktif berkarya sejak masa akhir penjajahan Belanda hingga akhir dekade 1970. Karya-karya puncaknya kebanyakan dihasilkan pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, meliputi bangunan-bangunan institusi kenegaraan dan berbagai monumen publik di Jakarta dan di berbagai kota besar di Indonesia.

Pendidikan formal F. Silaban “hanya” setingkat STM (Sekolah Teknik Menengah), di Koningin Wilhelmina School te Batavia yang sekarang SMKN 1 (STM 1) di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, tamat pada 1931. Sejak 1939, setelah berpindah dari Batavia dan Pontianak, dia memulai karier di Kota Bogor.

silaban, istiqlal
Dokumentasi proses pembangunan masjid Istiqlal. (Foto: Silvia Galikano)

Friedrich Silaban mendapatkan kepercayaan patronnya, Presiden Sukarno, setelah memenangi tiga sayembara arsitektur paling bergengsi nasional. Kesempatan itu menjadi titik tolak keterlibatannya dalam mewujudkan impian-impian akan wajah arsitektur bangsa yang baru merdeka, lepas dari citra terjajah dan masa lalu, serta dapat mewakili gagasan luhur bernama Indonesia.

Pria Batak inilah yang mendirikan masjid Istiqlal, melewati rentang proses pembangunan yang panjang hingga dua rezim dan mengalami naik-turunnya kondisi perekonomian negara.

Baca juga Cihampelas, Seruas yang Berbenah

Rancangan F. Silaban dipilih melalui sayembara nasional pada 1954 – 1955. Pembangunan masjid ini dimulai pada 1961, mulai digunakan untuk shalat pada pertengahan 1970, dan diresmikan Presiden Soeharto pada 1978.  Namun saat peresmian, hanya daerah utama masjid yang rampung dibangun, belum keseluruhannya.

Silaban berperan sentral dalam pembangunan masjid Istiqlal, dimulai dari gagasan awal, eksekusi, hingga ke berbagai penyelesaian konstruksinya. Seperti tutur Setiadi Sopandi, “Bisa dibilang, setengah masa karier Silaban dia habiskan untuk Istiqlal. Pernah dia sudah di kursi roda masih ke Istiqlal untuk inspeksi.”

Ada cerita tentang marmer yang kini menutup seluruh lantai dan dinding masjid Istiqlal. Ada surat dari Sekretariat Negara yang ditujukan kepada panitia pembangunan Istiqlal berisi arahan agar menggunakan sebagai pelapis lantai dan dinding masjid Istiqlal.

Sukarno, Hartini, Silaban
Kunjungan Sukarno dan Hartini ke kediaman F. Silaban di Jalan Gedung Sawah, Bogor, 1960. (Foto Silvia Galikano)

Tentu F. Silaban keberatan. Pasalnya, menurut spesifikasi yang dia bikin, penutup lantai adalah teraso. Sedangkan sifat marmer mudah kusam, apalagi setiap hari ada ratusan orang yang keluar masuk masjid.

Baca juga Membaca Makna Limasan

Kalau sudah kusam, marmer harus dipoles berulang-ulang agar cemerlang kembali, dan proses ini mahal. Sementara kalau menggunakan teraso, risiko semacam ini tidak terjadi.

“Walau pada akhirnya tetap marmer yang digunakan sebagai pelapis, sikap Silaban membuktikan bahwa dia bukan orang yang gampang di-pushed oleh siapa saja, walau oleh The Smiling General,” ujar Setiadi Sopandi.

Karena besarnya bangunan Istiqlal dan kebutuhan marmer demikian banyak sampai ratusan meter persegi, apalagi ketebalan marmer 3-4 cm (bandingkan marmer sekarang yang hanya 18 mm) hal ini mendorong pendirian industri marmer di Indonesia, seperti di Citatah, Tulungagung, dan Makassar.

Selain Istiqlal, F. Silaban juga merancang gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin, Gedung Pola di Jalan Perintis Kemerdekaan, BNI 46 Jalan Lada di Kotatua, dan Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.

istiqlal, soeharto
Dokumentasi Presiden Soeharto memperhatikan marmer yang akan dipasang di Istiqlal. 

Banyak juga karyanya yang tidak selesai maupun tidak terbangun, seperti Tugu Nasional, Kementerian Luar Negeri di Jalan Medan Merdeka Timur, Teater Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Kejaksaan Agung di Blok M, Markas Besar Angkatan Udara di Pancoran. Semua contoh tersebut ada di Jakarta.

Isi pameran “Friedrich Silaban, Arsitek 1912 – 1984” didasarkan pada buku F. Silaban dengan menampilkan lima narasi babak kehidupan sang arsitek. Babak pertama “Menjadi Silaban” yang menampilkan Silaban dalam sebuah figur yang ditempa melalui pendidikan, keluarga, serta pengalaman yang kaya.

Baca juga Budaya dan Identitas Baru Tubaba

“Monumen” menjadi fragmen ketiga, menampilkan gambar-gambar dari proyek-proyek institusional kenegaraan yang ditugaskan kepada Silaban pada kurun 1958 – 1965.

Fragmen keempat, “Istiqlal” menampilkan peran dan berbagai upaya F. Silaban dalam perjalanan mewujudkan masjid nasional selama lebih dari dua dekade. Fragmen yang menjadi fragmen puncak Silaban ini menampilkan perencanaan dan proses pembangunan Istiqlal.

Fragmen kelima, “Akhir” merupakan penggambaran suasana kehidupan dan profesional F. Silaban selepas revolusi kepemimpinan nasional pada 1965 – 1966 yang diawali dengan berbagai kesukaran. Inilah fragmen antiklimaks kehidupan Silaban, ketika Bung Karno jadi tahanan rumah dan mendadak tak ada proyek untuk Silaban sampai-sampai dia melamar kerja, hal yang puluhan tahun tak dia lakukan (bahkan mungkin tak pernah).

Gedung Bank BNI di Jalan Lada, Kotatua Jakarta.
Gedung Bank BNI di Jalan Lada, Kotatua Jakarta. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Pameran ini menegaskan banyaknya persinggungan antara tempat, peristiwa, dan wacana (kebudayaan dan arsitektur) di Indonesia dengan sosok F. Silaban yang saat ini tidak kita sadari, terutama melalui beberapa peristiwa dan gejolak sosial politik.

Friedrich Silaban menikah dengan Letty Keivits pada 1946, ketika masih berada dalam kamp tahanan pejuang nasionalis karena termasuk orang yang “dekat dengan Belanda”. Mereka dikaruniai 10 anak.

Baca juga Pernah Azan Berkumandang Sayup di Musajik Usang

Keluarga ini menempati rumah sederhana dengan dinding gedek di Bogor hingga 1958 sebelum akhirnya memutuskan untuk memperluas lahan dan mengganti rumah lamanya dengan rumah yang benar-benar baru.

Pada 1959 – 1960 F. Silaban membangun dan memperbesar rumah keluarga dilengkapi sebuah studio arsitektur dan ruang-ruang yang cukup untuk menampung keluarga besar serta berbagai aktivitas sosial dan profesionalnya. Letty tetap bersama Friedrich hingga Friedrich meninggal pada 1984.penutup_small