Pagelaran seni asal Bangka Belitung
Pagelaran seni asal Bangka Belitung. (Foto: Diana Saragih)

Pertunjukan seni selalu menyenangkan. Jika tidak menyenangkan, itu artinya kita sedang hanya sedang menonton sekumpulan orang beraksi. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika melihat malam puncak “Pameran dan Pagelaran Seni Se-Sumatera ke-21” tahun 2017 di Taman Budaya Sumatera Utara, akhir pekan lalu, Sabtu (18/11).  Saya menyaksikan repertoar musik dan pertunjukan puisi dari daerah Bengkulu dan Bangka Belitung. Gemerlap warna-warni pakaian  dalam sorotan lampu panggung menjadi suguhan yang indah dibarengi lafal bahasa daerah yang berbeda, menambah kaya pertunjukan.

Penonton yang hadir juga sangat menikmati. Apalagi masyarakat Sumut sangat jarang disuguhi pertunjukan seni daerah lain lengkap dengan musisi tradisional dan perlengkapannya. Bengkulu yang membawa khazanah Melayu hampir mirip dengan lagu dan tarian Melayu Deli. Begitu juga dengan musisi tradisi yang mengiringi.

Bunyi gendang dan gambus serta akordion menambah semarak lantunan musik Melayu yang khas untuk berdendang. Berbeda dengan kontingen asal Bangka Belitung, mereka membawakan tarian dan nyanyian daerah dengan sedikit berbeda. Kumpulan musisi dengan penampilan khas yakni ikat kepala putih juga bernyanyi sebagai pengiring tarian yang dibawakan di panggung.

Baca juga Cara Tubaba Merayakan Keberagaman

Sayangnya, pertunjukan di malam puncak itu berakhir dengan cepat. Hanya dua daerah yang hadir membawakan aksi pertunjukannya. Dari 11 provinsi se-Sumatera yang diundang dalam agenda tersebut, hanya tujuh kontingen yang hadir dalam rangkaian acara yang berlangsung pada 16-18 November 2017 tersebut.

Kontingen Riau dan Kepulauan Riau termasuk kontingen tuan rumah yakni Sumatera Utara, justru tidak menghadirkan pagelaran seninya. Hal ini sungguh mencengangkan dan sangat disayangkan, mengingat ada begitu banyak kelompok seni di Sumatera Utara.

Sekretaris Panitia, Tertib SH, mengatakan tidak ikutnya kontingen Sumatera Utara dikarenakan adanya salah paham, yang tidak mau dijelaskannya lebih gamblang lagi. Ia hanya mengucapkan permohonan maaf atas perihal ini dan berharap ke depan kontingen Sumatera Utara bisa lebih siap dan membaik lagi ke depannya.

Pesan Mural

Yang menarik dari Pameran dan Pagelaran  Seni se-Sumatera 2017 itu yakni adanya lukisan mural yang dikerjakan langsung di depan pintu masuk Taman Budaya Sumut oleh kolaborasi sejumlah seniman Sumatera Utara. Atraksi lukisan mural yang kental dengan nuansa Batak tersebut disaksikan oleh pengunjung secara langsung pada 16 November 2017. Sebut saja Johnson Pasaribu dan Lisa Purba, yang merupakan dua seniman yang turut menggoreskan kuasnya di atas triplek setinggi lebih kurang 5 meter.

Mural di depan pintu masuk Taman Budaya Sumut mengangkat tema
Mural di depan pintu masuk Taman Budaya Sumut mengangkat tema “Beda Tapi Satu”. (Foto: Diana Saragih)

Lukisan mural yang ditampilkan Johnson  bersama rekan pelukis lainnya di acara PPSS 2017 kemarin sengaja mengambil tema “Berbeda Tapi Satu” untuk mengingatkan kembali bahwa Indonesia berbeda tapi satu. Sumatera berbeda tapi satu. Nuansa Batak yang kental dalam lukisan mural mereka menunjukkan bahwa Sumatera Utara sangat identik Batak, namun dengan suku lainnya tetap rukun.

