Baboy Diablo, 2014
Pameran
Pameran “TRANS-FORM #2” di Jogja Contemporary (Photo: Facebook Jogja Contemporary)

Sebagai seniman yang kini tinggal di Filipina, Agus Kama Loedin merasa perlu untuk menyapa kembali pecinta seni Indonesia lewat karya-karya terbaru yang ditampilkan di pameran “TRANS-FORMS #2”. Kali ini, seniman yang dikenal lewat eksplorasi medium kawat tersebut berkesempatan memamerkan karya dua dan tiga dimensinya di Jogja Contemporary yang terletak di kawasan Jogja National Museum pada 17 Oktober – 4 November 2016. Ini bukanlah kali pertama bagi Agus untuk berpameran di Yogyakarta. Sebelumnya di tahun 2011, karya-karya Agus mengisi ruang pamer Sangkring Art Space dalam pameran bertajuk “Pusaran Eksplorasi #2”.

Lewat tulisan pengantar dari Pius Sigit, dijelaskan bagaimana relasi yang terbentuk antara sang perupa dan medium kawat yang digunakannya. Jika pada pameran sebelumnya ia telah menunjukkan usahanya untuk mengenal dan mengelola kawat, maka pada pameran kali ini Agus ingin menunjukkan bagaimana kawat mengelola dirinya.

Medium kawat bagi seniman yang lahir di Surabaya ini, dianggap memiliki kesulitan tersendiri. Proses tersulit yang harus dikerjakan adalah membuat struktur bentuk, karena membutuhkan tenaga ekstra dalam menangani kerasnya logam. Seringkali, bentuk rangka yang diinginkan harus terhalang atau tak sesuai karena logam yang keras tidak selalu mudah untuk diolah.

Sedangkan tugas lain yang tak kalah rumit adalah membuat sambungan kawat tanpa membuatnya terlihat. Malahan, pekerjaan menganyam yang tampak rumit merupakan tugas yang dianggap paling sederhana, yang dibutuhkan adalah ketekunan dan kesabaran sang perupa.

Cuma Cumi, 2013
Cuma Cumi, 2013

Kerasnya kawat dan logam, tidak menghalangi semangat Agus Kama Loedin untuk berkarya. Sebaliknya, semakin ditekuni sang perupa lewat tema perubahan alam yang diangkat di pameran “TRANS-FORM #2”. Tema ini berbicara tentang segala transformasi yang terjadi di alam semesta, yang tentu diikuti oleh perubahan organisme yang tinggal di dalamnya. Sehingga kita bisa melihat bagaimana Agus menuangkan bentuk yang tak lazim dan imajiner, menciptakan rupa baru dari tampilan fisik organisme.

Pada karya Kerang Kobra misalnya, Agus merekonstruksi bentuk kerang layaknya seekor kobra yang berada dalam posisi siaga. Atau pada Kebo Geger Lintang, yang tampak memadukan bentuk kerbau dan ikan hiu. Kadang kita bisa mengenali bentuk-bentuk makhluk yang ia campurkan, kadang juga tidak. Tergantung sejauh mana imajinasi seniman kelahiran 1962 ini merupa bentuk organisme dengan identitas yang baru. Meski sesungguhnya kita masih menantikan eksplorasi Agus Kama Loedin yang lain, supaya tidak melulu mengolah kawat, namun berekspansi ke medium lain yang lebih menantang.