Jimmy Manus, "Red for Fighting". (Foto: Wahyudin)

Dengan itu, ia beroleh kasunyatan untuk terus melukis meskipun hasilnya hanya berupa objek artistik yang berpotensi menjadi karya seni lukis di studionya sendiri.

Saya mengenal Johanis Saul untuk pertama kalinya pada sekitar 2005 ketika ia studi di Program Pascasarjana ISI Yogyakarta. Mengenal perupa dan dosen seni rupa di Universitas Negeri Manado itu memungkinkan saya mempertautkan diri dengan cerita dan peristiwa serta sosok dan pokok seni rupa di Sulawesi Utara, khususnya di Manado—kota saya lahir dan menghabiskan masa balita hingga remaja.

Pada 24 Juli—setelah hampir satu dasawarsa tak bersua—saya bertandang ke rumahnya di sebuah sudut kampung Malalayang, Manado. Ada yang membahagiakan, ada yang menyedihkan tatkala baku bicara dengannya tentang seni rupa (wan) di Manado.

Di ibukota provinsi Sulawesi Utara itu—dengan jumlah penduduk 430.790 jiwa berdasar sensus 2014—hanya ada lebih-kurang 60 perupa. Empat di antaranya diperkenalkan Johanis kepada saya dalam sebuah percakapan malam 24 Juli itu di sebuah restoran pinggir laut Malalayang. Mereka adalah Hendrik Mamahit, Jimmy Manus, Melky Runtu, dan Yapi Pontolurang.

Bertemu mereka laksana reuni kecil yang menggairahkan di antara optimisme tragis dan pesimisme melankolis yang bertukar tangkap dengan lepas.

Hendrik Mamahit adalah sosok berida yang merefleksikan dengan bagus optimisme tragis seniman di kota yang bersolek tiada henti dengan gedung-gedung pusat perbelanjaan aneka rupa itu di antara deru campur debu ratusan angkutan kota yang merayap di jalan-jalan yang sempit.

Pada umurnya yang ke-70 kini, Hendrik sudah lebih-kurang lima dasawarsa bertungkus lumus di dunia seni rupa—utamanya seni lukis—tanpa pernah merasa putus asa atau surut daya cipta meski harus menghadapi situasi yang mendesaknya untuk mengakui bahwa keberadaannya di kota yang lebih menghargai laba ketimbang karya itu tak ubahnya “legal alien” yang tak perlu dicatat, apalagi diberi tempat.

Apa boleh buat, menurutnya, kesenian dan kesenimanan itu memang dekat dengan kegilaan—kalau bukan sejenis kegilaan—yang membuat penghayatnya terpandang aneh di mata masyarakat yang terbiasa hidup dalam keawaman akan lukisan, patung, dan karya seni rupa lainnya. Alih-alih, menganggap itu semua sebagai sekadar buah keisengan waktu senggang orang-orang eksentrik.

Daseng Art Center Manado. (Dok. Wahyudin)
Daseng Art Center Manado. (Dok. Wahyudin)

Tapi justru sebab itulah yang membikinnya percaya penuh seluruh bahwa berseni rupa adalah semacam “panggilan” ketimbang “profesi”. Dengan itu, ia beroleh kasunyatan untuk terus melukis meskipun hasilnya hanya berupa objek artistik yang berpotensi menjadi karya seni lukis di studionya sendiri—bukan karya seni lukis sebagai produksi artistik seorang seniman yang terapresiasi publik di galeri atau ruang pergelaran seni rupa.

Celakanya, apa yang disebut sebagai galeri, ruang seni rupa, atau tempat pameran karya seni rupa—baik kepunyaan swasta maupun pemerintah—hampir-hampir tak ada di Manado. Kecuali ruang pameran Taman Budaya Manado yang tak sepenuhnya bisa diandalkan—para perupa lebih banyak memanfaatkan dinding-dinding hotel atau pusat perbelanjaan untuk berpameran.

Kenyataan itulah yang meluncurkan pesimisme melankolis dari lidah Yapi Pontolurang. “Torang nyanda dihargai di sini—kami tak dihargai di sini,” kata Yapi.

