Jafar Huda Cahyanto,
Jafar Huda Cahyanto, "Maha Atma", tembaga, kayu mahoni,eser beton, teknik ukir logam wudulan dan endak-endakan,100x150cm, 2016. (Dok. Jafar Huda)

Semakin longgarnya batasan antara seni rupa murni, seni kriya, dan seni desain dalam wacana seni rupa kontemporer, kini banyak perupa memanfaatkan seni kriya sebagai bahasa ungkap mereka dalam berkarya. Seperti disajikan 16 perupa yang terdiri dari dosen, alumni, dan mahasiswa  Jurusan Seni Rupa Universitas Surabaya.

Mereka menggelar pameran bertajuk “Memetri Kriya” pada 24 November 2017 hingga 6 Januari 2018 di Gallery House of Sampoerna, Surabaya dengan mengusung 36 karya berbasis seni kriya tradisional.

Baca juga Mempertanyakan Murni Pada ICAD 8

Memetri kriya dimaksudkan menjaga atau mempertahankan keaslian teknik berkarya dengan cara tradisional yang pengerjaannya butuh ketrampilan tangan. Ada berbagai material yang disuguhkan dalam pameran kali ini, mulai dari karya berbahan logam, kayu, kain/batik, hingga keramik.

Enam belas perupa itu adalah Chrysanti Angge, Achmad Nurries, Faisal Wilma, Jafar Huda Cahyanto, Nurul Dwi Injaya, Wahyu Ferdian, Achmad Hozairi, Cokro Retantoko, Muhamad Taufik, Prasatyawan, Singgih Prio Wicaksono, Sulbi Prabowo, Fera Ningrum, Okiek Febrianto Setiawan, Muchlis Arif, dan Sofia Marwati.

Baca juga Eddie Hara Garap Merchandise Art Dept ID

Empat dari 36 karya berikut patut dicermati:

  1. King and Queen Jasmine karya Chrysanti Angge.
Chrysanti Angge,
Chrysanti Angge, “King and Queen Jasmine”, 100x100cm (2panel), teknik ukir logam endak-endakan dan krawangan, 2016. (Dok. Chrysanti Angge)

Makin maraknya manusia berlomba-lomba berkuasa menggunakan cara-cara kotor menjadi sorotan Chrysanti. Menghadirkan dua panel karya berupa potret lelaki dan wanita berhias melati di mahkotanya, yang dikerjakan dengan teknik ukir logam endak-endakan dan krawangan. Chrysanti mengingatkan agar pemimpin tidak melupakan tugas mulianya memakmurkan rakyat.

  1. Terkikis karya Okiek Febrianto Setiawan.
Okiek Febrianto,
Okiek Febrianto, “Terkikis”, batik lukis, kain, pewarna remasol,100x100cm. (Dok. Okiek Febrianto)

Okiek berupaya mengkritisi kondisi lingkungan alam yang rusak akibat eksploitasi manusia yang  diekspresikan lewat batik lukis. Dia menghadirkan unsur-unsur visual berupa garis tidak beraturan  serta retakan yang dikombinasikan dengan warna tumpang tindih.

  1. Konsumsikillme karya Singgih Prio Wicaksono.
Singgih Prio Wicaksono,
Singgih Prio Wicaksono, “KonsumsiKillMe”, teknik pahat, kayu mahoni, sampah kemasan, resin, 80x200cm, 2016. (Dok. Singgih Prio Wicaksono)

Karya ini menampilkan binatang yang terkapar dengan isi perut menganga berisi sampah kemasan. Dikerjakan dengan teknik pahat pada kayu mahoni dikombinasikan dengan kaleng-kaleng minuman kemasan. Singgih mengkritisi budaya konsumtif manusia yang abai akan bahaya sampah bagi kehidupan.

  1. Pernah Hidup karya Muchlis Arif.
Muchlis Arif,
Muchlis Arif, “Berteduh#1”, stoneware, 44x83cm, 2017. (Dok. Muchlis Arif)

Karya stoneware ini menghadirkan paha ayam dalam piring yang mengkritisi budaya konsumtif di segala aspek kehidupan.

Selama pameran berlangsung diselenggarakan pula acara wokshop beragam seni kriya dan pengunjung diberi kebebasan untuk berkarya di ruang pameran dengan alat dan materi yang disediakan panitia penyelenggara. penutup_small