Singgih S. Kartono. (Foto: Istimewa)

Dengan label “high maintenance”, lahirlah hubungan yang lebih intim antara konsumen dan produk Magno, yakni manusia menjadi lebih perhatian dan menghargai benda yang  ia miliki.

Dari membuat bingkai kayu untuk kaca pembesar lipat, perjalanan Singgih S. Kartono mendapat pengakuan luas bersama radio kayu Magno kreasinya. Radio kayu yang sudah laku terjual di berbagai negara ini punya ciri khas desain sederhana tetapi berkenang (timeless design). Singgih dan Magno mendapat  penghargaan mancanegara, di antaranya Good Design 2008 (Japan), Grand Award Design for Asia Award 2009 (Hong Kong), dan Product of the Year 2009 (Design Museum, London).

Di balik desain yang sederhana, gagasan yang Singgih angkat dapat dibilang cukup kompleks. Contohnya, alasannya menggunakan kayu sebagai materi utama produknya. “Selain (kayu adalah) material yang dekat dengan kita, kayu juga memiliki ekspresi yang hangat,” ujar pria lulusan FSRD Desain Produk ITB ini.

 

Spedagi, sepeda bambu karya Singgih S. Kartono. (Foto: Dewi Ria Utari)
Spedagi, sepeda bambu karya Singgih S. Kartono. (Foto: Dewi Ria Utari)

Dari sudut pandang konsumen, mungkin kita mempermasalahkan pemeliharaan benda dari kayu yang agak merepotkan. Lebih lagi, Magno sengaja tak diberi lapisan pelindung atau varnish. “Perlindungan yang terbaik adalah dari orang yang menggunakannya,” jelas Singgih.

Dari sini dapat kita lihat, justru dengan label “high maintenance”, lahirlah hubungan yang lebih intim antara konsumen dan produk Magno, yakni manusia menjadi lebih perhatian dan menghargai benda yang  ia miliki. Hal ini juga didukung dengan absennya beberapa faktor dari produk tersebut, contohnya adalah lambang on/off di produk radio, yang secara tidak langsung memaksa konsumen untuk mengingat cara mengoperasikan radio tersebut. “Manusia itu punya kemampuan untuk menemukan sesuatu dengan sendirinya,” ujar Singgih.

 

Ulasan lengkap Singgih, Kreator Radio Kayu yang Mendunia dapat dibaca di majalah SARASVATI edisi Desember 2016