museum macan
Pameran seni bertajuk "ART TURNS. WORLD TURNS" di Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta. (Foto: Jacky Rachmansyah)

“Art Turns, World Turns” menjadi pameran yang mengawali sekaligus penanda diresmikannya Museum Modern And Contemporary Art in Nusantara (MACAN) yang bertempat di AKR Tower, Kebon Jeruk, Jakarta. Di museum seluas 4000 meter persegi ini, pameran perdana yang dalam bahasa Indonesia bernama “Seni Berubah, Dunia Berubah” diselenggarakan, mulai 4 November 2017 hingga 18 Maret 2018.

Koleksi Museum MACAN sangat beragam; dari karya-karya bersejarah dari akhir abad ke-19 hingga saat ini; dari karya seni rupa dari Indonesia hingga luar negeri, baik Asia, Amerika, juga Eropa. Hal ini tentunya menjadi tantangan besar, mengingat jumlah koleksi yang harus dikurasi tidaklah main-main, yakni sekitar 800 karya.

Baca juga Dua Ruang Tintin Wulia di Venice Art Biennale

Koleksi ini tak lepas dari sosok penting di balik Museum MACAN, Haryanto Adikoesoemo, yang menghabiskan 25 tahun untuk mengoleksi berbagai karya dari dalam maupun luar negeri. Dari ratusan karya tersebut, Agung Hujatnika (Agung Hujatnikajennong) dan Charles Esche yang didapuk menjadi kurator pameran, memilih 92 karya yang mewakili koleksi Museum MACAN.

Liu Ye
Liu Ye, “PINK”, 90×90 cm, Acrylic on canvas, 2003. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Tajuk “Art Turns, World Turns”, secara singkat ingin membuka wawasan tentang kelindan dunia dan  seni rupa. Keduanya, baik dunia dan seni, terus-menerus mengalami perubahan. Dalam catatan kuratorialnya, Jennong dan Esche menuliskan:

“Kita tahu bahwa dunia pasti berubah, tetapi memahami perubahan dengan suatu kesadaran baru adalah persoalan lain. ‘Art Turns, World Turns’ tidak hanya bermaksud untuk melihat kembali perubahan yang telah terjadi dalam praktik artistik dan dunia sosial, tetapi juga menekankan inisiatif baru untuk terlibat dalam perubahan-perubahan tersebut.”

Untuk menilik perubahan seni dan dunia, kedua kurator menjadikan sejarah seni Indonesia sebagai kerangka utamanya. Karya-karya seniman Indonesia ditempatkan dalam empat bagian yang dibuat berdasarkan sejarah Indonesia sejak zaman prakemerdekaan hingga saat ini.

Empat bagian itu diberi nama Bumi, Kampung Halaman, Manusia; Kemerdekaan dan Sesudahnya; Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi; dan Racikan Global. Sepanjang empat bagian itu pula, sejarah seni Indonesia dihadapkan dengan karya-karya dari luar negeri, untuk menciptakan dialog yang memperlihatkan persamaan, perbedaan, juga ketergantungan, dari waktu ke waktu.

Baca juga Pasar Raya Dunia Investasi

Selain dipandu oleh empat bagian yang mengarahkan pengunjung pada narasi besar yang ditawarkan, pameran ini juga dilengkapi arsip-arsip yang menjadi bukti perjalanan sejarah seni rupa Indonesia. Kedua kurator dibantu Yacobus Ari Respati untuk mengumpulkan berbagai arsip, seperti artikel, katalog, hingga surat.

Yayoi Kusama, Infinity Mirrored Room
Yayoi Kusama, “Infinity Mirrored Room – Brilliance of the Souls”, 2014. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Beberapa arsip ditampilkan sebelum memasuki empat bagian pameran, yang menjabarkan perkembangan seni di awal abad ke-20, mulai dari periode saat belum ada institusi seni rupa, pengaruh politik etis, kemunculan Batavia Kunstkring, hingga perpindahan zaman kolonialisasi dari Belanda ke Jepang. Sedangkan arsip lainnya yang menjelaskan perkembangan seni rupa Indonesia hingga masa seni kontemporer , tersebar di beberapa titik yang sesuai dengan subtema pameran.

Bumi, Kampung Halaman, Manusia menjadi bagian pertama yang menyambut pengunjung. Bagian ini, menyoroti tiga elemen: bumi, kampung halaman, dan rasa memiliki yang sering ditanggapi oleh para seniman di masa prakemerdekaan. Di masa ini, identitas kebangsaan belum muncul dan objek kenampakan alam yang indah merupakan hal yang paling sering diangkat ke dalam karya.

