Benteng Keraton Buton. (Foto: Silvia Galikano)

Sejarah Buton terbilang unik. Berangkat dari posisinya di lalu lintas sibuk perdagangan rempah-rempah berabad silam.

Buton adalah pulau di “kaki” Sulawesi, bertetangga dengan Pulau Muna, masuk dalam provinsi Sulawesi Tenggara.  Mengalami masa kerajaan, kemudian kesultanan. Enam raja dan 38 sultan. Saat itu Buton bernama Wolio.

Masa kerajaan Buton berlangsung dari awal abad ke-14 sampai abad ke-16 dengan raja pertama Raja Putri Wa Kaa Kaa, dilanjutkan putrinya, Putri Raja Bulawambona. Pengaruh Hindu kental pada masa ini, serta sedikit Buddha dan Islam.

Baca juga Toko Roti Retro Terus Dirindu

Mulai abad ke-16 hingga tahun 1960, Buton adalah kesultanan. Sultan Murhum Kaimudin Khalifatul Khamis yang merupakan Raja Buton ke-6 menjadi sultan pertama Buton. Bertepatan dengan 1 Ramadhan 948 Hijriyah (1540 M) dia mengubah sistem kerajaan menjadi kesultanan.

Sultan Murhum ini dianggap pahlawan bagi rakyat Buton setelah menumpas bajak laut si mata satu yang terkenal kejam, La Bolontio. Dia juga berhasil mendamaikan dua kerajaan yang lama bertikai, Mekongga dan Konawe, dalam waktu delapan hari delapan malam. Murhum pun disegani raja-raja di Nusantara kawasan timur.

Murhum memerintah sebagai raja selama 20 tahun dan sebagai sultan selama 26 tahun. Pada masanya, dia menjadikan kesultanan Buton sebagai pusat syiar Islam.

Kamali berlantai 3 di Buton dengan latar depan jangkar kuno, dipercaya dari kapal Portugis. (Foto: Silvia Galikano)
Kamali berlantai 3 di Buton dengan latar depan jangkar kuno, dipercaya dari kapal Portugis. (Foto: Silvia Galikano)

Keunikan kerajaan Buton adalah tidak punya istana tetap, melainkan kamali (rumah jabatan sultan) yang asalnya rumah tinggal seseorang sejak belum menjabat sultan. Begitu rumah tersebut sah sebagai kamali, barang-barang milik kesultanan sebelumnya diangkut ke kamali yang baru hingga nanti jabatan sultan berakhir dan diganti sultan lain dan kamali yang lain.

Adanya kamali tak lepas dari sistem pengangkatan sultan Buton yang bukan berdasarkan keturunan sehingga tak ada istilah putra mahkota. Sultan diangkat atau dipilih dewan siolimbona.

Baca juga Selangkah dari Sekolah, Resto Pun Ramah di Kantong

Sekarang, sistem sultan masih dipegang walau sifatnya sebatas simbol lembaga adat. Sultan terakhir Buton adalah La Ode Muhammad Jafar yang dinobatkan sebagai Sultan Buton ke-39 pada 2012 hingga wafat pada 19 Juli 2013, dan belum diadakan pemilihan sultan yang baru.

Batu Popaua di Buton. (Foto Silvia Galikano)
Batu Popaua di Buton. (Foto Silvia Galikano)

Jalur perdagangan laut

Pada masa VOC, Buton adalah jalur perdagangan rempah-rempah, dari dan ke Maluku. Ramainya lalu lintas diikuti maraknya bajak laut. Kondisi ini meresahkan masyarakat yang umumnya nelayan dan tinggal di pantai.

Untuk mengamankan diri, masyarakat pindah ke tempat yang lebih tinggi, hingga akhirnya ditetapkan bahwa bukit tersebut sebagai tempat tinggal baru. Di sinilah La Buke, sultan ke-6, membangun benteng pada 1634-1645.

Benteng yang pertama dibuat bukanlah dari batu, melainkan dari pohon nanas, yang durinya pada masa itu efektif mencegah musuh masuk. Itu sebabnya nanas jadi lambang Buton dan dipasang di atap rumah tradisional Buton.

Benteng dari batu kemudian pada abad ke-16 dibangun sultan ke-3, La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin secara bertahap selama 10 tahun. Pagar dahulu baru kemudian isinya. Setelah rampung, benteng dengan bentuk lingkaran seluas 22,8 hektare itu punya 12 lawa (pintu) dan 16 baluara (meriam bastion).

