Franziska Fennert
"Heaven is Mind Power"; canvas, acrylic paint, spray paint, artificial leather, colored feathers, filling material, wire; 100 x 110 x 35 cm; 2017​ (Foto: S. Zahra)

Franziska Fennert, seniman kontemporer asal Jerman yang kini menetap di Indonesia, kembali membuat pameran tunggal. Bertajuk “Heaven in Mindset”, pameran yang dikurasi Anton Larenz ini digelar di Semarang Art Gallery, Semarang pada 18 November hingga 17 Desember 2017.

Fennert menyajikan instalasi, lukisan, dan seni video tentang  perlunya komunikasi antarmanusia demi mengatasi  keterbelahan ras dan budaya. Sekaligus mengingatkan  bahwa kita hidup di dunia yang berantakan sampai-sampai  aspek kemanusiaan diidentikkan dengan krisis dan keterpisahan.

Baca juga Urun Hysteria pada Kota

Sebanyak 27 karya berupa patung boneka, lukisan, dan instalasi dipamerkan. Ada pula sejumlah material temuan (found objects), seperti batu, kabel, bagian antena, pakaian bekas, dan tanaman anggrek. Beragam material ini menghasilkan komposisi warna cerah.

Warna, bagi Fennert, berarti penyembuhan, semacam terapi untuk pikiran dan jiwa. Wawasan dan pemahaman yang lebih luas tentunya juga bisa muncul saat orang mulai membuka hati dan pikiran mereka.

Franziska Fennert
“Precariat Of All Countries- Unite!”; artificial tiger fur, designed & printed stretched fabric, 43x45x4 cm; 2017 (Foto: S. Zahra)

Warna juga memiliki makna simbolik. Sama halnya dengan warna kulit manusia jadi penyebab penindasan hingga pemusnahan.  Pada karya berjudul Precariat Of All Countries – Unite! semua warna kulit manusia dipresentasikan melalui sarung tangan yang terbuat dari kain aneka warna yang diletakkan di atas selembar kulit harimau, simbol kekuatan.

Selain efek visual yang menarik, karya ini  memberi pesan bahwa orang-orang yang sedang hidup dalam kesulitan sebaiknya terus bersama dalam berjuang untuk bertahan hidup. Hal ini yang membutuhkan keberanian dan kekuatan.

Baca juga Reinterpretasi Imaji Historis di Biennale Jateng

Menurut Fennert, salah satu solusi mengatasi keterpisahan dan untuk bersatu kembali adalah melalui dialog atau diplomasi. Karya seni  dapat menjadi media komunikasi yang kuat dan efisien untuk memperluas pemahaman serta mengadaptasi pola pikir sehingga mengubah situasi dan kondisi ke arah yang lebih baik.

Untuk pameran ini Franziska Fennert banyak terinspirasi dari The Kybalion, buku terbitan 1908 dengan nama samaran Three Inisiates (Tiga Penggagas). Buku ini berangkat dari aliran Hermetisisme berikut filosofinya yang menjadi tonggak gerakan New Thought pada awal 1910.

Fennert menemukan begitu banyak gagasan yang sesuai dengan pemikirannya sendiri mengenai keterpisahan dan kesatuan, martabat, dan hubungannya.

Franziska Fennert
“I Dont Believe In Your Scape Goat”; canvas, acrylic paint, spray paint, artificial leather, colored feathers, filling , wire, gouache, artificial hair, resin, alumu (Foto: Wulan H.)

Sosok-sosok yang Fennert tampilkan terlihat unik, aneh, sekaligus lucu. Pilihan material disesuaikan dengan konsep awal, walau kadang dia memilih barang secara acak dan kebetulan.

Instalasi lain yang tidak kalah menarik adalah I Don’t Believe In Your Scape Goat. Teknologi komunikasi yang canggih seperti sekarang membuat berita dan informasi dapat tersebar dalam waktu singkat di seluruh dunia. Masyarakat seringkali  menerima mentah-mentah berita tanpa memeriksa objektivitas sumber informasi baru sehingga hoax atau berita palsu pun tersebar dengan mudah.

Peran seni di sini adalah untuk menyelidiki bagaimana sesuatu dipahami dan melalui sisi mana orang melihat seni. Kenyataannya suatu informasi biasanya dilihat hanya dari sisi yang sudah distereotipekan.

Baca juga Langgam Eklektik Hotel Trio Solo

Pada instalasi I Don’t Believe In Your Scape Goat, pemandangan langit berawan diibaratkan tubuh, sedangkan ruang terbuka sebagai wawasan dan  imajinasi. Tema karya ini berkaitan dengan pengecualian bagi minoritas, sehingga dijadikan kambing hitam.

Franziska Fennert
“Ephyphytes”; Merapi stone, upper jacket part, 150x50x80 cm, 2017 (Foto: Siti Zahra)

Fennert sangat tertarik mempelajari budaya lain sejak muda. Diawali dengan ketertarikan di bidang sastra, khususnya novel klasik Rusia, kemudian berkeliling  Eropa dan Asia Tengah.

Setelah belajar seni di Academy of Arts in Dresden, Jerman dan menjadi seniman profesional dia mengikuti kursus kaligrafi Tionghoa dan melukis menggunakan tinta. Selain itu, Fennert juga belajar melukis gaya Turki dan Bali.penutup_small