Di bagian ini terdapat karya maestro Raden Saleh yang juga jarang dilihat publik, yakni Javanese Mail Station (Kantor Pos Jawa), menampilkan pemandangan hutan hijau yang dibelah Jalan Raya Pos. Di antara pepohonan yang begitu mendominasi lukisan, tampak beberapa orang menunggang kuda dan membawa kereta barang di jalan tersebut. Lukisan ini menceritakan Jalan Raya Pos yang dibuat menghubungkan ujung timur dan barat pulau Jawa pada awal abad ke-19 dan mampu mengakomodasi puluhan kuda dengan kecepatan 20 km per jam.

Baca juga Masa Depan Ingatan

Di lain sisi, representasi keindahan alam dan eksotika Nusantara, khususnya Bali, tampak banyak terbentuk oleh turis dan seniman asing yang datang untuk berlibur. Bali divisualisasikan sebagai pulau yang menampilkan eksotisme budaya dan perempuannya yang sering dilukiskan bertelanjang dada. Seperti yang muncul pada Map of Vali with the Rose of the Winds dari Miguel Covarrubias atau pada Balinese Weaver dari Lee Man Fong.

Masuk ke bagian Kemerdekaan dan Sesudahnya, pengunjung pertama-tama akan dihadapkan dengan karya-karya yang bernuansa kemerdekaan dan nasionalisme. Seperti yang terlihat pada lukisan S. Sudjojono bertajuk Ngaso, yang menonjolkan laskar rakyat yang ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ada juga yang tak kalah penting, seperti lukisan Dullah yang bertajuk Bung Karno di Tengah Revolusi, menonjolkan Sukarno yang tengah berorasi untuk memantik semangat para serdadu.

Raden Saleh, Araber zu Pferd
Raden Saleh, Araber zu Pferd von einem Lowen angegriffen, uk 30×40 cm, oil on canvas, 1849. (Foto: Jacky Rachmansyah)

Sedangkan setelah masa Kemerdekaan, para seniman cenderung mulai bereksperimen menampilkan cara ekspresi masing-masing. Hendra Gunawan dan Affandi, misalnya, semakin meninggalkan realisme. Di bagian ini pula terdapat sudut yang menampilkan lukisan potret diri. Salah satunya adalah potret diri Trubus Sudarsono, pelukis muda berbakat yang diculik dan menghilang pada masa Orde Baru karena dianggap sebagai aktivis gerakan kiri.

Lewat dari masa Kemerdekaan, seni rupa Indonesia mulai mengalami perdebatan seputar bentuk lukisan figuratif dan abstrak. Fase ini turut membawa kita ke bagian pameran yang ketiga, yakni Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi. Perdebatan yang terjadi di skena seni rupa tentang bentuk, tak semata-mata demi estetika, namun juga diikuti muatan politik antara kelompok LEKRA dan Manifes Kebudayaan.

LEKRA yang condong pada pemikiran kiri, menjunjung tinggi realisme sosialis yang menekankan pada nilai kerakyatan, sehingga harus tercermin pada karya-karya seni. Seni adalah untuk rakyat, sehingga harus mudah dimengerti dan berpihak pada rakyat di masa itu. Sedangkan Manifes Kebudayaan berkiblat pada humanisme universal dan menekankan bahwa seni seharusnya tidaklah berpihak, tidak mengandung bobot politik di baliknya. Seni dirasa lebih berkembang ketika seniman diberi keleluasaan dan kebebasan untuk menggagas tema apapun.

Baca juga Award untuk Seniman di ART STAGE Jakarta

Hal sebaliknya terjadi setelah 1966, ketika konflik seputar bentuk juga terjadi antara akademisi seni di Bandung dan Yogyakarta yang lebih didasari estetika dibanding politik. Seniman Bandung yang kebanyakan mahasiswa ITB lebih sering menampilkan lukisan non-representasional, sedangkan seniman Yogyakarta yang datang dari ASRI lebih menyukai gaya figuratif.

Terakhir, pameran ditutup dengan bagian Racikan Global yang lebih mencampur seniman Indonesia dan internasional tanpa melihat batas-batas negara. Setiap seniman hadir sebagai individu yang menghadirkan gaya dan gagasan tertentu dan kita bisa menemukan beberapa presentasi tunggal dari beberapa seniman yang telah “berhasil” menembus pasar dengan harga tinggi seperti Nyoman Masriadi dan F.X. Harsono. Tak ketinggalan karya-karya milik Damien Hirst ataupun Takashi Murakami. penutup_small

Artikel Perubahan Seni dan Dunia di Perdana Museum MACAN dimuat di majalah SARASVATI edisi Desember 2017