Dalam pameran ini ditampilkan hasil kerja desain interior, desain produk, dan desain visual dari sejumlah peserta yang terbagi dalam dua ruangan di dua gedung berbeda
Dalam pameran ini ditampilkan hasil kerja desain interior, desain produk, dan desain visual dari sejumlah peserta yang terbagi dalam dua ruangan di dua gedung berbeda (Foto: Frans Sihombing)

Untuk skala pameran biennale (dua tahunan) yang biasanya diselenggarakan besar-besaran, tampaknya “Bandung Design Biennale” yang baru pertama kali diselenggarakan ini jauh lebih sederhana. Bertempat di Gudang Selatan 22, Bandung, pameran ini berlangsung hanya seminggu  (23-30 November 2017).

Kegiatan yang diorganisir oleh House The House Experience dan Forum Design Bandung ini berlangsung sangat singkat dan sangat kecil bagi sebuah pameran yang diharapkan mampu merepresentasikan medan desain Bandung secara utuh.

Dalam pameran ini ditampilkan hasil kerja desain interior, desain produk, dan desain visual dari sejumlah peserta yang terbagi dalam dua ruangan di dua gedung berbeda. Masuk ke gedung A, di dalam ruang pamer Kolekt menampilkan hasil kerja dengan judul Pit dari desainer Prancis Amaury Poudray yang berkolaborasi dengan desainer/seniman Andre Suryaman, Wisnu Purbandaru, dan mahasiswa desain Raditya Mahardika.

Baca juga Proses Menjadi Mentah

Beranjak ke gedung B di lorong sebelum pintu masuk ruang pamer berjejer 10 poster hasil kerja desain dari Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) yang dipajang menggunakan penyangga besi. Masuk ke ruang pamer, di ruangan yang cukup luas itu ditampilkan hasil kerja dari 24 peserta yakni Kandura Studio (keramik), Kojo, Blackhand, Dassein Graphic Lab, Sunday Studio, Pikir Mikir Design Studio, Sunday Studio, TWCX, Pot Branding House, Monoponik, Machine56, Danita Maulidia, Jessica Debie, House The House, Ignatius Joseph, Patricia Dewi, Nusae, Agustinus Hutabarat dari Nodbleind, Aurora Rintya A. Dari Uma Design, Rakatan Studio, Conture Indonesia, Grifen Studio, Kyub, dan Newswork Magazine.

mampu memberikan penjelasan yang cukup bagi pengunjung
Tidak ditemukan adanya kuratorial maupun teks pengantar pameran yang diharapkan mampu memberikan penjelasan yang cukup bagi pengunjung (Foto: Frans Sihombing)

Di tengah ruangan ditampilkan 20 karya yang dipajang di atas kayu palet dicat putih yang permukaannya dilapisi impraboard putih. Hanya karya dari Kojo, Blackhand, Dassein Graphic Lab, dan Pikir Mikir Design Studio yang menggunakan pedestal tambahan. Di antara karya yang ditampilkan begitu saja, terdapat dua “pedestal” yang kosong. Pot Branding Studio, TWCX, Sunday Studio, dan Newswork Magazine menampilkan karya mereka di panel tersendiri.

Dapat dibilang dari segi penyajian sebuah pameran, acara pameran ini lebih dapat disebut sebagai sebuah showcase atau open studio karena hanya menampilkan sekelompok kecil saja dari sekian banyak praktisi-praktisi maupun aktivitas-aktivitas desain di Bandung.

Hal yang terasa janggal dalam pameran ini adalah tidak ditemukan adanya kuratorial maupun teks pengantar pameran yang diharapkan mampu memberikan penjelasan yang cukup bagi pengunjung tentang tujuan pameran, nama-nama peserta, maupun alasan pemilihan peserta tersebut.

Baca juga Esensi Pengunjung Menggenapi Karya

Kejanggalan ini ditambah lagi dengan tata letak karya pun terasa kurang nyaman akibat penempatan karya yang terlampau rendah dengan jarak yang terlalu sempit antara peserta yang satu dengan yang lain, membuat flow pameran terkesan acak-acakan dan penuh sesak.

Katalog, leaflet, atau melalui laman situs yang dilengkapi oleh kelengkapan data publikasi pameran seperti konten pameran, foto-foto karya yang dipamerkan, biografi atau keterangan para peserta pameran, konsep-konsep yang diusung oleh para peserta pameran, sebenarnya dapat membantu publik memahami pameran ini.

dari segi penyajian sebuah pameran, acara pameran ini lebih dapat disebut sebagai sebuah showcase atau open studio karena hanya menampilkan sekelompok kecil saja dari sekian banyak praktisi-praktisi maupun aktivitas-aktivitas desain di Bandung
Dari segi penyajian sebuah pameran, acara pameran ini lebih dapat disebut sebagai sebuah showcase atau open studio karena hanya menampilkan sekelompok kecil saja dari sekian banyak praktisi-praktisi maupun aktivitas-aktivitas desain di Bandung (Foto: Frans Sihombing)

Namun dalam pameran ini hal tersebut tidak dijumpai. Bahkan dalam laman situsnya pun informasi yang didapat sekali lagi masih terbatas, begitu pula di akun-akun media sosial dari acara ini tidak dijumpai konten yang memberikan informasi tersebut. Tidak adanya sarana informasi kepada publik seperti ini membuat publik bingung dengan apa yang sebenarnya konteks pameran dan pengalaman apa yang ingin ditawarkan oleh pameran ini.

Hal lainnya yang mengganjal dalam penyelenggaraan pameran ini adalah tidak adanya tema yang spesifik dan jelas yang menjadi benang merah dari rangkaian acara biennale ini, seperti hal yang umumnya kita jumpai dalam penyelenggaraan biennale desain maupun seni yang lain.

Hanya semangat Bandung sebagai kota kreatif UNESCO yang lagi-lagi didengungkan, tanpa implementasi dan pembahasan yang jelas dalam sajian pameran dan event-event pendukungnya. Alhasil, sajian pameran ini terasa kurang geregetnya, seperti dikerjakan ala kadarnya saja dengan tema yang biasa-biasa saja akibat tidak memiliki titik acuan yang konkret dan signifikan.

Baca juga Bahasa Spiritual Made Wianta

Dengan hanya menampilkan 20-an karya saja dan sesingkat waktu yang hanya seminggu itu, pameran ini belum cukup merepresentasikan medan desain lokal di Bandung. Pameran desain apalagi kemudian diproyeksikan menjadi proyek dua tahunan dalam tajuk sebuah biennale yang mengusung nama kota seharusnya dapat merepresentasikan dan menyuguhkan kepada publik mengenai wacana desain yang utuh, lengkap, dan informatif yang berkembang di dalam kaitannya dengan kota tersebut.

Sebagai pergelaran perdana, Bandung Design Biennale 2017 masih belum dapat memenuhi ekspektasi dari nama ambisius yang diusung. Perlu kemudian dilakukan kaji ulang terhadap visi misi yang dibawa dalam pameran ini, juga riset dan pendataan yang lengkap, utuh, serta menyeluruh mengenai perkembangan wacana desain dan budaya masyarakat di kota Bandung.

Hal itu tentunya tidak dapat dipersiapkan hanya dalam waktu singkat dan usaha yang setengah-setengah. Dua tahun ke depan seharusnya dapat menjadi waktu yang cukup untuk mendewasakan proses persiapan ini, sehingga di penyelenggaraan yang akan datang Bandung Design Biennale tidak hanya menjadi “biennale mini” semata lagi.

Frans Sihombing – desainer, tinggal dan bekerja di Bandung