Made kenak, "Cerita Anak Gunung", 180 x 150 cm, 2017 (Foto: Dok. Dwi S. Wibowo)

Sekilas, jika kita melihat karya-karya yang hadir, memang tidak nampak adanya kesamaan tematik yang diusung masing-masing perupa. Jika tidak bertanya dan mengulik penjelasan dari mereka, barangkali kita hanya akan tersesat pada belantara estetika dari karya-karya yang secara teknis tergolong unggul.

“Dari Masa ke Rasa” yang digelar di Griya Art Gallery, Griya Santrian a Beach Resort and Spa (17 November – 30 Desember 2017), dipilih menjadi judul pameran dari lima orang perupa yang kini bermukim di lima kota berbeda. Dulu mereka pernah berada di kota yang sama dan belajar di kelas yang sama.

Mereka adalah Agung Tato (Surabaya), M. Muchlis Lugis (Makassar), Angga Sukma Permana (Yogyakarta), Agustan (Jakarta) dan Made Kenak Dwi Adnyana (Bali). Pertemuan awal mereka bermula dari ruang kelas, saat sama-sama menempuh pendidikan di program pascasarjana ISI Yogyakarta tahun 2012 lalu.

Meskipun begitu, mereka menolak jika digelarnya pameran yang kedua kalinya ini hanya sebatas reuni belaka. Yang hanya terkesan menjadi ajang kangen dan mengupas kenangan manis semasa kuliah saja. Bagi mereka, ruang kelas ternyata tidak hanya mempertemukan mereka sebagai individu, tetapi juga mempertemukan visi mereka dalam berkesenian.

Baca juga Lemak Hewan Penghasil Visual

Pernyataan itu juga dapat ditangkap dari pemilihan judul pameran ini, bahwasanya mereka berupaya melepaskan diri dari jerat “masa” yang dapat dimaknai sebagai waktu kebersamaan mereka di kampus, hingga berhasil menemukan pencapaian artistiknya masing-masing yang disimbolkan melalui “rasa”.

Pameran “Dari Masa ke Rasa” yang diselenggarakan di Galeri Griya Santrian ini merupakan yang kedua kalinya, setelah pameran dengan judul yang sama digelar di Galeri Orasis (Surabaya) pada tahun 2015 lalu.

Secara kekaryaan, kelima perupa ini menampilkan ciri khas dari pencapaian artistik yang mereka geluti selama ini. Seperti yang nampak pada karya-karya Agung Tato, perupa yang secara usia paling senior di antara mereka. Memiliki latar belakang pendidikan arsitektur membuat Agung memiliki kecenderungan untuk menghadirkan ruang dalam karya lukisnya secara harfiah.

Bangunan dan lanskap perkotaan menjadi tema yang secara bentuk, dia kuasai benar. Sekaligus meminjamnya sebagai medium untuk mewakili pesan-pesan yang ingin dia sampaikan kepada publik. Salah satunya dalam lukisan berjudul “Museum” yang menampilkan visual dari lengkung pada sisi dalam sebuah kubah. Selama ini, kubah dianggap selalu identik dengan bangunan Masjid.

Agung Tato,
Agung Tato, “Cerobong Kota”, 130 x 185 cm, 2014 (Foto: Dwi S. Wibowo)

Padahal, dari segi kesejarahan, bentuk arsitektur berbentuk kubah tidak hanya digunakan dalam kebudayaan Islam, melainkan pada bangunan-bangunan agama lain juga di Eropa, bahkan juga terjadi peralihan fungsi dari bangunan ibadah tersebut dari satu agama ke agama lain.

Baca juga Isu Ekologi dalam Praktik Seni Rupa di Bali

Menurut Agung, meski memiliki kemiripan karakter, namun arsitektur tidak bisa diklaim hanya mewakili satu identitas kultural. Di sini, dia berusaha mengkritik praktik beragama yang selama ini kerap melakukan klaim buta terhadap artefak kebudayaan hanya karena kemiripan.

Selain itu, Made Kenak juga menghadirkan kritik sosial yang berhubungan dengan ruang, terutama menyangkut kehadiran bangunan-bangunan di tengah alam. Dalam lukisannya yang berjudul “Artificial Landscape”, perupa asal Kintamani ini membenturkan gambaran gunung dengan bentuk-bentuk geometris yang mewakili berbagai komponen artifisial dalam praktik pengembangan infrastruktur.