Baca juga Bakoel Koffie, Ikhtiar Melanjutkan Garis Kopi

Benteng inilah pusat kesultanan Buton yang wilayahnya mencakup keseluruhan pulau-pulau utama; yaitu Pulau Buton, Pula Muna, Pulau Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, Pulau Rumbia, dan Pulau Poleang. Benteng Keraton Buton sekarang masuk dalam Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Selama pembangunan benteng, sejumlah hal unik terjadi, seperti tak ada yang menikah dan tak ada yang meninggal walaupun pada masa itu sedang musim kelaparan luar biasa.

“Anjing pun tak ada yang mati,” ujar La Ode M. Adam Vatiq, pemandu di Benteng Keraton saat Sarasvati bersama sejumlah media dari Jakarta mengunjungi Benteng Keraton di Baubau, Agustus 2016.

Pada masa pembuatan benteng pula ada seorang pedagang kaya yang berjasa, bernama Wa Ode Wau. Perempuan ini menyumbangkan telur ayam untuk para pekerja di musim kelaparan tersebut. Dia juga menyumbangkan putih telur untuk perekat benteng.

Baca juga Bali Hotel dan Singgahnya Negarawan Dunia

Karena jasanya, Sultan memberikan sebidang tanah yang luas terentang dari Lasalimu sampai Pasarwajo, atau hampir sepertiga panjang Pulau Buton, untuk Wa Ode Wau. Nama Wa Ode Wau pun dijadikan nama salah satu jalan utama di Baubau.

Karena Waode Wau tak berketurunan, tanah tersebut kini dimiliki negara. “Kalau beliau punya keturunan, mungkin akan jadi orang terkaya di sini,” kata Vatiq.

Dalam keraton

Di wilayah dalam keraton terdapat tempat-tempat bersejarah dan rumah penduduk yang seluruhnya masih terhitung bangsawan. Bangsawan Buton ada dua golongan. Pertama, golongan kaomu, yakni yang kelak berhak jadi sultan, dicirikan lewat rumah (kamali)-nya terdiri dari tiga lantai.

Golongan kedua, walaka, yakni majelis pembuat undang-undang, rumahnya terdiri dari dua lantai. Di luar dua golongan bangsawan itu adalah papara, yakni masyarakat biasa. Perempuan golongan papara bisa menjadi bangsawan jika dinikahi laki-laki bangsawan.

Kasulana Tombi berlatar belakang Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)
Kasulana Tombi berlatar belakang Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Bangunan bersejarah milik Kesultanan Buton sampai sekarang masih dapat dijumpai. Di antaranya Kasulana Tombi (Tiang Bendera) tempat dikibarkannya bendera kesultanan yang disebut Longa-longa dan tempat mengawasi lalu lintas laut. Didirikan pada 1712 pada masa pemerintahan sultan ke-19, Sultan Sakiyuddin Durul Alam (1712-1750). Tingginya 21 meter, berbahan kayu jati.

Ada dua versi yang diyakini asal kayu jati ini. Versi pertama adalah dari Kerajaan Patani (sekarang masuk Thailand Selatan) yang dibawa pedagang Filipina dalam persinggahannya sebelum ke Maluku. Versi kedua, kayu jati itu berasal dari Muna, pulau tetangga Buton.

Baca juga Pernah Azan Berkumandang Sayup di Musajik Usang

Pada 1870-an, tiang itu disambar petir sehingga mengalami kerusakan, tapi kemudian diperbaiki dengan diikat lempengan baja. “Umurnya hampir empat abad, tapi sampai sekarang masih kuat dipanjat. Ada kuasa doa di sini,” kata Vatiq.

Hanya berjarak sekitar 10 meter dari Kasulana Tombi, berdiri Masjid Agung Keraton (Masigi Ogena). Dibangun pada 1712 di atas fondasi batu gunung. Masjid berukuran 21×22 meter ini dapat memuat 1000 jamaah dan memiliki 12 pintu masuk. Satu di antaranya adalah pintu utama.

Letaknya di ketinggian. Ada sejumlah anak tangga beton untuk mencapai pintu utama. Bangunannya didukung tiang-tiang dan kerangka kayu kelas satu. Keunikan Masjid Agung Keraton adalah adanya liang atau pusena tanah (pusatnya tanah/bumi) di dalam masjid yang dipercaya “terhubung” langsung ke Mekah.

Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)
Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Sebelum dibangun masjid, di sini adalah tempat pertemuan rahasia. Saat berfugsi sebagai tempat pertemuan itulah terdengar azan dan shalat dari liang di tanah. Suara itu diyakini berasal dari Mekah.

