Ketertarikan mengolah material bekas menjadi salah satu tujuan Threadapeutic (Foto: Dok. Nagawati Surya

Siapa saja bisa menjadi motor penggerak Threadapeutic, termasuk orang-orang difabel dan pengungsi.

Berkiblat pada pakem slow fashion, Threadapeutic hadir sebagai lini fashion accessories yang fokus memikirkan dampak positif bagi sekitarnya. Perhatiannya tidak hanya sebatas keberlangsungan produk yang dinilai tahan lama, namun juga menyiasati limbah kain sebagai bahan baku dalam tiap produk yang diciptakan.

Ketertarikan untuk mengolah material bekas ini menjadi salah satu tujuan Threadapeutic untuk mengurangi limbah dan menjaga ekosistem sekitar. Sedangkan dalam jangka panjang, mengedukasi tentang pentingnya mencipta barang baru tanpa menambah tumpukan sampah di muka bumi adalah misi yang ingin diwujudkan.

Baca juga Tentang Mega-Event Seni yang Kurang Dikenal

Sekiranya begitulah beberapa poin yang ingin dicapai Threadapeutic, sebuah lini yang digawangi oleh Nagawati Surya sejak 2015 dengan mencipta berbagai produk aksesoris mode seperti clutch, tote bag, sling bag, pouch, drawstring bag, hingga tas laptop. Metode upcycling yang digunakan, mengubah material bekas menjadi sesuatu yang baru, bernilai tinggi, dan ramah lingkungan.

Meski mengolah material bekas yang sudah tak terpakai, Hana—sapaan akrab Nagawati—tidak mau main-main atau sekadar mengalih fungsi saja. Sebagai seorang yang terbilang perfeksionis dan detail, Hana selalu memperhatikan teknik, pemotongan kain, lining, juga cutting tiap produk hingga mencapai hasil akhir yang sempurna.

Kita akan menemukan produk-produk berhias kain perca yang diproses dengan teknik quilting, yakni kain disusun berlapis dan bertumpuk; kemudian dijahit rapat dan ditoreh untuk memperlihatkan gradasi warna dari tumpukan kain. Teknik berikutnya faux chenille dengan menyikat kain sehingga tampak berbulu dan bertekstur.

Hana selalu memperhatikan teknik, pemotongan kain, lining juga cutting tiap produk hingga mencapai hasil akhir yang sempurna
Hana selalu memperhatikan teknik, pemotongan kain, lining juga cutting tiap produk hingga mencapai hasil akhir yang sempurna (Foto: Dok.Nagawati Surya)

Diakui Hana, keterampilannya dalam menjalankan Threadapeutic ini berlangsung secara organik. Nama Threadapeutic, yang berasal dari gabungan thread dan therapeutic, diartikan sebagai terapi benang; cara Hana untuk membuat sesuatu yang indah, sembari menjadi ibu rumah tangga. Ia tak ngoyo untuk mencari profit, melainkan lebih menjadikan apa yang dilakoninya sebagai sebuah gerakan.

Baca juga Pasar Raya Dunia Investasi

“Aku ini pikirannya serba slow fashion. Apa yang aku kerjakan harus bagus. Aku gak mau gede tapi jelek, buat apa? Tidak terkontrol.“

Kemampuan menjahitnya diturunkan dari sang ibu, sedangkan untuk urusan desain  dan mode ia acapkali bertukar pikiran dengan Dina Midiani, sepupunya yang seorang fashion designer. Dina pula yang membuka jalan Hana, untuk membuatkan tas souvenir di acara bergengsi Indonesian Fashion Week 2015. Di titik itulah Threadapeutic lahir.

Kini, materi kain yang digunakan untuk Threadapeutic bermacam-macam jenisnya. Semua tergantung pada ketersediaan limbah yang didapatkan Hana secara gratis. Kebanyakan di antaranya adalah kain perca, spanduk, banner, jeans, sisa kaos, hingga karung kopi. Alhasil, dibutuhkan kreativitas ekstra dalam memadu-padankan berbagai bahan, warna, ketebalan, dan corak dari limbah kain yang terkumpul. Jerih payahnya tersebut turut membawa Threadapeutic sebagai salah satu yang terlibat dalam Rising 50: Singapore-Indonesia Design Bazaar, yang dihelat DesignSingapore Council bersama dengan Shophouse & Co pada 3-5 November 2017, di National Design Centre, Singapura.

Kemampuan menjahitnya diturunkan dari sang ibu, sedangkan untuk urusan desain dan mode ia acapkali bertukar pikiran dengan Dina Midiani, sepupunya yang seorang fashion designer
Kemampuan menjahitnya diturunkan dari sang ibu, sedangkan untuk urusan desain dan mode ia acapkali bertukar pikiran dengan Dina Midiani, sepupunya yang seorang fashion designer (Foto: Dok. Nagawati Surya)

Keinginan Hana untuk memberi dampak sosial juga direalisasikannya lewat sistem kerja tanpa diskriminasi. Siapa saja bisa menjadi motor penggerak Threadapeutic, termasuk orang-orang difabel dan pengungsi. Semua diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan bekerja tanpa terkecuali, syaratnya hanyalah belajar dengan tekun untuk menghasilkan yang terbaik.

Baca juga Mempertanyakan Murni Pada ICAD 8

Ke depannya, lini yang juga melebarkan ke segmen interior bernama Thread Living, ini akan lebih fokus untuk menyebarkan pembelajaran dan pelatihan berbasis upcycle, khususnya bagi anak muda. Hana mengharapkan limbah akan semakin berkurang apabila orang-orang menggunakan kreativitasnya dalam membuat barang baru.

“Sampah itu harus diolah dengan baik dan sungguh-sungguh. Jangan sampai sampah yang diolah hanya menciptakan sampah baru lagi,” ujar Hana.penutup_small

Artikel Menyebarkan Upcycling Lewat Threadapeutic dimuat di majalah SARASVATI edisi November 2017.