Ketika kelam Berlalu, Photography on Photo Paper, 48 x 38 cm, 2017 (Foto: Riski Januar)

Ingatan adalah proses memperoleh pengetahuan, membayangkan dan memanipulasi pengetahuan, atau dalam kata lain proses ini disebut juga dengan kognisi. Ingatan terhadap sebuah kenangan tidak mungkin bisa dihadirkan seutuhnya karena keterbatasan otak yang hanya mampu menangkap hal-hal penting dan berkesan saja.

Nofria Doni Fitri mencoba untuk memvisualkan keterbatasan tersebut melalui pameran tunggalnya bertajuk “Visual Resonansi” yang diadakan di Galeri Visi, STSRD VISI, Yogyakarta, 25 – 30 November 2017.

Pameran yang dibuka oleh dr. Melani W. Setiawan ini menyajikan lebih dari 20 karya fotografi dengan imaji blur yang disengaja oleh sang seniman. Menurut Melani, karya fotografi dengan imaji blur adalah bentuk impresionisme dalam seni fotografi. Impresionisme berarti menampilkan kesan-kesan pencahayaan yang kuat melalui penekanan pada warna dan bukan bentuk.

Baca juga Wayang-wayang Zaman Now

Begitupun dalam karya-karya fotografi yang dihadirkan oleh Doni Fitri, terdapat berbagai macam objek seperti kesan rumah dan jalanan yang bisa diidentifikasi dibalik blurnya. Sementara itu, objek pada beberapa karya lainnya sulit untuk diidentifikasi, sehingga menghasilkan pemahaman bentuk yang berbeda-beda dari setiap orang yang melihat karya. Secara tidak langsung ini mengajak orang untuk berinteraksi.

Karya-karya ini seolah-olah mengembalikan fotografi kepada esensinya, yaitu melukis dengan cahaya. Cahaya dan warna menghasilkan imaji yang memberi kesan pada sebuah bentuk. Bentuk-bentuk kabur ini adalah ungkapan transformasi ingatan Doni Fitri terhadap kenangan dan kejadian yang coba dirangkai kembali melalui karya fotografi.

Melani W. Setiawan menikmati salah satu karya Doni Fitri
Melani W. Setiawan menikmati salah satu karya Doni Fitri (Foto: Riski Januar)

Dicetak dengan ukuran kecil, membuat pengunjung harus mendekat saat mengamati karya-karyanya. Doni Fitri seakan mengajak para penonton karyanya untuk “berdiskusi” mengenai karyanya mulai dari ukuran sampai visual yang kabur.

Resonansi adalah peristiwa bergetarnya suatu benda karena ada benda lain yang bergetar. Bentuk dari getaran benda ini divisualkan sehingga menghasilkan visual resonansi. Benda dalam hal ini adalah ingatan. Ketika sebuah hal terjadi maka kita mengingat hal yang lain. Resonansi ingatan ini dijebak ke dalam visual fotografis dan menghasilkan imaji yang blur. Blur adalah bentuk ungkapan paling realistis dalam memvisualkan ingatan yang coba digali oleh Doni Fitri.

Pada tulisan Bonela Boneta yang dimuat pada pengantar pameran Doni Fitri, dikatakan bahwa karya-karya pada pameran tunggal Doni Fitri kali ini mempersoalkan gaung visual yang pada awalnya dipicu oleh pandangan mata kemudian tersimpan dalam memori.

Baca juga Cermin-cermin Puri Fidhini

Gaung visual tersebut dapat menghubungkan antara dirinya dengan rekaman kenangan. Kekaburan pandangan pada objek-objek akhirnya menyisakan gradasi warna yang berpendar.

Doni Fitri menyadarkan bahwa banyak hal-hal sepele (biasa) seperti rumah, lorong, dan ruang publik mampu beresonansi pada dirinya. Menghadirkan bentuk blur pada karyanya justru memperjelas gagasannya. Pada situasi ruang dan waktu yang sama memori dapat mengubah partikel pasif menjadi gelombang aktif, di sinilah proses resonansi kembali terjadi.

Sulit untuk membangun sebuah persepsi atas karya-karya Doni Fitri. Karya-karya ini subjektif terhadap objek dan warnanya. Pameran ini seperti sekumpulan ingatan yang coba disatukan namun tidak pernah bersatu.

Heler, Photography on Photo Paper, 48 x 38 cm, 2017
Heler, Photography on Photo Paper, 48 x 38 cm, 2017 (Foto: Riski Januar)

Selalu ada bagian yang hilang dan tidak pernah selesai. Hal ini membentuk sebuah ego tentang usaha Doni Fitri meraih kuasa ingatan namun tidak pernah berkuasa seutuhnya atas ingatannya sendiri. Kegagalan mengingat itu mungkin melandasi Doni Fitri memvisualkan karya dengan imaji kabur sebagai bentuk realitas atas proses mengingat yang sebenarnya.

Baca juga Saumata dan AGSI Sandingkan Arsitektur dan Seni

Karya-karya Doni Fitri adalah foto yang tidak biasa. Kamera tidak sekadar diperlakukan sebagai alat perekam momen, namun lebih difungsikan untuk mengonversi ingatannya ke dalam sebuah suasana yang terjadi pada saat ini. Doni Fitri meresonansi ingatan dalam proses kognisi yang unik. Dia menarik segelintir ingatan masa lalunya untuk dialami kembali di masa kini, dan apa yang dialaminya divisualkan dalam medium fotografi.

Titik Lenyap, Photography on Poto Paper, 23 x 28 cm, 2017
Titik Lenyap, Photography on Poto Paper, 23 x 28 cm, 2017 (Foto: Riski Januar)

Pameran resonansi ini mencoba memperlihatkan proses mengingat yang tidak pernah selesai karena waktu memang tidak bisa dilipat. Doni Fitri berhasil memvisualkan realitas sebenarnya dari sebuah ingatan yang memang tidak sepenuhnya bisa diingat (blur). Karya-karya ini adalah bentuk realis dari usaha merekonstruksi ruang dan waktu yang pernah dilalui Doni Fitri di masa lalu.penutup_small