Sosok Semar dalam karya
Sosok Semar dalam karya "Punakawan Unfriend" (Foto: Dok. Butet Kartaredjasa)

Pada 30 November 2017 mendatang, Butet Kartaredjasa akan meresmikan pembukaan pameran solo perdananya di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Betul, bukan peresmian pertunjukan atau program televisi terbaru, namun pameran seni rupa, bertajuk “Goro-Goro”.

“Orang-orang hari ini mungkin lebih mengenal saya dari ranah pertunjukan, tapi saya bermula dari seni lukis,” ujar Butet. Penggagas teater Indonesia Kita ini mulai mengenyam pendidikan formal seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Yogyakarta pada  1978-1982.  Di sana ia mengambil jurusan seni lukis bersama Suwarno Wisetrotomo, anak dari Kalibiru, Kulon Progo, yang segera menjadi menjadi teman satu komplotannya.

Warno, yang kini dikenal luas sebagai kurator dan Ketua Program Studi Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Yogyakarta, menjadi saksi hidup Butet merintis perjalanan berkeseniannya sebagai perupa. Beberapa di antaranya yakni aktif membuat sketsa dan drawing untuk sejumlah media massa seperti HAI, HORISON, dan Bernas, serta  sebagai penulis esai tema sosial budaya dan review seni rupa, sambil mulai berteater.

Tahun 1982, mereka berkomplot lagi melamar sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI “ASRI”) Yogyakarta, di kampus Gampingan. Di awal tahun kedua berkampus, Butet tampak sudah ancang-ancang men-drop out-kan diri sebagai mahasiswa STSRI “ASRI” Yogyakarta.

Cara mengkritik kondisi sosial politik pada karya seni rupa Butet mirip dengan cara yang dilakukannya pada karya-karya seni pertunjukannya.
Cara mengkritik kondisi sosial politik pada karya seni rupa Butet mirip dengan cara yang dilakukannya pada karya-karya seni pertunjukannya. (Foto: Dok. Butet Kartaredjasa)

Baca juga Banten dan Perebutan Klaim Ruang Publik

Warno mencatat, pada akhirnya Butet benar-benar hengkang dari kampus, setelah sebelumnya ada upaya bujuk rayu dari sejumlah dosen, antara lain oleh Pak Broto (sapaan pada dosen mereka, Soebroto Sm) agar ia bersabar untuk menyelesaikan kuliahnya. Butet memutuskan keluar dari kampus pada 1987, akhir tahun kelima kuliah, “Karena mata kuliah dasar harus diikuti, padahal semua itu sudah saya kerjakan sebelumnya,” kata Butet.

“Ia merasa bosan, atau tepatnya buang waktu. Justru keputusannya untuk keluar di tengah jalan itu, ingin menambah waktu tempuh perjalanan dan pergulatan keseniannya. Dan itu memang benar. Hampir seluruh ruang kemungkinan dimasuki, digulati, dan dikembangkan,” tulis Warno dalam catatan pameran Benih yang Terus Tumbuh dari Karangmalang. Meskipun tetap menulis dan berinteraksi secara pasif di dunia senirupa, agaknya dunia seni pertunjukan lebih menggodanya. Ia pun kian aktif berteater, bermain film, dan  mengulik program TV.

Namun pada 2015, dorongan untuk berseni rupa itu mencuat lagi. Kala itu, ia baru saja melakukan terapi otak digital substraction angiography (DSA),  “Saya merasa otak saya sering hang,” celetuknya. 

Dari terapi itu, memori lama saat berseni rupa muncul kembali, menghadirkan keinginannya untuk kembali melukis. Alih-alih melukis di atas kanvas seperti yang biasa ia lakukan, Butet kali ini mengelaborasikan keriangan bermain dalam proses berkaryanya menggunakan medium keramik, yang baru baginya. “Banyak hal yang masih saya pelajari dari membuat keramik, sehingga spekulasi dalam proses pembuatannya membuat kesenangan saat berkarya,” jelas Butet.

Baca juga Biennale Mini yang Minim

Ide untuk menggunakan medium keramik ini juga disokong pengalamannya ketika mengunjungi pabrik keramik di Karawaci, Tangerang. Kala itu, ia bermaksud untuk menggunakan bangunan tersebut sebagai lokasi syuting. Lokasi inilah yang kemudian dipilihnya untuk kembali berkarya, kali ini dalam bentuk seni rupa.

Setiap ada kegiatan di Jakarta, selama 2015-2017, Butet menyempatkan diri untuk bermain dengan keramik di pabrik tersebut. Terkadang, ia juga menyengajakan diri untuk menginap selama dua minggu di sana, sembari mengolah karyanya dan bertukar pikiran dengan para pekerja pabrik. “Jadi seperti residensi di sana,” ujar  Butet tertawa.

Sejumlah perlakuan diterapkannya saat bermain-main dengan keramik. Keramik menjadi “kanvas”, misalnya. Setelah menciptakan “kanvas” yang tepat,  Butet kemudian melukis di atas keramik pipih tersebut. Lempengan itu lalu dibakar dan diglasir, lalu bebeberapa di antaranya diglasir lagi.

Butet juga bermain dengan pola lewat susunan lempeng-lempeng keramik yang telah diwarnainya. Beberapa elemen lukisan di atas keramiknya juga dipadukan dengan kayu dan baja untuk membentuk sejumlah karya utuh.