Maka pada masa pemerintahan Sultan Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis, tahun 1542 M, di atas pusena itu dibangun Masjid Agung, menggantikan Masjid Agung yang terbakar di Kaliwu Liwuto. Masjid baru ini dibuat dari tiang kayu, dinding dari papan, serta atap alang-alang.

Dalam buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia (1999) yang ditulis Abdul Baqir Zein, tertulis fondasi Masjid Agung Keraton dibangun sedemikian rupa sehingga pusena terletak agak di belakang mimbar khatib atau di ujung kepala imam dalam keadaan sujud.

Baca juga Langgam Eklektik Hotel Trio Solo

Tatkala Masjid Agung dibangun, liang yang sesungguhnya adalah pintu gua bawah tanah itu berukuran sebesar badan manusia, pintu gua tegak lurus menghadap ke atas dan konon dalamnya tak dapat diduga.

Pada 1712, di masa Sultan Buton ke-19, Langkariri dengan gelar Sakiuddin Darul Alam, masjid ini direhabilitasi. Dinding papan diganti batu dengan spesi pasir dan kapur. Atap alang-alang diganti daun nipah.

Rehabilitasi berikutnya pada 1929 oleh sultan Buton ke-37, La Ode Muhamad Hamidi Qaimuddin. Atap masjid diganti seng. Tangga naik menuju masjid serta bagian dalam masjid diganti dengan campuran semen, pasir, dan kapur.

Baca juga Budaya dan Identitas Baru Tubaba

Saat rehabilitasi itu pintu gua ditutup dengan semen sehingga liangnya kini menjadi kecil dan bulat sebesar bola kaki. Liang diberi penutup dari papan yang dapat dibuka jika ada yang ingin melihat pintu gua bersejarah itu, atas seizin imam.

Walau terbuka untuk umum, masjid ini tidak selonggar masjid-masjid lainnya, karena di sini ada perangkat masjid. Ada, hadir di masjid. Selain tidak bisa sembarangan lalu lalang, minimal timbul rasa segan. Perangkat masjid mengenakan pakaian khas dari tenun Buton. Sesampai di ujung tangga, mereka akan menyandarkan tongkat jabatan, berderet di tempat khusus.

Imam Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)
Imam Masjid Agung Keraton Buton. (Foto Silvia Galikano)

Pelantikan raja

Berada di seberang Masjid Agung adalah Batu Popaua, batu berukuran 0,5×1 meter yang digunakan untuk pengambilan sumpah raja/sultan.

Prosesnya, calon Sultan menghadap kiblat, memasukkan kaki kiri dan kanan ke dalam celah batu hingga sedalam betis, sambil diputarkan Payung Kebesaran di atas kepala. Pengambilan sumpah jabatan dilakukan seorang dari Siolimbona (dewan legislatif) dan disaksikan seluruh aparat kesultanan dan masyarakat Buton.

Baca juga Cihampelas, Seruas yang Berbenah

Bentuk Batu Popaua menyerupai alat kelamin perempuan. Diyakini, ini tak lepas dari pemimpin pertama Buton yang seorang perempuan, Raja Putri Wa Kaa Kaa. Sekaligus menyimbolkan raja/sultan yang baru selesai dilantik diibaratkan baru lahir dari rahim perempuan.

Sebelum di Batu Popahua, proses pengambilan sumpah dilakukan di Batu Wolio, yang berjarak 50 meter di tempat yang lebih tinggi, dan konon bentuk asalnya mirip lingga. Dinamai batu wolio karena dulu kawasan ini adalah hutan atau weliah. Dari “weliah” jadi “wolio”, nama asli Buton.

Sekarang, batu itu sudah dalam keadaan terpotong hingga pangkal lingga, tersisa tinggi 1,4 meter dari tinggi asli 2 meter. Menurut Vatiq, yang memotong batu itu adalah La Ode Abdul Ganiu, ulama pada masa Sultan Idrus Kaimuddin, pada 1824, dengan alasan karena bentuknya serta dulu batu ini dijadikan tempat sesembahan masyarakat. Potongannya dibawa ke Kampung Robo-robo.

Walau sudah terpotong Batu Wolio saat ini masih disakralkan masyarakat Buton dan dianggap simbol kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Pendatang dari luar daerah dianggap belum tiba di negeri Buton jika belum memegang Batu Wolio.

Artikel Mula Buton dari Nanas Penangkal Bajak Laut dimuat di majalah Sarasvati edisi November 2016.