Menurut Johnson, mural kini lebih dikenal sebagai seni publik karena lokasi keberadaannya yakni pada tembok-tembok jalanan. Bukan hanya sekedar orat-oret berwarna, mural sarat akan pesan sosial dan kritik terhadap pemerintah. Di dunia termasuk Indonesia, memiliki berbagai permasalahan sosial maupun ekonomi seperti kemiskinan, kelaparan, kerusuhan, pendidikan, ketimpangan sosial, korupsi dan lain-lain.

Baca juga Mempertanyakan Ingatan Lewat “Iconic” Yuswantoro Adi

Ketidakmampuan pemerintah atau tidak pedulinya pemerintah dalam menyelesaikan masalah bersama ini membuat sebagian masyarakat mengekspresikan saran dan kritik melalui karya seni mural, sebuah cara lain mengekspresikan saran dan kritik kepada pemerintah. Mural menjadi wadah seniman  yang tidak menggunakan aksi-aksi anarkis, demo, ataupun media sosial, untuk  mengekspresikan pikirannya, sikap politisnya.

Johnson bersama seniman mural lain juga telah melakukan aksi mural di sejumlah titik di kabupaten Deli Serdang khususnya di dekat kawasan Bandara Internasional Kualanamu. Hal ini dilakukan untuk mengkritik kebijakan pengelola bandara tersebut yang menggunakan jasa pelukis mural luar daerah Sumut untuk berkarya di dalam bandara tersebut. “Sumut juga memiliki pelukis mural yang karyanya bisa diandalkan, tapi kenapa memanggil pelukis mural daerah lain sementara di Sumut ada?” ujar Johnson.

Seni Instalasi Apa Adanya

Tidak bisa dipungkiri bahwa Pameran dan Pagelaran Seni se-Sumatera (PPSS) yang ke-21 tahun 2017 tersebut tidak seperti yang diharapkan. Bukan umur yang muda untuk tahun ke-21. Pengunjung berharap selalu ada perbaikan di setiap tahun pagelaran acara ini dilaksanakan. Terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapi oleh panitia, namun masyarakat menuntut suatu pameran dan pertunjukan seni yang “tidak apa adanya”.

Di samping gedung Taman Budaya Sumut yang perlu banyak renovasi, pameran seni bertajuk “Lebur” itu sebuah ironi pagelaran seni yang dikerjakan oleh pemerintah. Satu item dalam PPSS ke 21 yang juga saya saksikan yakni instalasi seni. Sebuah sapi terikat menjadi awal pertunjukan bagi pengunjung yang ingin masuk ke ruang galeri. Sangat menarik dan provokatif, sebab sapi itu terbuat dari balutan daun nipah kering.

Ruang galeri seni Taman Budaya Sumut yang kurang representatif untuk instalasi seni bertaraf regional
Ruang galeri seni Taman Budaya Sumut yang kurang representatif untuk instalasi seni bertaraf regional (Foto: Diana Saragih)

Saat memasuki ruang gelari, kita disuguhi sejumlah lukisani dan ukiran kayu. Jika kita lihat satu per satu lukisan yang dipajang, objeknya sangat menarik. Kaya akan tema dan kualitas gambar cukup memukau. Sayangnya, kemasan sebuah pameran seni juga sangat mendukung prestisius sebuah karya seni.

Ruang galeri yang dibiarkan penuh dengan kursi plastik tanpa penataan, tata letak yang monoton, membuat karya-karya yang dipamerkan terkesan sangat biasa. Sebuah ukiran kayu bertajuk “Bom Bali II” bertahun 2002 turut dipamerkan di sana. Diletak di tengah-tengah ruangan di atas sebuah dasar kayu ditutupi kain hitam.

Baca juga Esensi Pengunjung Menggenapi Karya

Saat saya berada di galeri seni itu, tidak ada orang lain di situ. Saya sendiri, mengagumi karya seni yang dipajang sekaligus mengumpat ruang pamer yang tidak memadai. Pameran dan Pagelaran Seni se-Sumatera ke 21 tahun 2017 ini, tidak semegah namanya, dan tidak sematang usianya. Sebuah kritik buah dari ekspektasi yang tinggi terhadap sebuah acara seni di luar pulau Jawa. Berharap ke depan bisa lebih baik lagi.penutup_small