Serial Punakawan, misalnya. Pada karya “Punakawan Unfriend”, Butet memajang lukisan “pecah” empat tokoh punakawan di atas plat-plat baja. Visualisasi keramik berlukis Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong yang terbelah-belah menjadi metafora bagaimana karakter penyelaras dan penjaga harmoni dengan ilmu jenakanya, tidak luput dengan dari perpecahan.

Lewat gagasan ini, Butet menggambarkan kondisi di masyarakat saat ini, dengan orang-orang berkapasitas layaknya punakawan mudah “di-unfriend dan meng-unfriend” hanya karena perbedaan orientasi politik.

Baca juga Rindu Dendam Edwin

Cara mengkritik kondisi sosial politik pada karya seni rupa Butet mirip dengan cara yang dilakukannya pada karya-karya seni pertunjukannya. Wicaksono Adi, sang kurator pameran, menyebut formulasi ini sebagai pasemon. Istilah pasemon yang berasal dari bahasa Jawa ini merupakan sebuah formulasi simbolik untuk mengungkapkan sesuatu dengan metafora, sindiran halus, atau ungkapan tidak langsung, sehingga pandangan setajam atau sepedas apapun dapat diterima dengan enteng dan gembira.

Konsistensi cara Butet dalam mengartikulasikan perspektifnya terhadap peristiwa dan masalah menurutnya sendiri berangkat dari budaya guyon parikeno yang jamak dipakai dalam kultur wayang, ketoprak, dan pertunjukan teaternya. Budaya ini, baginya menjadi menjadi upaya kritik—untuk mencubit orang tanpa membikin sakit.

Di samping lempeng keramik, sejumlah patung juga tidak luput dari sasaran lukisnya. Celeng yang dicetak dengan molding gaya Majapahit, misalnya, dibuat menjadi medium kritiknya yang jenaka. Di antaranya yakni celeng yang dilukis berbulu zebra, untuk menyoal bagaimana kejahatan lihai menyembunyikan dirinya.

Salah satu patung celeng karya Butet yang dilukis berbulu zebra
Salah satu patung celeng karya Butet yang dilukis berbulu zebra (Foto: Dok. Butet Kartaredjasa)

Ada pula celeng yang berbulu loreng hijau, dan ada pula celeng berlukis pohon beringin di bagian pantatnya. “Ini cara saya menyindir, yang biasanya hadir di atas panggung, kini hadir secara seni rupa.  Bercanda secara visual,” ujar Butet.

Beberapa di antara celeng juga terlihat berkaki emas. Kaki-kaki celeng keramik itu dicelup Butet dengan emas cair 12 karat yang dibelinya dari Jepang. Eksplorasi sambil bermain-main ini jadi “tidak main-main” karena prosesnya berspekulasi dengan hasil pembakaran memakan ongkos puluhan juta untuk satu celeng.

Setelah lempengan “kanvas” dan patung, Butet juga menyasar piring-piring keramik untuk diusili kuas. Piring-piring berdiameter sekitar 70 cm itu ditambahkannya gambar dan teks, lalu dijadikan elemen dari daun pintu yang dapat berfungsi utuh. Pada karya “Otak Terkilir”, Butet merekam momentum pilkada DKI Jakarta yang carut marut karena orang-orang yang baginya mengalami sesat pikir.

Baca juga Mengaburnya Ingatan

Di atas piring itu, Butet turut menggambar tokoh-tokoh yang dikaguminya, seperti Bung Karno, Gusdur, dan Presiden Jokowi. Di piring bergambar Bung Karno, ia  membenturkan isu ancaman disintegrasi yang kembali panas di tahun ini dengan sosok sang proklamator yang kerap menyerukan semangat anti perpecahan.

Aspek religius pun hadir dalam sejumlah karyanya. Yesus, salah satunya, muncul dalam visualisasi lebih abstrak di atas lempengan dan piring. Elemen ini lalu di tata di sebuah ruang yang mirip bilik pengakuan dosa. Salah satu gambar bertuliskan kata “dijual murah”. Karya ini bagi Butet menjadi sindiran terhadap gejala komodifikasi agama yang semakin meluas, di mana agama menjadi lahan bisnis dan komoditas politik dan hukum, hingga diobral habis-habisan.

Sosok Yesus dalam karya Butet Kartaredjasa
Sosok Yesus dalam karya Butet Kartaredjasa (Foto: Dok. Butet Kartaredjasa)

Proses elaborasi dengan keramik bagi Butet menjadi tahap awalnya untuk kembali berseni rupa.  Niatan awal untuk iseng menyelami kesenangan bermain akhirnya menelurkan banyak karya yang kemudian dipamerkan akhir pekan ini.

Baca juga Wayang-wayang Zaman Now…

Pameran ini, baginya juga sebagai ajang menguji pencapaiannya untuk mampu mengartikulasikan pemikirannya dan mampu diterima lewat jalan seni rupa. “Jadi di seni rupa ini saya memang mengaku sebagai pemula saja deh, meskipun saya punya riwayat lain di seni lain. Dalam konteks wacana, saya newcomer. Saya cuma ingin menemukan kegembiraan, kesenangan bermain dengan rupa,” ujarnya. Dan hasil kesenangan bermainnya dapat dinikmati di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Kamis (30/11) pukul 19.00 WIB.