Solo exhibition pertama Puri Fidhini bertajuk You, In a Glimpse, 17 November - 8 Desember 2017 di Orbital Dago, Bandung (Foto. Dok.Pribadi seniman)

Pengkaryaan Puri Fidhini selalu berangkat dari permasalahan sehari-hari yang dia alami dan bisa juga dialami orang lain. Mimpi yang berulang, siklus harian yang menerus namun luput dari kesadaran.

Hal-hal yang cukup sulit diceritakan secara lisan namun berada di kepalanya terus-menerus. Pemikiran-pemikiran demikian yang pada akhirnya diubah menjadi sebuah bentuk berkesenian.

Konsep ini jugalah yang dituangkan dalam solo exhibition pertamanya bertajuk You, In a Glimpse17 November – 8 Desember 2017 di Orbital Dago, Bandung. Ada 12 karya dengan cermin sebagai medianya bereksplorasi.

Cermin, sebagai benda harian dianggap sebagai sebuah alat untuk mengenali diri, tentang bagaimana kita selalu mempertanyakan penampilan kita, realitas atau bahkan hal-hal esensial mengenai eksistensi diri.

Baca juga Sketsa yang Berpuisi Seorang Goenawan Mohamad

Pengalaman tersebut terjadi berulang setiap hari, layaknya siklus, selalu mengulang seperti pergantian siang dan malam. Buat Puri, cermin ibarat sebuah kamera statis yang menangkap bahkan merekam peristiwa, objek dan manusia yang bergerak dan berlalu-lalang dihadapannya; hadir dan hilang, dan seterusnya. Segala yang terrefleksi pada permukaan cermin, terrefleksi dalam waktu sekilas.

“Ketika kita melihat pantulan diri pada sebuah permukaan reflektif, yang terlihat bukan hanya tubuh kita secara fisik, terdapat banyak pertanyaan, harapan, keinginan, kekaguman dan ketakutan yang terus hidup di dalam diri dan akan selalu berperan sebagai bagian dari proses identifikasi diri yang akan terus berlangsung sebagai dan menjadi ‘diri’ kita,” jelas Puri.

Pada tanggal 1 Desember mendatang, akan diadakan artist talk and discussion mengenai pengkaryaannya lebih lanjut. Sebagai bentuk “pemanasan”, Sarasvati merangkum obrolan bersama seniman yang juga berprofesi sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung ini.

Kapan pertama kali Puri beririsan dengan aktivitas seni? 

Sebenarnya sudah dari kecil saya suka seni dan punya cita-cita jadi pelukis. Kemudian dari bakat yang muncul lalu diarahkan orangtua sampai akhirnya berhasil kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB sampai jenjang S2. Proses dan tanggung jawab serta kesukaan terhadap bidang ini yang membuat saya pastinya harus yakin kalau ini memang bagian hidup saya.

Tentang You, In A Glimpse, bisa diceritakan bagaimana awalnya tema ini diangkat menjadi solo exhibition

Awalnya datang dari pembicaraan dengan Bob Edrian, selaku kuratornya. Bob melihat dalam beberapa tahun terakhir saya sudah cukup konsisten menggunakan medium-medium transparan dan reflektif sebagai medium berkarya yang salah satunya cermin. Dari sana kami sama-sama sepakat bahwa pameran tunggal perdana saya ini menyuguhkan karya-karya yang reflekif, dan memang berangkat dari sebuah peristiwa atau pengalaman pribadi saya ketika berhadapan dengan cermin.

Cermin, sebagai benda harian dianggap sebagai sebuah alat untuk mengenali diri – tentang bagaimana kita selalu mempertanyakan penampilan dan eksistensi kita sebagai manusia
Cermin, sebagai benda harian dianggap sebagai sebuah alat untuk mengenali diri – tentang bagaimana kita selalu mempertanyakan penampilan dan eksistensi kita sebagai manusia (Foto: Dok. Pribadi seniman)

Kenapa harus cermin?

Cermin ibarat frame statis yang merekam hal-hal yang terpantul di (permukaannya) depannya. Saya, kita hadir di depan cermin kemudian menghilang lagi, kemudian datang lagi, begitu seterusnya. Saya, kita, kamu, terpantul pada cermin milik kita hanya dalam waku sekilas. Peristiwa pribadi tersebut saya bawa ke sebuah ruang publik, dimana “You” mengarah pada seluruh apresiator, tidak lagi berada pada ruang privat tapi sebuah ruang yang bersifat publik.

Semua yang yang terpantul di cermin, terpantul hanya dalam sesaat, sekilas, in a glimpse. You, saya bawa pada sebuah keadaan yang membingungkan dimana apresiator mencoba memahami pesan atau maksud dari visual karya yang saya hadirkan di permukaan reflektif. Dalam waktu bersamaan, yang mereka lihat adalah diri mereka sendiri.

Dari 12 karya tersebut mana yang paling berkesan?

To Find Us Between Others sebenarnya, tapi proses pembuatan karya yang paling menantang yang seri Reality Distorted yang medium stainless di-bending manual.

To Find Us Between Others. diameter 58 cm, acrylic on back of scraped mirror, board 2016
To Find Us Between Others. diameter 58 cm, acrylic on back of scraped mirror, board 2016 (Foto: Dok. Pribadi seniman)
Reality Distorted: A Woman with Goldfishes, 150 x 110 x 45 cm, acrylic and oil on mirror polished-stainless 2017
Reality Distorted: A Woman with Goldfishes, 150 x 110 x 45 cm, acrylic and oil on mirror polished-stainless 2017 (Foto: Dok. Pribadi seniman)

Sebagai seorang seniman, ekspresi seperti apa yang Puri rasakan dan tidak akan didapati kalau terjun ke profesi lain?

Hmm…mungkin membuat sebuah produk seni yang dalam prosesnya berada di ambang “teratur, terkonsep, terstruktur” dan “suka-suka saya, tidak terikat client”. Semua seniman akademis saya pikir mengalami hal ini, dan menurut saya menarik.

Baca juga Menjawab Ajakan Erik Pauhrizi dan Erika Ernawan Untuk Migrasi di Rumah Sendiri

Siapa saja seniman yang karya-karyanya menjadi inspirasi Puri dalam berkarya?

Seniman dari luar ada Olafur Eliasson dan Michelangelo Pistoletto. Untuk Indonesia ada maestro Raden Shaleh yang selalu jadi favorit saya, lalu seniman kontemporer Mas Aditya Novali yang sebenarnya bukan referensi secara langsung, tapi saya selalu suka karya-karyanya.

Bagaimana Puri memandang perkembangan seni rupa di Indonesia dan geliat seniman-seniman di Indonesia? Punya harapan khusus?

Perkembangan seni rupa selalu menarik saja buat saya, dengan segala pasang surutnya. Harapan ke depannya semakin banyak seniman perempuan yang maju biar jumlahnya nggak jomplang dengan yang laki-laki.

Baca juga Mendekati Antariksa Bersama Radhinal Indra

Acara seni (pameran seni) rutin di Indonesia yang wajib didatangi versi Puri?

Artjog, Jogja Bienalle, Jakarta Bienalle dan Trienalle, Sea+, Bazaar Jakarta dan Artstage.penutup_small