Obrolan santai bersama sutradara Monty Tiwa (kanan) setelah pemutaran film (Foto: Ester Pandiangan)

Satu film yang tetap masih jadi perbincangan hangat meski ditonton berulang-ulang di bioskop independen adalah Keramat (2009). Bahkan konon film ini mengalahkan kengerian Pengabdi Setan versi remake yang sekarang-sekarang ini hangat diperbincangkan.

12-25 Oktober ini Kineforum menggelar Parade Teror yang memutar film-film horor “berisi” dan salah satunya adalah Keramat. Pada pemutaran pertamanya (12/10), turut hadir Monty Tiwa yang mengisi obrolan singkat bersama penonton setelah film diputar.

Keramat bercerita tentang sekelompok kru film yang pergi ke Yogyakarta untuk melakukan syuting. Peristiwa-peristiwa menyeramkan bermunculan di sepanjang mereka berada di Yogyakarta. Mulai dari penampakan di penginapan, pemain utama yang kemasukan nenek-nenek Jawa sampai akhirnya tersesat di dunia lain yang membuat mereka harus kehilangan sebagian teman-teman dan menyisakan orang-orang yang masih memiliki ketulusan hati dan rasa kemanusiaan.

Kemenangan gemilang film ini adalah, pengambilan gambar yang menggunakan kamera subjektif dan tanpa script sehingga semua akting yang terlihat adalah hasil improvisasi para pemainnya. Ini membuat sensasi menyeramkan dari setiap adegannya terlihat nyata.

Selain itu, pesan moral untuk menjaga keseimbangan alam dan nasihat tersirat supaya manusia tidak terlalu rakus dan menghormati alam menjadi benang merah kuat di film ini.

Dalam diskusinya, Monty bercerita soal proses kreatif pembuatan film yang memiliki bujet Rp 200 juta tersebut. Dia menyebut Keramat sebagai proyek eksperimental yang ternyata sukses dan siapa sangka menjadi salah satu dari sedikit film horor Indonesia yang remarkable.

Kedahsyatan film Keramat membuat Monty ditawari¬† untuk membuat sekuelnya tetapi dia menolak karena merasa tidak yakin dapat mengulang kengerian sama dan kejadian-kejadian spontan yang terekam kamera film. “Mungkin, suatu saat. Tapi nggak tahu kapan,” katanya.

Ada yang menyebut film horor disebut bagus kalau film tersebut tetap meninggalkan kengerian yang sama meskipun ditonton berulang kali. Tidak semata menjual musik yang bikin bergidik ataupun tampang-tampang seram penuh darah melainkan berbagi pesan kehidupan yang sering diluputkan orang. Nah, Keramat inilah salah satunya.

Kineforum membagi Parade Teror-nya dalam 3 bagian yaitu Bala Hawa, Wabah Petaka dan Cermin Retak. Total ada 14 film yang diputar dan satu diskusi mengenai rasa takut itu sendiri yang akan diadakan Sabtu (14/10) pukul 17.00 dengan pembicara Gratiagusti Chananya Rompas (Penyair) dan Natasha Tontey (Seniman).

Dalam diskusi tersebut akan dibahas mengenai rasa takut. Bagaimana mengatasi rasa takut dan kenapa walaupun takut orang tetap menyenangi film horor?

Menurut Journal of Media Psychology (2004) dari Dr.Glenn Walters, alasan orang menonton film horor tidak lain demi mencari ketegangan yang dihasilkan dari menonton horor itu sendiri. Fakta bahwa itu tidak nyata namun kita bisa mendapatkan pengalaman dan sensasi dari efek tersebut membuat orang senang menonton film horor.

Pada dasarnya, manusia memiliki dorongan biologis untuk mencoba sesuatu yang menantang adrenalinnya. Namun di satu sisi, butuh rasa aman juga saat bersinggungan dengan pengalaman tersebut. Apalagi ketika akhirnya ketegangan tersebut berakhir, ancaman teratasi yang kemudian meninggalkan perasaan relaksasi. Anda setuju?