banten biennale
Topologi ruang yang ditawarkan belum menjadi bagian penting untuk direspons bersama. (Foto: Sartika Dian Nuraini)

Topologi ruang yang ditawarkan secara monumental oleh bangunan ini belum menjadi bagian penting untuk direspons bersama dalam penyajian karya.

 

Narasi sejarah tradisional dan sejarah klasik sangat ditentukan oleh ingatan tentang sosok kepahlawanan. Bahkan identitas nasional yang kini dihidupi dan dimaknai oleh rakyat berangkat dari model historis, sosial, dan budaya. Dalam proses “pembentukan narasi menyejarah” tersebut diperlukan insemplaritas heroik yang merangsek ke memori kolektif ruang publik (melalui patung-patung, nama jalan, plakat peringatan, dan tanda lainnya), yang biasanya mengambil peran paling penting.

Apa yang terjadi, dan bagaimana, ketika seniman mengambil alih ruang kota? Bagaimana pengalaman urban dan representasi publik menjadi bagian dari narasi kisah hidup individu? Bagaimana jika kenangan manusia sehari-hari semakin membanjiri ruang publik? Bagaimanakah proses penglihatan kolektif dan individual saling membentuk satu sama lain di dalam dan melalui ruang urban yang diklaim?

Baca juga Seniman Banten Terjaga Dari Tidurnya

Dalam sejarah sosial maupun sosiologi kualitatif (terutama penelitian biografis dan memoar) manusia sehari-hari ada di balik peristiwa sejarah makro: sebuah tren dalam kesenian yang membayangkan sebuah masyarakat yang tidak dekaden. Ruang-ruang baru menjadi penting dalam konteks pergerakan senirupa, menimbang ekosistem kebudayaan yang artikulatif dalam format kesenian, seperti klaim-klaim ruang publik yang cenderung mengedepankan legasi ketimbang konsep dan nilai.

Klaim ruang publik mulai terjadi marak di Banten, akhir-akhir ini. Sebagai contoh, kita bisa menengok Biennale Banten yang diselenggarakan pada 9 sampai 16 September 2017, untuk kemudian memasuki medan dan gerakan kesenian lebih luas lagi di wilayah Banten.

Baca juga Bentang Bagak Arsitek F. Silaban

Banten Biennale menyuguhkan 66 karya seniman dari dalam maupun luar Banten, yang (dengan sangat serampangan) bisa kita sebut sebagai sebuah peta baru dalam ranah senirupa dalam waktu beberapa dekade belakangan ini.

Di sini, Biennale Banten akan dibaca sebagai sebuah pintu masuk untuk memahami kerja kesenian di Banten, terutama beberapa seniman yang melakukan kerja-kerja klaim terhadap ruang publik. Seniman-seniman yang dimotori Chavchay Syaifullah berhasil merangsek ke ruang publik dan mendapatkan ruang kerja atas nama Dewan Kesenian Banten yang kemudian melaksanakan berbagai kegiatan kesenian.

banten biennale, rumah dinas gubernur banten
Bekas rumah dinas Gubernur Banten tempat digelarnya Banten Biennale. (Foto: Sartika Dian Nuraini)

Biennale Banten mengambil ruang di bekas rumah dinas Gubernur Banten yang kini tidak lagi aktif bekerja. Masuk ke dalam rumah dinas itu, kita diadang pagar besi yang besar, dengan jalan lurus dikepung taman-taman yang luas. Rumah itu berdiri monumental dan kokoh dengan pilar-pilar besar seperti istana.

Kini rumah itu telah dialihfungsikan menjadi Museum Negeri Banten yang memajang beberapa artefak sejarah Banten Lama, mulai dari artefak guci-guci tua, hingga pakaian adat Banten. Ada pula foto-foto yang tergantung di segala sudut dinding, mengisahkan Banten dari waktu ke waktu. Bergerak ke belakang bangunan utama, “istana” itu dikelilingi bangunan-bangunan bercat putih, beberapa masih mengindikasikan kesan aristokrat. Sebuah antitema untuk pameran Banten Biennale yang diselenggarakan di dalamnya.

Baca juga Dua Abad Politik Seni di Indonesia

Banten Biennale kemudian dapat dimaknai sebagai selebrasi kultural dari seniman-seniman yang memiliki perhatian penuh pada pengembangan kesenian di kota itu. Akan tetapi, sebagai sebuah gerakan yang memantik, kita dapat sedikit kritis dalam melihat bagaimana tipologi ruang bekas rumah dinas Gubernur Banten itu belum sepenuhnya dapat direspons dan digarap dengan tuntas oleh penyelenggara pameran. Artinya, banyak sekali masalah jika satu persatu mengulik perwajahan besar karya-karya seniman dalam kurasi pameran.

