lukisan Carlos Martinez Trujillo, karya Carlos Martinez Trujillo, pameran Sijil
Luna Negra, mixed technique, collage, 28x37, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

Trujillo menggunakan simbol-simbol kaligrafi untuk menuangkan ide spiritual meski pada awalnya dua hal tersebut tampak tak saling berkaitan.

Foto-foto (umumnya foto-foto tua) di satu dinding dia timpa tulisan tangan tebal-tebal berbahasa Spanyol dari tepi ke tepi. Fantasma Sin Ojos, Fantasma con Ojos, Porfiriato, juga Sin Familia. Satu karya, Siempre Somos Tres, malah berisi tiga foto yang masing-masing ditulisi, ditempelkan ke selembar kardus butut, kardusnya ditulisi juga. Ada luapan kemarahan dan kecewa di sana.

Meski ada di dinding yang sama, satu ini berbeda, Luna Negra (Bulan Hitam), karena bukan foto. Kolase ini menampilkan bulan bulat hitam di atas kaligafi bertumpuk-tumpuk, sarat, dan berlatar belakang warna cokelat tanah, mengentalkan rasa sedih dan khawatir.

Karya-karya seniman Meksiko  Carlos Martinez Trujillo itu dipamerkan di Kuntskring Paleis Gallery, Jakarta pada 14 – 19 Juli 2017 dalam tajuk “Sijil”. “Sijil”, yang diadakan Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia, adalah pameran pertama Trujillo di luar Meksiko, walau di negara asalnya dia sudah sering berpameran.

Sijil berarti kelahiran, diambil dari kata dalam bahasa Maya, kebudayaan yang sangat penting di Meksiko. Sengaja tema kelahiran dipilih karena inilah pameran pertama Trujillo di luar Meksiko yang diasosiasikan sebagai kelahiran. “Serta siapa pun yang melihat karya-karya saya semoga menemukan ‘kelahiran’ juga,” ujar Trujillo saat pembukaan pameran.

Carlos Martinez Trujillo. (Foto: Silvia Galikano)
Carlos Martinez Trujillo. (Foto: Silvia Galikano)

Duta Besar Meksiko Frederico Salas menyebut karya-karya Trujillo inovatif selain namanya bereputasi bagus di Meksiko.

“Kami ingin masyarakat dapat melihat seni Meksiko yang bukan seni tradisional, yang selalu dikaitkan dengan kaktus dan sombrero. Di Meksiko ada seni yang sangat modern dan original,” kata Salas.

Inspirasi Trujillo berasal dari banyak sumber, tapi semua memiliki satu kesamaan, yakni kisah-kisah transendental yang dapat ditemukan di hampir semua kebudayaan. Sebab itu titik awal koleksi ini adalah rangkaian kisah Sufi, parabel (parables), fabel, metafora, dan analogi yang perlahan-lahan bergeser ke koleksi yang bersinggungan dengan spiritual serta pelajaran tentang kehidupan.

“Sijil”, pameran karya seniman Meksiko Carlos Martinez Trujillo di Kuntskring Paleis Gallery, Jakarta pada 14 – 19 Juli 2017. (Foto: Silvia Galikano)

Ada satu dinding terdiri dari karya-karya berukuran kecil dengan media grafit di atas kertas. Seluruhannya memiliki satu tema, yakni ikan. Ikan utuh, ikan setengah badan, ikan bergerombol, mata ikan (harafiah, bukan kutil), mata-mata (sekali lagi harafiah, bukan spy) ikan. Judul tiap-tiap karya di dinding ini berawalan sama, ZenPez. Kata terakhirnyalah yang membedakan, seperti ZenPez NO, ZenPez 1-3, atau ZenPez Prueba.

Zen tak lain adalah filosofi zen (seimbang, kekosongan sempurna, fokus), sedangkan pez adalah ikan dalam bahasa Spanyol (bahasa yang digunakan di Meksiko).

“Ikan adalah hewan yang selalu ‘terjaga’ karena matanya selalu terbuka, bahkan saat sudah mati,” Trujillo menjelaskan. “Tidak heran jika ikan menjadi hewan penting yang ada dalam kisah-kisah filosofi dan mitologi di banyak negara. Ditemukan juga dalam sejarah sufi, India, Katolik, Buddha, hingga masa kini.”

Dinding tempat terpasangnya Luna Negra, menurut Trujillo, mewakili bagian tergelap dalam hidupnya. Bergerak berlawanan jarum jam, warna karya-karyanya makin terang, artinya lebih bahagia, walau tiap orang bisa saja punya tafsir sendiri yang berbeda. Seri ZenPez termasuk yang berwarna terang. Dan yang paling terang adalah seri Sin Titulo (Tanpa Judul) yang sapuannya minim di atas kertas putih.

“Kalau saya bepergian, saya pasang lukisan (yang terang) itu di kamar. Saya merasakan ruangan penuh dengan energi tersebut, ringan, damai, tenang.”

Siempre Somos Tres, mixed technique, collage, 50x40, 2017. (Foto: Silvia Galikano)
Siempre Somos Tres, mixed technique, collage, 50×40, 2017. (Foto: Silvia Galikano)

“Sijil” merupakan hasil eksperimentasi pribadi Trujillo selama bertahun-tahun, proses dalam mengeksplor persinggungan-persinggungan antara komunikasi, seni, dan emosi guna mengembangkan bahasa visual personalnya. Dia menggunakan simbol-simbol kaligrafi untuk menuangkan ide spiritual meski pada awalnya dua hal tersebut tampak tak saling berkaitan. Ide spiritual berdiri sendiri, estetika juga jalan sendiri. Puzzle-puzzle imajiner ini menantang sisi emosi dan membenamkan pengunjung dalam ketenangan yang kontemplatif.

“Kaligrafi” adalah istilah yang Trujillo gunakan untuk menyebut tulisan tangannya yang tebal-tebal dan besar-besar tadi, bukan seni menulis indah sebagaimana umum pahami.

“Sijil” menjadi interpretasi visual, juga material, yang saling bersimpangan dalam perjalanan menemukan kesejatian. Trujillo menemukan nilai spiritualitas di banyak agama, bahkan di mitologi dan sejenisnya, adalah sama belaka, yakni pentingnya saling menjaga, saling peduli, dan saling mengasihi. Lantas apakah agama memberi impact terhadap caranya berkarya?

“Tidak. Ketika punya masalah, di situlah peran agama bagi saya, bahwa saya harus bangkit. Kalau berkarya, ini spiritualitas, bukan agama.”

Artikel Makna Kelahiran dalam Karya Spiritual Trujillo dimuat di majalah SARASVATI edisi Agustus 2017.