Ada 11 karya yang ditampilkan Anton Afganial dalam pameran tunggal perdananya di Bentara Budaya Yogyakarta bertajuk “The World Around Me” (5 – 13 Desember 2017) (Foto: Riski Januar)
Ada 11 karya yang ditampilkan Anton Afganial dalam pameran tunggal perdananya di Bentara Budaya Yogyakarta bertajuk “The World Around Me” (5 – 13 Desember 2017) (Foto: Riski Januar)

Ada 11 karya yang ditampilkan Anton Afganial dalam pameran tunggal perdananya di Bentara Budaya Yogyakarta bertajuk “The World Around Me” (5 – 13 Desember 2017), yang dibuka oleh dr. Edi Sunaryo.

Melihat karya Anton, kita akan menghadapi ornamen tak beraturan, warna-warna yang bergerak liar menjarah seisi bidang kanvas. Garis-garis hitam muncul hampir di semua lukisan seolah hitam adalah “senjata” untuk mengikat bentuk atau memisahkan bentuk yang satu dengan yang lain dan menghasilkan keharmonisan dalam bentuk yang berantakan.

Karya Anton adalah sekumpulan benang kusut warna-warni yang tidak ada ujungnya, karya-karya ini menegaskan teritori sendiri, melepaskan diri dari senimannya dan membentuk gagasan masing-masing dari siapapun yang melihat.

Dari 11 karyanya, ada 5 terbaik yang menarik untuk dijelajahi lebih lama…

1. Feeling to Die

Anton Afganial,
Anton Afganial, “Feeling to Die”, Acrylic on Canvas, 210 x 130 cm, 2017 (Foto: Riski Januar)

Karya ini memperlihatkan dominan warna hitam sebagai tapak landas dari warna-warna cerah di atasnya. Feeling to die yang berarti merasa mati adalah keadaan yang seolah-seolah dialami padahal tidak. Kata “die” (mati) sendiri dalam masyarakat kita memiliki makna yang sangat banyak. Mati tidak selalu menjadi akhir dari kehidupan. Mati adalah kata yang juga memaknai sebuah kegagalan, kemunduran, dan akhir dari sesuatu. Entah itu hilangnya nyawa ataupun hal yang lain.

Baca juga Upaya Pemurnian Seni di Sebuah Art Gallery “Raksasa”

Anton menyuguhkan bagaimana rasa dari mati menggunakan warna-warni yang kontradiktif dengan esensi dari mati itu sendiri. Jika kita mengamati detail karya ini akan tampak bahwa semua bentuk dan warna akan selalu berakhir dengan warna hitam. Hitam mempersatukan bentuk-bentuk ini. Setiap bentuk dan warna ternyata tidak dibangun tumpang tindih, namun ditata secara terpisah dengan celah-celah hitam yang seolah-olah mendikte setiap warna.

2. Dream to Forest

Anton Afganial,
Anton Afganial, “Dream to Forest”, Acrylic on Canvas, 200 x 180 cm, 2017 (Foto: Riski Januar)

Anton mencoba membangun sebuah landscape tentang hutan. Warna hitam, merah, hijau, biru dan abu-abu membentuk sebuah kesatuan alur yang menggiring mata untuk berhenti di tengah pusaran yaitu sebongkah bentuk-bentuk berwarna hijau.

Baca juga Goresan Pada Novel dan Ekspresi-ekspresi Sesudahnya

Setelah sampai pada titik ini, mata akan digelitik oleh garis-garis panjang dan tajam berwarna hijau yang tersebar di seluruh bidang kanvas. Garis-garis ini menggoda mata untuk beralih sehingga karya ini tidak pernah selesai untuk dilihat. Anton seolah berusaha mengajak kita merasakan pengalaman mimpinya secara harfiah melalui alur dari garis dan warna yang membimbangkan mata saat berusaha mengidentifikasi objek.

3. Damn of War

Anton Afganial,
Anton Afganial, “Damn Of War”, Acrylic on Canvas, 360 x 190 cm, 2014 (Foto: Riski Januar)

Karya ini membentuk sebuah teritori. Dominasi warna merah dengan latar berwarna biru memberikan kesan berani. Ada pergulatan semu antara objek-objek dalam karyanya. Karya yang dibuat pada tahun 2014 ini merupakan karya dengan ukuran yang besar (360 x 190 cm), sehingga kita harus mengamati satu per satu bagian. Bagian-bagian ini berkecamuk satu sama lain dan memaksa kita menerjemahkan sendiri tentang perang apa yang sedang terjadi.

4. Igneous Memory

Anton Afganial,
Anton Afganial, “Igneous Of Memory”, Acrylic on Canvas, 280 x 180 cm, 2015 (Foto: Riski Januar)

Igneous Memory yang berarti memori beku adalah sebuah karya yang energik. Warna dan komposisi bentuk saling tabrak menabrak. Anton menggambarkan suasana yang berkecamuk tentang sebuah proses ingat mengingat yang dialaminya. Warna-warna putih cukup menarik perhatian mata untuk mengamati objeknya satu per satu. Warna dan garis ini menuntun mata secara frontal untuk pindah dari sebuah bentuk ke bentuk yang lain. Anton mengomposisikan objeknya penuh sesak lalu mengulurnya sedikit, memberi ruang agar kita memaknai apa yang kita rasa.

5. Djava of The Djava

Anton Afganial,
Anton Afganial, “Djava Of The Dava,” Acrylic on Canvas, 180 x 180 cm, 2017 (Foto: Riski Januar)

Karya ini terdiri dari objek-objek kecil yang sangat banyak dan bertumpuk penuh sesak. Beberapa objek berwarna putih menyerupai binatang sedang berlarian lalu tenggelam dalam tumpukan warna. Anton berusaha menyampaikan sebuah gagasan melalui peristiwa dalam lukisannya. Setiap orang bisa merasakan warna dan bentuk-bentuk yang berkecamuk, menerjemahkannya ke dalam bentuk objek yang lain bahkan peristiwa yang berbeda.penutup_small