Topologi ruang yang ditawarkan secara monumental oleh bangunan ini belum menjadi bagian penting untuk direspons bersama dalam penyajian karya. Karya-karya dipajang padat, berdempet-dempetan dalam dinding partisi buatan yang tidak sepenuhnya menutup dinding asli ruang pamer. Di sana-sini masih kita lihat beberapa foto koleksi tetap milik museum tergantung di atas dinding partisi, yang sangat mengganggu pameran utama. Mata publik dipusingkan untuk menatap antara yang karya dan bukan karya. Distraksi terjadi di berbagai sudut ruang pamer.

Baca juga Jalan Panjang Sejarah Estetika

Dari pintu belakang bangunan yang dijadikan pintu masuk ruang pamer, publik diadang beberapa lukisan yang dipakai untuk membelah ruang, tujuannya mungkin untuk memberi sirkulasi agar publik memiliki alur penglihatan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dua karya yang dipajang untuk membelah ruang, justru membuntukan sirkulasi karena jarak pandang terhadap karya yang disajikan dalam dua lorong terbelah itu menjadi kian sempit dan mata publik seperti terjedot-jedot antara karya satu dan lainnya. Ruang pemaknaan yang refleksif kemudian menjadi sempit tatkala pemajangan karya tidak memperhatikan jarak pandang dan sirkulasi.

banten biennale
Hilmi Fabeta, “The President Club-Introducing Mr. Sjaf”. (Foto: Sartika Dian Nuraini)

Kita memahami Biennale sebagai sebuah indikator penting dalam mengukur pencapaian artistik. Biennale adalah sebuah peristiwa kesenian yang menjadi ruang “tempur” wacana sekaligus ruang bermain bagi seniman untuk memberi pertanyaan sekaligus pernyataan kepada publik. Sehingga publik mampu menangkap anteseden dari kemungkinan-kemungkinan pembacaan dan dari fragmen substansial karya yang dihadirkan seniman.

Sebuah pameran bersama atas nama Biennale, harusnya menjadi medan metodologis bagi seniman, dan selanjutnya dalam kerangka pascaproduksinya, publik terlibat aktif memaknai karya dalam lingkup yang lebih luas. Maka, sebuah pameran bersama seharusnya bergerak dalam siklus di mana arus makna bisa berputar dari ruang abstraksi dan konsepsi sampai pada keterlibatan maupun penyadaran publik luas terhadap suatu persoalan dan isu-isu kuratorial terkait.

Rekoleksi Memori Banten

Banten secara geopolitis telah mengambil peran penting dalam sejarah panjang pertempuran dan pertemuan antarkerajaan. Dulunya merupakan wilayah strategis yang disinggahi mata-mata antarkerajaan di Jawa dan Sumatera. Eksistensi Banten muncul dalam wilayah kekuasaan—yang di dalamnya penuh intrik dan pertukaran-pertukaran nilai.

Baca juga Paradoks Kebebasan di Venice Architecture Biennale 2018

Banten memiliki linimasa sejarah yang panjang, terutama bila kita merujuk beberapa buku kajian penting yang digarap dengan serius oleh Djajadiningrat, Claude Guillot, Nina H. Lubis, Sartono Kartodirdjo, dan Van Dyk. Kita juga mengingat Pramoedya Ananta Toer menulis sebuah naskah panjang (yang diniatkannya) sebagai karya panggung “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”. Peninggalan dan jejak pengetahuan tentang Banten bisa dengan mudah terlacak meski memerlukan kerja keras untuk memberi perspektif yang paling objektif dalam menata kembali relasi kemanusiaan yang menitikberatkan toleransi dalam segala aspek.

Banyak hal yang tidak diketahui publik luas tentang kebenaran sejarah karena distorsinya bisa terjadi beriringan dengan rezim politik yang berkuasa. Setiap rezim memiliki versi kesejarahannya sendiri. Setiap jaringan punya narasi sejarahnya sendiri. Usaha mengatakan sejarah dalam riset kesenian dilakukan oleh Hilmi Fabeta dalam karya The President Club-Introducing Mr. Sjaf yang dipamerkan di Banten Biennale. Dalam karya mixed-media tersebut, hampir semua presiden laki-laki yang pernah menjabat di Republik Indonesia duduk melingkar dalam pertemuan di sebuah meja.

