"Bojoku Dadi Wayang" karya Untung Saryanto, 29 x 42 cm, oil pastel, watercolor and marker on paper, 2017 (Foto: Ester Pandiangan)

Apa jadinya kalau wayang-wayang yang biasa kita baca di buku ataupun saksikan di pertunjukan memainkan lakon kekinian yang terjadi di era sekarang?

Inilah yang dilakukan 17 dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara lewat pameran “Ndalang” yang berlangsung 21-30 November 2017 di Galeri Cipta 2, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Ndalang sendiri berarti dhalang atau orang yang memainkan pertunjukan wayang kulit purwa. Dalam pameran ini mereka diandaikan menjadi dalang yang menarasikan persoalan-persoalan terkini dan mendemonstrasikannya secara visual.

Baca juga Mendekati Antariksa Bersama Radhinal Indra

Di tangan mereka, tokoh-tokoh wayang mengambil rupa profesi-profesi modern serta mengikuti kelakuan orang-orang sekarang. Ada kegelian serta ketertegunan mengamati wayang-wayang zaman now, bikinan Abidin Noor, Ananta O’ Edan, Untung Saryanto, Yassir Malik dkk ini.

Pernah membayangkan seandainya wayang naik sepeda motor, menjadi foto model, bermain gitar ataupun naik pesawat? Toto M. Mukmin melukiskannya melalui Series of Kurawa In Nowadays. Sudut pandang Toto terbilang humoris nan kocak ketika mengejawantahkan tema ini. Kalaulah wayang dihidupkan di zaman sekarang, tentunya keseharian yang mereka lakoni adalah hal-hal yang dibikin Toto ‘kan?

Berbeda dengan Toto, Ananta O’Edan lebih menggali sisi kehidupan penduduk Jakarta yang diwarnai sikut-sikutan. Makanya dia menggambarkan Hanoman dan Cakil mengenakan sarung tinju lewat Bertaroeng. Selalu ada peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Tidak selamanya kebaikan selalu berhasil melawan kejahatan. Begitulah senyata-nyatanya kehidupan.

“Bertaroeng” karya Ananta O’Edan, 200 x 300 cm oil on canvas, 2017 (Foto: Ester Pandiangan)

Baca juga Bahasa Spiritual Made Wianta

Sebuah bentuk yang lebih feminis diterjemahkan oleh Andre Random lewat Shinta Vs Rahwana. Mungkin, ya mungkin…seandainya drama penculikan Rama dan Shinta terjadi di zaman sekarang, Shinta tidak perlu menunggu Rama dan para pesuruhnya untuk menyelamatkan dirinya karena dia dapat meninju Rahwana dengan tangannya sendiri. Tidak akan ada Shinta Obong. Untuk apa dia membuktikan kesucian buat laki-laki yang bahkan tidak tahu makna “kesucian” itu sendiri?

Sebagaimana Andre mengangkat isu perempuan, Augustina Ika menampilkan tema yang kurang lebih sama lewat Let Her Shine. Seolah menyampaikan biarkan setiap perempuan “bersinar” dengan cara-caranya sendiri. Bahkan ada tokoh Banowati yang ditempatkan Augustina dalam karya instalasinya tersebut.

“Shinta Vs Rahwana” karya Andre Random, 1000 x 5500 pixel, digital, 2017 (Foto: Ester Pandiangan)

Untung Saryanto lebih membawakan wayang ke bentuk yang personal. Dia mewujudkan istrinya dalam rupa-rupa wayang bermartabat dalam Bojoku Dadi Wayang. Jadilah sang istri menjadi Supraba, Drupadi, Sembadra, Srikandi dan lain-lainnya. Ini tak lain adalah bentuk kekaguman Untung pada sang istri yang dianggapnya memiliki kehebatan sama seperti yang tokoh-tokoh yang disebutkan tadi.

Baca juga Mencicipi Pakkat dan Holat, Kuliner Khas Tapanuli Selatan

Kuss Indarto selaku kurator dalam pameran ini mengatakan tingkat kekariban para perupa dengan tokoh-tokoh wayang sendiri tidak menjadi suatu yang mutlak untuk dibawakan ke dalam ranah pameran. Ada beragam perspektif untuk melihat wayang yang dikerjakan secara kreatif melalui subyektivitasnya masing-masing. Sehingga, respons publik melalui sudut pandangnya sendirilah yang akan menguji karya-karya tersebut.

Lantas, pertanyaan tersebut memantul ke pribadi kita masing-masing, cerita seperti apa yang ingin dijalankan kalau Anda bertindak sebagai dalang?penutup_small