Perupa berdarah Toraja itu meneruskan kata-katanya tersebut kepada situasi dan kondisi ekonomi-politik seniman di Manado. Selama satu dasawarsa terakhir, kembang-kempisnya kantong seniman di sana bergantung pada nasib mujur bahkan janji manis pejabat pemerintahan daerah, politikus lokal, dan sedikit budi baik orang berduit setempat.

Itu artinya, pasar seni rupa bukanlah forum ekonomi atau lembaga transaksi yang meyakinkan di sana. Anehnya, perkembangan estetis dan pencapaian artistik seorang atau sekelompok perupa di Manado begitu tergantung pada selera pembutuh lokal.

Untuk menggarisbawahi yang aneh tersebut, Jimmy Manus mengabarkan kepada saya malam itu soal pameran karya seni lukis abstrak sejumlah perupa Manado yang tengah berlangsung di sebuah hotel di sana.

Pada titik itu, ikhtiar kreatif Jimmy, Hendrik, Yapi, Melky, dan Johanis untuk “bertahan” dengan lukisan-lukisan mereka yang berkecenderungan artistik pada realisme, impresionisme, dan ekspresionisme justru terpandang aneh seturut pandang dan selera pasar mutakhir atau pembutuh karya seni lukis kekinian di sana.

Namun demikian, ada sebuah keanehan yang lain lagi yang pernah berlangsung di dunia seni rupa Manado: “Pameran Besar Seni Rupa 4-2016”. Pameran yang mendaku sebagai perhelatan “100 karya perupa terbaik dari 34 provinsi di Indonesia” itu diampu oleh kurator Rikrik Kusmara dari Bandung dengan dana entah berapa ratus juta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pameran yang dihelat di Taman Budaya Manado selama “hanya” tiga hari itu merupakan tamparan “estetis” ke muka penghayat seni rupa Sulawesi Utara yang (ternyata) tak siap menyelenggarakan pameran berskala nasional. Betapa tidak, seturut Johanis, Taman Budaya Manado yang “lahir dan batin”-nya centang-perenang itu bukanlah tempat yang representatif untuk perhelatan seni rupa yang “baik dan benar”.

Yapi Pontolurang,
Yapi Pontolurang, “Tari Lenso”. (Foto: Wahyudin)

Maka, sekalipun perupa peserta pameran itu diinapkan di sejumlah hotel mewah dengan uang saku yang lumayan, karya-karya mereka harus menanggung derita oleh ancaman hujan dan lumpur yang dibawa masuk oleh kaki-kaki pemirsa dan pencahayaan yang suram-buram di Taman Budaya Manado. Ajaibnya, seperti ditengarai Eirene Ganap, di tengah situasi yang mengenaskan semacam itu, ada perilaku yang sungguh-sungguh aneh di kalangan perupa Manado belakangan ini—yaitu mendaku diri sebagai “maestro”.

Eirene adalah keponakan Johanis dan seorang perupa muda lulusan ISI Yogyakarta. Pengalamannya belajar dan bergaul di dunia seni rupa Yogyakarta menjelaskan kepada saya pemahaman kritisnya atas perilaku aneh sejumlah perupa Manado yang mendaku “maestro”.

Eirene hadir bersama David Ganap, adiknya yang mahasiswa ISI Yogyakarta, dalam perbincangan malam itu. Eirene dan David harus dikatakan merupakan buah baik dari ikhtiar kreatif Johanis untuk melahirkan perupa-perupa muda berkualitas—setidaknya generasi muda berbudi luhur lagi mencintai seni rupa—di Manado lewat Daseng Art Center dan Rumah Pintar Manado.

Ikhtiar kreatif yang mulia itu dilakoninya selama lebih dari satu dasawarsa terakhir dengan gembira meski sunyi dari publikasi di antara kewajibannya mengajar di program studi seni rupa Universitas Negeri Manado di Tondano. Atas ikhtiar kreatif Johanis itu—pun segala kerelaan Hendrik, Jimmy, Melky, dan Yapi—betapapun tak mungkin diringkus-rampung menjadi sebuah pengertian tentang seni rupa (wan) Manado saat ini—di ujung percakapan malam itu saya tak bisa berpaling dari kata-kata novelis Yan Martel ini:

“Kalau kita, warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apa pun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti.”

Artikel “Torang Nyanda Dihargai di Sini….” dimuat di majalah SARASVATI edisi September 2017.