Baca juga Tukang Mebel, Sang Klien, dan Mahakarya De Stijl

Seseorang berkacamata di antara keenam presiden itu berdiri menghadap Sukarno. Wajahnya tidak pernah dikenal masyarakat awam. Lelaki itu berdiri seolah hendak mengatakan sesuatu. Bahwa eksistensinya tidak pernah diakui sebagai presiden di NKRI. Sjafruddin Prawiranegara, seseorang dari Banten yang pernah menggantikan Sukarno menjabat sebagai presiden selama kurang lebih sembilan bulan. Saat itu, Sukarno memberi mandat kekuasaan Republik Indonesia.

Hilmi Fabeta sendiri merupakan seniman lulusan ITB yang membangun sebuah komunitas bernama Tangsel Creative Foundation (TCF) sejak tahun 2013. Sejak saat itu hingga sekarang terlibat aktif dalam menyelenggarakan acara-acara kesenian di wilayah Tangerang Selatan, mendampingi anak-anak muda berkarya dan melakukan kerja klaim ruang-ruang publik.

Salah satu yang menjadi legasi TCF adalah Taman Perdamaian, taman titik 0 kilometer di Bumi Serpong Damai. Dulu taman tersebut menjadi arena perkelahian geng motor dan tempat mabuk-mabukan.

banten biennale
Raden Eka Sutrisna, “Seba Baduy”. (Foto: Sartika Dian Nuraini)

 

TCF secara sadar melakukan kerja klaim ruang publik dengan cara merevitalisasi Taman Perdamaian dengan mengecat monumen dengan cat tembok bermacam warna, membuat mural, membangun sarana bermain anak-anak, hingga membangun amphitheater dan markas komunitas, sehingga dengan sendirinya kini masyarakat datang beraktivitas di taman, anak-anak datang bermain setiap sore. Mereka berhasil menyingkirkan preman tanpa perkelahian dengan seni dan manajemen komunitas.

Seniman lain yang turut mewarnai jajaran karya penting di Biannale Banten adalah Edi Bonetski. Edi membuat sebuah instalasi susunan styrofoam yang sengaja dia kumpulkan dari aliran Cisadane, Tangerang. Sampah-sampah sungai ia sulap menjadi bentuk mutilasi batang/tangan yang dicat perak. Instalasi itu disusun secara diagramatik, dikepung baju-baju dan kain-kain bekas.

Baca juga Menyebarkan Upcycling Lewat Threadapeutic

Edi adalah seniman Tangerang yang memiliki perhatian pada komunitas anak jalanan “Anak Langit” yang bermarkas di bantaran sungai Cisadane. Edi mendidik dan mendayagunakan anak jalanan atau anak putus sekolah yang hidup di bantaran sungai dengan aktivitas kesenian. Hari ini, Edi dan kawan-kawannya berhasil mengkooptasi sebuah area terabaikan bekas radio EMC Tangerang yang mereka namai Semanggi Kultur (Semangat Berbagi). Ia dan kawan-kawannya mengelola ruang itu dengan berkesenian dan manajemen komunitas.

Dari dua contoh di atas, kita bisa memahami bahwa “klaim ruang publik” dan semangat komunitas menjadi penting dalam percaturan aktivisme kesenian. Tetapi pergerakan tersebut bukan perkara sepele dan bukan tanpa perjuangan. Tentunya pergerakan mereka juga dihadapi berbagai kendala, ketika ruang itu menjadi semacam episentrum kebudayaan a la komunitas, gangguan dari ormas datang silih berganti, mencoba merebut ruang yang sudah mereka rapikan untuk kepentingan ormas yang mungkin jauh dari kepentingan kesenian dan kebudayaan.

Baca juga Dua Ruang Tintin Wulia di Venice Art Biennale

Sebuah pameran pun, sekali lagi, adalah usaha keras untuk menyambut publik. Mengingatkan deretan panjang betapa ruang wacana dikumpulkan dan diberikan ruang refleksifnya. Pemaknaan kembali kesenian dalam praksis menjadi semakin penting sebagai alternatif untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan. Melalui seni, manusia bisa berkata tentang segala hal dan melakukan banyak hal untuk berbagi.

Ini adalah pertaruhan lain, tatkala ruang-ruang kesenian yang tertata eksklusif di galeri semakin bebal pada apa yang seharusnya dikatakan di dalam dan di luar tubuh kesenian. Geliat dan kerja kultural melalui aspek-aspek lain yang lebih nyata “menyentuh” masyarakat dan ruang publik seharusnya menjadi agenda kolektif yang semakin meluas, seperti Banten yang menyedot perhatian tanpa ampun sembari berbisik, “Klaim!” untuk setiap ruang terabaikan di kota-kota. penutup_small

Artikel Banten dan Perebutan Klaim Ruang Publik dimuat di majalah SARASVATI edisi Desember 2017

Sartika Dian Nuraini – Penulis, anggota Koalisi Seni Indonesia.