Made Wianta (duduk) bersama istri dan anaknya dengan latar "Dancing With The Caligraphy", acrylic and oil on canvas 2,5 x 4,5 m, 2015 (Foto: Ester Pandiangan)

Walaupun bertajuk Run For Manhattan, pameran tunggal seniman Made Wianta yang digelar di Ciptadana Art Space, Plaza Asia Office Park Unit 2 Jakarta (24 November – 8 Desember 2017) ini tidak hanya memuat karya-karya Wianta yang bertemakan Run dan Manhattan tetapi juga kumpulan terbaik dari karya-karyanya di beberapa periode.

Selama puluhan tahun berkarya, Wianta telah melewati beberapa periode pengkaryaan. Mulai dari periode Karangasem, Titik, Segi Empat, Segi Tiga, Perakitan, Kaligrafi, Kalender dan Media Campuran.

Pada pamerannya kali ini ada 43 karya yang dipamerkan dan mengisi ruang-ruang di Ciptadana. Menikmati karya-karya Wianta tidak hanya membawa kita pada rekaman jejak-jejak perjalanan lukisannya saja melainkan juga pemaknaan dan pergulatan spiritual di dalamnya. “Beberapa atribut dari diri saya pada akhirnya akan tetap berbentuk lukisan atau karya seni yang akan berdialog dengan orang lain,” kata Made Wianta.

Baca juga Ketika Sumatera Pamer Seni

Pada pembukaannya semalam, Kamis (23/11), Emmo Italiaander sebagai kurator menceritakan pengalamannya mengurasi karya-karya Made Wianta. Menurutnya, butuh lebih kurang tiga bulan untuk memilah-milih karya-karya terbaik sang seniman.

Prosesnya cukup panjang, mulai dari membawa karya-karya tersebut dari Bali kemudian ke Yogyakarta untuk dipasang bingkai dan pengemasannya. Bahkan, ada sebagian karya yang harus dipotong baru kemudian dipasang ulang begitu sampai di Jakarta. Pengerjaan yang panjang dan detail membuat Emmo berdialog secara intens dengan karya-karya Wianta.

Buatnya pribadi, Wianta tidak hanya memindahkan visual tetapi juga “jiwanya” ke dalam kanvas. Latar belakang kehidupan sang seniman yang dekat dengan lingkungan pendeta Hindu dan pengalaman menjelajah ke tempat-tempat baru membuat lukisan-lukisannya berbahasa universal.

Sebagai seniman yang sangat ekspresif dalam proses pembuatan karyanya, Wianta kerap menari seolah trance saat menyapukan kanvas, membuat warna-warna bergejolak secara harmonis.

“City of Destruction”, oil, wood and glass, 236 x 350 x 18 cm, 1997 (Foto: Ester Pandiangan)

Coba saja lihat karya The Poem Calligraphy yang sangat berbahasa sekali. Goresan huruf-huruf yang hanya “jiwa” saja yang mampu menerjemahkan dan hati yang merasakan. Demikian juga Dancing With The Calligraphy yang kesannya acak namun ternyata runut dengan gerakan selaras tapi juga tidak terduga. Hentakan irama, komposisi warna dan perkawinan kesemuanya yang menyampaikan tarian kepada yang melihat.

Baca juga Cermin-cermin Puri Fidhini

Hampir semua karyanya ditemukan pengulangan periode-periode sebelumnya. Tidak jarang dia menggabungkan dua atau tiga periode bersamaan. Pada satu karya bisa ditemukan titik-titik dan segitiga ataupun komposisi berbeda lainnya.

Ini menunjukkan kalau Wianta tidak pernah meninggalkan periode-periode sebelumnya. Terkadang suatu masa bisa saja dia kembali ke periode Karangasem, bercengkerama dengan nilai-nilai luhur tradisional tempat asalnya atau melompat balik ke Media Campuran dengan membawa sedikit “ruh” Karangasem.

Tidak ada pakem khusus buat Wianta dalam berkarya. Dia hanya membahasakan apa yang jiwanya gerakkan yang tanpa sengaja menempatkan pengalaman spiritualnya pada ruang-ruang karyanya. Sentuhan inilah yang membuat karya-karyanya tidak bisa ‘dipegang’ melainkan hanya bisa dirasakan. penutup_small