Dadi Setyadi, "Black Venus", 190x150cm. (Foto: Istimewa)

Seniman domisili Yogyakarta, Dadi Setiyadi, memamerkan lukisan tentang kekayaan Indonesia yang selalu diburu penjajah.

 

Dikenal lewat karya bertemakan tradisi dan budaya, perupa Dadi Setiyadi berkesempatan menghelat pameran tunggal di Polandia. Bertajuk “Harta Karun Kolonial”, perupa kelahiran 21 Oktober 1977 ini memamerkan delapan karya lukis tentang kekayaan Indonesia yang begitu memiliki daya tarik di mata penjajah. Pameran tunggal ini digelar pada 21 Januari – 10 Februari 2017 di Fundacja Razem Pamoja, Warsawa, Polandia.

Berbekal koneksi yang luas dengan seniman mancanegara, kesempatan berpamer kali ini adalah hasil pertemuan Dadi dengan seniman Polandia. “Pernah ada seniman Polandia yang ke Indonesia, ke studio saya, dan tertarik (pada) karya-karya saya. Setelah lewat tiga tahun, dia balik Jogja lagi dan bilang ada galeri yang bisa memamerkan karya saya”, jelas Dadi.

 

Dadi Setyadi,
Dadi Setyadi, “The Beauty Cross #2”, acrylic on canvas, 60x60cm, 2017. (Foto: Istimewa)

Menurut Dadi, tema tentang Tanah Air adalah hal yang paling tepat untuk dibawa kepada khalayak luar negeri. Maka, begitu kesempatan untuk berpameran tunggal di Polandia hadir di depan mata, Dadi tak menyia-nyiakan peluang untuk memperkenalkan Indonesia lewat buah karyanya.

“Yang paling pas aku bawa kan berupa koneksi Indonesia dengan dunia luar. Tarik benang ke belakang, kenapa Asia Tenggara, khususnya Indonesia, menjadi target wilayah kolonial? Itu salah satunya karena kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, termasuk hasil bumi dan lain-lain. Contoh konkritnya, rempah-rempah yang pada saat itu nilainya hampir sebanding dengan emas, mereka banyak ambil di Indonesia. Karena katanya punya kualitas yang lebih baik dari yang mereka ambil di India”, papar seniman lewat pesan singkat.

 

Ulasan lengkap Visualisasi Negeri Koloni Diboyong ke Polandia dapat dibaca di majalah SARASVATI edisi Februari 2017