Baginya, pembangunan tetap perlu dilakukan, selama tetap memperhatikan keharmonisan ruang dengan alam yang telah eksis lebih dulu.  Jika ditilik lebih mendalam, karya-karyanya tidak terlepas dari pengamatan sosial terhadap lingkungan tempat tinggalnya di Bali. Selama ini, panorama alam di Bali menjadi salah satu daya tarik utama bagi para wisatawan, namun pada praktik pengelolaan pariwisata itu sendiri justru sering memunculkan paradoks ketika berusaha mendorong pembangunan infrastruktur penunjang.

Sementara itu, karya grafis dari Muchlis Lugis yang berjudul “Bermain Kuda-Kuda” menghadirkan imaji surealistik. Karya yang diciptakan melalui teknik cukil karyu tersebut menggambarkan sesosok manusia gemuk yang anehnya memiliki kepala berbentuk jari.  Sosok tersebut nampak asyik bermain di atas kuda-kudaan meskipun sekelilingnya menunjukkan kondisi yang porak poranda.

Muhlis Lugis,
Muhlis Lugis, “Bermain kuda-kuda”, woodcut, 100×120, 2017 (Foto: Dok. Dwi S. Wibowo)

Menurut perupa kelahiran tahun 1987 tersebut, karya tersebut merupakan sebuah kritik terhadap perilaku manusia di masa kini yang seringkali abai terhadap bencana yang terjadi di lingkungan sekitarnya dan justru asyik menikmati permainan atau kegemarannya sendiri.

Baca juga Susahnya Menjelaskan Diri

Gambaran ini menjadi potret dari perilaku manusia yang makin individualistik di tengah perkembangan teknologi. Sosok manusia berkepala jari itu, mau tidak mau memaksa kita untuk melihatnya sebagai analogi dari manusia yang asyik menggerakkan jarinya di layar gawai, tanpa peduli pada lingkungan terdekatnya.

Angga Sukma Permana juga menghadirkan karya grafis dalam pameran ini, tidak jauh berbeda dengan karya Muhlis yang juga menampilkan imaji surealistik. Dalam karya yang berjudul “Bidikan Harapan”, Angga menggabungkan antara lanskap bangunan perkotaan dengan gurita berukuran raksasa.

Gurita tentu segera mengingatkan kita pada kejahatan yang dilakukan yang dilakukan secara luas dan masif, misalnya kita sering menyebutkan perilaku korupsi yang telah menggurita karena melibatkan banyak pihak sebagaimana hewan ini memiliki banyak kaki. Visual yang nampak dalam karya ini memperlihatkan pertarungan yang dilakukan oleh seorang manusia yang memegang tameng pancasila, sebagaimana yang ada di dada garuda, sembari memegang bamboo runcing.

Pemaknaan yang mungkin dilakukan terhadap karya ini, tentu akan segera tertuju pada realitas kebangsaan di Indonesia saat ini. Bagaimana negara ini berhadapan dengan berbagai musuh yang mengancam kedaulatannya sebagai bangsa.

Baca juga Butet Kartaredjasa Bermain Rupa dengan Keramik

Sedangkan, karya dari Agustan masih menghadirkan ciri khasnya selama ini yang menciptakan figur dengan memanfaatkan bentuk lipatan kain sarung bugis.  Namun salah satu lukisannya yang menarik berjudul “Yang di Pinggir” tidak hanya menampilkan figur imajinatifnya tersebut, tetapi juga menampilkan lukisan seragam tenaga kerja berwarna oranye.

Lukisan ini seperti berusaha untuk menghadirkan realitas kecil dari kehidupan di perkotaan, dimana para tenaga kerja yang selalu menggunakan seragam ini justru seringkali terpinggir dari perhatian masyarakat, padahal mereka memiliki jasa yang besar dalam menjaga kebersihan kota.

Agustan,
Agustan, “Yang di Pinggir”, Oil on Canvas, 140 x 110 cm, 2017 (Foto: Dwi S. Wibowo)

Hal remeh yang justru kerap enggan kita lakukan sendiri. Secara umum, karya-karya yang hadir dala pameran ini memiliki pesan sosial yang mendalam, terutama menyangkut realitas sosial yang berlangsung di kota tempat bermukim tiap perupa tersebut. Barangkali itulah, benang merah yang dapat dilihat dari perbedaan karakter pada setiap karya yang ada di pameran yang berlangsung hingga 30 Desember ini.penutup_small