PENGUNGSI, Widayat, 150x100. (Koleksi Albert Art Gallery)

Setelah vakum setahun, Albert Art Gallery akan mengadakan pameran lukisan pada 3 Desember 2016. Sejumlah 25 lukisan dari 25 seniman asal Yogyakarta, Bali, dan Jakarta akan dipamerkan dalam gelaran bertajuk “Cartography of Painting”, dikuratori Chabib Duto Hapsoro.

Tercatat seniman yang akan berpartisipasi, antara lain Aan Arief, Dwi Setya Acong, Agung Pekik, Budi Ubrux, Kun Adnyana, Laksmi Sitharesmi, Indra Dodi, dan Mai Erard.

Albert Art Gallery yang berlokasi di Alam Sutera, Tangerang Selatan adalah milik Wenti Fong, yang bersama suaminya, Mulyanto Lie, adalah sama-sama penikmat seni. Belum sampai sepuluh tahun terakhir Wenti mengoleksi lukisan yang hampir seluruhnya karya anak negeri.

“Belumlah kalau saya dibilang sebagai kolektor. Penikmat seni saja,” ujar Wenti saat dijumpai Sarasvati di Albert Art Gallery, Jumat 7 Oktober 2016.

Patung karya Didi Kasi, 2013. (Foto: Silvia Galikano)
Patung karya Didi Kasi, 2013. (Foto: Silvia Galikano)

Adalah Mulyanto Lie yang lebih dulu menyukai dan mengoleksi lukisan, sedangkan Wenti saat itu sekadar pendukung hobi suaminya. Namun lama kelamaan, Wenti mulai dapat menikmati lukisan, memperhatikan detail guratan, menangkap ekspresi, hingga dapat membentuk narasi sendiri.

“Kadang saya ‘masuk’ ke dalam lukisan untuk mengerti maknanya, sampai merinding. Sebetulnya, semua orang bisa mencintai lukisan, kalau mau.”

Dari sanalah perempuan kelahiran Sungailiat, Bangka, 10 Februari 1969 ini mulai rajin mendatangi pameran lukisan di dalam dan luar negeri. Setiap perjalanan ke luar negeri disempatkannya juga mengunjungi museum dan galeri seni.

Mereka pun kerap mengadakan perjalanan ke Yogyakarta dan Bali. Hubungan yang baik dengan para seniman di dua tempat itu memudahkan mereka mendapatkan karya yang diinginkan, meski khusus untuk lukisan tradisional Bali yang demikian rumit, mesti sabar menunggu karena prosesnya lumayan lama.

“Kami sering ke tempat Butet Kartaredjasa di Yogyakarta, ngumpul dengan para pelukis,” kata Wenti.

Wenti Fong. (Foto: Silvia Galikano)
Wenti Fong. (Foto: Silvia Galikano)

Setelah mengoleksi lukisan semata-mata untuk dipajang di rumah, Wenti dan Mulyanto akhirnya memutuskan untuk membuka galeri lukis di Alam Sutera. Pasangan ini membeli ruko tiga lantai di Jalur Sutera Kavling 16A no 7, Alam Sutera, Tangerang Selatan.

Soft-launching pada 2013 diikuti grand-launching yang diadakan setahun kemudian. Butet Kartaredjasa yang meresmikan.

Nama “Albert” pun dipilih, mengambil nama anak bungsu mereka (sekarang berusia 19 tahun), selain Wenti menyukai nama tersebut. “Setelah saya googling, nama Albert Gallery ternyata banyak dipakai di luar negeri, tapi di sini belum ada.”

Pertimbangan membuat galeri seni di Alam Sutera tak lain karena Wenti melihat kawasan ini berpotensi sebagai sentra seni baru. Terbukti dengan adanya sejumlah galeri seni yang perkembangannya positif, seperti Andrew Gallery, Tari Gallery, serta galeri-galeri kecil lainnya.

“Sekarang ini pusat seni Jakarta terkotak di Kemang. Saya ingin Alam Sutera bisa menjadi pusat seni juga.”

Albert Art Gallery di Alam Sutera, Tangerang Selatan. (Foto: Silvia Galikano)
Albert Art Gallery di Alam Sutera, Tangerang Selatan. (Foto: Silvia Galikano)

Albert Art Gallery yang terdiri tiga lantai, memanfaat lantai 1 dan 2 sebagai area pajang 30-an lukisan, sedangkan lantai 3 sengaja dikosongkan untuk kegiatan seni lainnya, seperti workshop. Lukisan-lukisan itu diganti tiap tiga bulan.

Ada misi yang Wenti usung lewat galerinya, yakni menjadikan harga lukisan karya seniman dalam negeri sama bagusnya dengan karya seniman luar negeri. Karena “apresiasi” yang diagungkan itu pada akhirnya menemui wujud konkrit dalam bentuk harga.

“Kualitas lukisan seniman kita sama bagusnya. Saya yakin, kalau di-support bersama-sama, keinginan itu bukan angan-angan kosong,” kata Wenti.

Setelah grand-launching diikuti pameran perdana pada 2014, Albert Art Gallery sempat vakum sejak 2015 sebab belum ada orang yang secara tetap mengurus galeri.

Rencana membuat pameran pada 2015 pun terpaksa ditunda hingga tahun ini, ketika semua siap, dan “Cartography of Painting” diharapkan menjadi awal baru.